Kau Mengatur Takdirku Sangat Indah

Kau Mengatur Takdirku Sangat Indah
terkejut


__ADS_3

Tiga hari sudah Malik membawa tasbih itu ke masjid


Tapi pemiliknya tidak kelihatan selama tiga hari itu,dan selama tiga hari itu juga Aliya tidak pernah absen di meja makan,waktu makan malam


Sepertinya dia mulai betah di rumah


"Hi,,,kenapa bengong?apa memikirkan sesuatu?"(Aliya)


Malik hanya menggeleng


Pikirannya masih tertuju pada sang pemilik tasbih


"Ayo di makan nanti keburu dingin"


Tuan dan nyonya hanya tersenyum melihat putrinya kembali banyak bicara


Dan irawanpun tidak banyak bertanya kenapa aliya kini selalu pulang lebih awal


Dia hanya bersyukur,kini berangsur angsur putrinya kembali seperti dulu


Makan malam selesai mereka kembali ke kamar masing masing.


Malik berbaring menatap langit langit kamarnya,dengan tasbih yang masih di tangannya"kau jauh dari sini,tapi aku dan seluruh jiwaku selalu mengingat mu,caramu berbicara' aku selalu ingin bertemu denganmu


Tapi entahlah apa kau juga sepertiku,???


Apa kau juga menantikan ku selama ini?


Apa penantian panjangmu untukku?


Kau begitu sempurna,sampai aku tak bisa melupakanmu kecuali dalam tidur dan shalatku,bahkan dalam tidurpun kau masih juga menghantuiku,,,,ya robb! Kau yang maha mengatur segala yang ada di langit dan di bumi,aku pasrah dengan keputusanmu!"(Malik)


Nada whatsap membubarkan kesunyian Malik dia membukanya


"Apa sudah tidur?"


Melihat profilnya ternyata Aliya ,


"Tau dari mana nomorku,padahal selama ini tidak pernah menghubungiku?"


" Mon maap ya,,aku tadi pinjam hpmu tanpa ijin darimu"


"Santai saja"


" Ini pacarku"


Memberi penjelasan di bawah gambar romantis yang dia kirimkan,,tampak seseoran mencium pipi Aliya


"Astagfirullah" ucapnya tidak sengaja


" Bagaimana ok kan?" Lanjut Aliya mengirim pesan


"Ya"


,"Kapan kapan aku ajak kesini kalau penasaran"


"Siapa juga yang penasaran"ucap Malik dalam hati


"Kenapa tidak membala?",


"Harus membalas apa?"(Malik)


"Apa jangan jangan kamu cemburu ya?""


" Malik mengirim stiker emoji yang kelihatan giginya


"Kalau belom mengantuk kita ngobrol di luar"


Lanjut chat Aliya


"Aku mengantuk"


Memberi alasan takut terlalu lama berdekat dekatan dengan yang bukan halalnya itu tanpa ada orang lain yang menemani


"Tidurlah dan good nigh!"


"Terima kasih"


Chat selesai.


Semua ruang sudah gelap,begitupun dengan


Kamar Adiba cuma tinggal cahaya lampu tidur yang berpendar,malam semakin sunyi ,hanya nyanyian jangkrik dan sesekali


Suara burung hantu menyelingi,menambah sunyinya hati Adiba yang bergelut dengan tanda tanya besar di hatinya,,


Pikirannya tertuju pada sosok yang gagah nan bersahaja ,"Malik,,," suaranya lirih


"Seandainya kau benar benar tercipta untukku


Tuntaslah penantian ku untukmu,jika tidak entahlah apa yang akan terjadi padaku?"

__ADS_1


Dia meremas gulingnya membayangkan jika seandainya takdir tidak berpihak padanya


"Aku menginginkan kau jadi imamku,begitu sempurnanya dirimu,sehingga aku tidak pernah bisa menghapusmu dari ingatanku"(Adiba)


Setelah makan malam selesai pak Irawan meminta semua anggota berkumpul di ruang keluarga,sepertinya ada hal yang sangat penting yang akan di bahas,setelah semua berkumpul pak Irawan memulai pembicaraannya


"Malik" pak Irawan membuka obrolannya


Aliya masih tetap saja fokus pada hpnya


"Iya tuan"


"Saya minta tolong boleh?"


