
Setelah tiga hari di rumah sakit dab beberapa tidak keluar kamar,akhirnya kesehatan Adiba berangsur kembali,tiap Gus hafid dengan tulus melayaninya,menyuapi dan memberinua obat,dan malam itu akhirnya Adiba bisa bergabung kembali di meja makan
Biasanya setelah turun dari jamaah Isyak Gus hafid meletakkan sorbannya dan langsung kedapur untuk mengambil makanan buat Adiba,dia tidak pernah minta bantuan santri dalam mengurus istrinya,
Malam itu ketika dia masuk kamar,dia menjumpai istrinya
Masih dalam keadaan bermukenah dan sajadah di punggungnya,ya karna memamg Adiba sudah kembali mengikuti kegiatan di musolla
" Eh,,,neng,,,apa sudah bisa salat ke musolla?"
" Iya Gus"
"Alhamdulillah,akhirnya Allah mengembalikan kesehatanmu"
" Iya ,alhamdulillah,Allah telah mengembalikan kesehatan saya melalui ketulusan jenengan merawat saya Gus,"
"Bukankah itu sudah kewajiban saya sebagai suami,,,ya,,,meskipun kau tidak seratus persen menganggapmu suami,tapi Allah telah meng amanahkanmu padaku,jadi sudah tugasku menjaga dan membuatmu merasa aman dan
nyaman"
Mendengar ucapan Gus hafid dada Adiba sedikit terasa sesak,memang benar apa yang di katakan Gus hafid,Adiba belum sepenuhnya menganggap Gus hafid sebagai suaminya,tapi mungkin karna ilmu yang sudah membuat Gus hafid bijaksana,maka dia tidak pernah
Memaksakan kehendaknya pada Adiba,baik itu secara lahir atau bathin,
"Kenapa bengong,bukalah mukenahmu?"
" I,iya Gus".
"Apa perlu aku bawakan makanan kesini,atau mungkin kau sudah rindu ingin makan di meja makan?"
" Saya makan di meja makan saja Gus"
Baiklah ayo segera kesana,mungkin aba dan umi sudah nunggu dari tadi"
*********
__ADS_1
Usai makan malam seperti biasa mereka langsung kekamar ,dan Gus hafid langsung menelaah kitab kitab yang akan di ajarkannya, yang biasanya usai makan malam Adiba langsung sibuk dengan laptop atau hapenya di tempat tidur,tapi waktu itu,dia lebih memilih duduk di shofa di samping Gus hafid, dan melihati suaminya dalam diam,melihat keanehan istrinya Gus hafid mencoba menghilangkan penasarannya
"Kenapa di. Sini neng"
" Yah ingin disini saja Gus".
" Biasanya tidak pernah menemani saya duduk di sini kalau habis makan malam"
" Memangnya tidak boleh ya Gus"
" Kenapa tidak boleh ,justru saya sangat senang sekali,karna ini pertama kalinya kamu duduk di sini bersamaku,biasanya kau selalu menghindar,jika aku disini,pasti kau di tempat tidur,jika aku di tempat tidur,kau kesini,jadi heran saja"
Seperti tidak tersinggung dengan jawaba Malik Adiba malah minta ijin ke dapur
" Gus saya kedapur dulu ya?"
"Pergilah,!"
Sekembali dari dapur,Adiba membawa secangkir teh dengan perasan jeruk nipis ,dan meletakkannya k
" Silahkan di minum Gus"
Mencium aroma yang berasal dari cangkir itu,Gus hafid tau kalau itu adalah minuman kesukaannya
" Sejak kapan kau memperhatikan minuman yang Kusuka?"
Lagi lagi pertanyaan yang mengandung sindiran
"Saya hanya mencoba membalas semua kebaikanmu gus" gumam Adiba dalam hati
"Owh tidak,,,,bukan begitu,waktu tadi saya membuat teh saya lihat ada potongan jeruk nipis disana,jadi saya coba saja memerasnya ke seduhan teh ini,barangkali jenengan suka,"
"Saya coba ya"
Gus hafid sudah tidak sabar ingin mencicipi teh pertama buatan istrinya,
__ADS_1
"Silahkan Gus,muda mudahan saja jenengan suka"
Gus hafid meraih cangkir yang ada di depannya,dengan ucapan bismillah dia menyeruput sedikit teh hangat buatan istrinya itu
" Alhamdulillah tehnya sangat enak saya sangat suka,benar ya kata orang orang,jika istri yang menyajikan meskipun itu hal biasa jadi luar biasa"
Gus hafid melebih lebihkan ungkapannya,padahal teh yang di
Minumnya biasa saja
Mungkin karna rasa cinta yang membumbuinya,Adiba jadi trrsipu mendengar pujian Gus hafid,terumbar senyum kecil di bibirnya
" Terima kasih Gus,sudah menyukai teh saya"
" Aku yang terima kasih,karna kau telah berkenan membawakan ku teh"
Sofa itu kembali sunyi,hanya sesekali bunyi cangkirteh yang beradu dengan lepek an(tatakan)nya, dari aktivitas tangan Gus hafid,.
Dan sesekali Adiba memandangi wajah yang fokus pada apa yang di bacanya
" Kau tidurlah duluan,tidak usah menungguiku".
" Tapi saya belom mengantuk".
"Tutuplah matamu,nanti akan tidur sendiri"
Kembali adiba memperhatikan wajah yang sama sekali tidak melihatnya walaupun berbicara,
Adiba tetap mematung di tempatnya,tidak memperdulikan perintah Gus hafid,akhirnya Gus hafid menutup kitabnya dan berdir
" Ayo kita tidur,ini sudah malam,kau baru pulih tidak baik tidur. Terlalu larut,nanti penyakitmu kambuh"
Sambil berjalan menuju tempat tidur dengan di ikuti Adiba
Gus hafid merebahkan badannya dan menarik selimutnya,Adiba pun perlahan merebahkan tubuhnya sambil menatap wajah suaminya yang sudah memejamkan matanya
__ADS_1
"Sejauh ini kau benar benar menghormatimu Gus ,kita satu ranjang,bahkan satu selimut,tapi kau tetap membiarkan guling ini utuh di tengah tengah kita,sebagai tanda kau menghormati keputusanku"(Adiba)