Hesti hanya tersenyum tidak menyela


Sementara Aliya tetap dengan telpon genggamnya,


"Kenapa masih ijin tuan,selama ini tuan sudah lebih dari cukup memenuhi kebutuhan hidup saya,bagaimana saya bisa tidak dengan apapun yang tuan inginkan"


"Saya merasa saya butuh istirahat,"


"Apa tuan tidak enak badan,katakan saja jika membutuhkan sesuatu"Malik menjawab sebisanya,karna memang benar benar tidak mengerti apa yang di maksud pak Irawan


"Jadi saya ingin menyerahkan semua urusan perusahaan padamu"(sambil menyodorkan berkas)


Tangan Aliya seketika berhenti dengan kesibukannnya,karna terkejut,begitupun dengan Malik badannya langsung panas dingin


"Apa?" Ucap mereka bersamaan


Lain halnya dengan Hesti yang tetap tenang


"Kenapa apa kalian keberatan?"(tuan Irawan)


" Tidak,untuk apa keberatan,lagian aku tidak begitu minat jika harus seharian duduk duduk ,itu memang cocok buat Malik yang memang hobinya pegang laptop dan pena,"ucapnya ringan,seperti tidak takut sama sekali kalau harta orang tuanya akan di rampas Malik


"Tapi tuan?"


"Tapi apa,apa kau keberatan membantuku?"


"Tidak tuan ,bukan begitu,saya hanya takut tidak mampu menghandle tuan,dan kenapa tuan begitu percaya kepada saya,apa tidak takut saya mengkhianati tuan?"


"Omong kosong apa ini,apa kau tega mengkhianati saya ?"


"Tidak tuan ,tidak akan ada yang bisa mengkhianati orang baik seperti tuan,itu hanya alasan saya saja"ucap Malik dalam hati


"Aku memberikan semua ini padamu karna aku yakin kau tidak akan mengkhianatiku,jadi aku tidak ingin dengar alasanmu,pakaian kerjamu sudah di sediakaan di lemarimu oleh pak Mus,jadi mulailah kekantor besok"


"Mulailah kekantor besok pak bos,"


Malam semakin larut ,alam pun semakin sunyi,Malik teringat sosok yang lembut dan selalu tersenyum dalam keadaan sesulit apapun,dialah ibunya,"ibu seandainya ibu masih ada pasti ibu sekarang akan sangat bahagia,betapa agungny jiwa yang kau wasiati Bu,"


Matahari sudah keluar dari persembunyiannya,warna warni alam pun mulai kelihatan,ada rasa khawatir ,takut,campur bahagia,karna dia masih belom percaya bahwa dia seorang bos besar sekarang,seorang presiden direktur di perusahaan yang brandnya


Sudah tumpah di mana mana,


Dia masih berdiri di depan kaca ruang gantinya,seakan seoarang gadis dia berputar sampai beberapa kali seakan mengagumi sosoknya sendiri"ternyata pakain ini sangat mendukung tubuhku"Sambil menggeser geser dasinya yang menempel di kerah kemejanyA yang berwarna maroon,dilengkapi dengan Jaz hitam dan celana hitam,


"Den...." Panggil pak Mus sambil mengetuk pintu


Malik bergegas membuka pintu


"Iya pak mus'


"Wah wah wah ternyata aden cocok banget dengan setelan ini"(mengeleng geleng kepala)


"Aden sangat tampan"


"Ah pak Mus bisa saja'


"Ayo den sudah di tunggu di ruang maka n"


Tanpa menjawab Malik menuju ruang makan dengan di ikuti pak Mus,sesampainya di sana


Para penghuni ruang makan pada terperangah melihat Malik,lebih lebih Aliya,


"Wah wah wah pak bos sudah siap"ucap Aliya cengingisan


"Duduklah dan habiskan sarapnmu"(Irawan)


Malik duduk dan menyantap roti bakar isi yang sudah di sediakan pak Mus


Setelah makan lagi lagi Malik di kejutkan oleh bapak Irawan "ini" menyodorkan kunci mobil


"Ini hakmu sekarang,bawalah kemanapun kau mau,selagi tidak mengganggu pekerjaanmu"


"Tapi tuan ini sudah berlebihan,saya bisa pakai yang sudah ada"


Tanpa mau mendengar alasan Malik pak Irawan menyodorkannya ke tangan Malik


"Ya Allah nikmat apa lagi yang kau berikan lewat ahli syurga ini" seru Malik dalam hati

__ADS_1


Aliya pun berpamitan mau ke lokasi. Shooting seperti biasa ,Malik juga demikian berpamitan


Mau berangkat


Sesampainya di kantor anggap saja namanya " golden star group" nama perusahaannya, para pekerja dan staff staff


Memberi salam dan hormat sepertinya sudah tau kalau dia sudah jadi pengganti Irawan,


Dia hanya memberi senyum dan terus menuju ruangannya yang sudah di jelaskan pak Irawan tadi malam


Lagi lagi dia di kejutkan dengan kemewahan ruangannya ,lengkap dengan tempat tidur,dan musholla kecil didalamnya,padahal di bawah juga sudah ada musollanya,


Setelah puas melihat lihat ruangan tersebut


Dia mulai fokus di meja kerjanya,


"Assalamualaikum pak"terdengar suara lembut dari luar ruangan"sepertinya saya kenal suara ini"(gumam Malik dalam hati)


'"waalaikumussalam,masuklah!"


"Maaf pak saya terlambat,(menyodorkan map yang berisi berkas),soalnya ibu saya tadi jatuh di kamar mandi"


Malik mengangkat kepalanya dan menyudahi pandangannya ke berkas yang di pegangnya sejak tadi


"Kau,,,," (Adiba seperti tidak percaya)


"Maksud saya ,apa anda ,,,putra dari tuan Irawan,bukankah Anda putra ,,,"


"Iya saya anak seorang pembantu yang lagi beruntung saja"


"Maksud saya bukan seperti itu"


Adiba mulai tidak beraturan nafas dan bibirnya


"Sudahlah bicaranya formal saja ,tidak usa terlalu santun"ucap Malik sok santai padahal denyut jantungnya sudah seperti di kejar anjing


Dia juga tidak percaya ternyata orang yang selalu di pikirkannya berdiri di hadapannya sekarang


"Tuan ini ada yang perlu tuan tanda tangani"


Malik mengambil berkas tersebut,dan sesekali memandang Adiba,


"Duduklah"


Kemudian Adiba duduk,dia masih merasa canggung,"ya Allah benarkah dia di hadapanku sekarang?"(gumamnya dalam hati samvbil meremas tangannya,)


"Bagaimana ibumu sekarang?"sambil membaca berkas yang di bawa Adiba


Adiba tersentak dari lamunannya


"Iya tuan"


"Apa kau tidak mendengarku?"


"Mohon maaf tuan?"


"Panggil saya seperti biasa saja"


"Tidak tuan,itu lancang namanya"


"Baiklah seenakmu saja"


"Bagaimana ibumu sekarang?"


"Sudah baikan cuma kepleset saja ,tapi saya panik tadi,jadi saya terlambat"


"Syukurlah"


"Sudah lama kerja disini?"


"Apa tuan besar tidak memberi tahu say pada anda?"


"Kalau saya sudah tahu saya tidak akan bertanya"


"Maaf tuan,saya sudah 3 tahun di sini",


"Cukup lama juga ternyata"


"Iya tuan"


"Ini"


Sudah selesai saya tanda tangani


Atur pertemuannya besok dengan pemohon"


"Baik tuan ,saya permisi,"


Adiba berdiri dan membalikkan badannya


"Silahkan "

__ADS_1


Adiba menuju keluar ruangan Malik memandanginya sampai terlenyap dari pandangannya


#bersambung


__ADS_2