
"sudah datang jenengan gus?"
Adiba menyapa lembut mendapati suaminya sudah duduk di shofa depan tempat tidur,dengan secangkir teh di tangan,rupanya dia mulai menghafal kapan suaminya akan berada dikamar
"ya"
"ini silahkan ,mumpung masih hangat"
meletakkan teh di meja
"terima kasih,kenapa belom tidur?"
" saya belom bisa tidur Gus" sembari duduk di sebelah Gus hafid
"tidurlah neng,sebentar lagi saya nyusul,saya masih mau menghabiskan teh buatanmu,"
bukan pergi ke tempat tidur,Adiba malah duduk didepan meja riasnya,membuka kerudung yang sedari tadi menutup kepalanya,dia menatap wajah suami yang tergambar di cermin,dengan menjalankan sisir di rambutnya
"auw....."
dia berteriak ternyata sisirnya nyangkut di anting antingnya,seketika Gus hafid menghampirinya,Adiba tengah memijat mijat telinganya yang terasa panas dan perih karna tersangkut sisir
" kenapa Ning"
memeriksa telinga Adiba,Adiba terdiam mulai menikmati wangi tubuh Gus hafid yang begitu dekat dengannya
" apa tidak apa apa?"
Adiba tersadar,dan mulai mengalihkan pandangannya kecermin
__ADS_1
"tidak apa apa Gus"
" sepertinya sedikit lecet,tunggu sebentar ya saya ambilkan salep"
belom sempat menolak Gus hafid sudah bergerak menuju laci,dan mengeluarkan kotak
p3k
"tahan sedikit,agak perih tapi cepat hilang"
sambil mengoles telinga Adiba yang sedikit lecet,Adiba memandangi wajah suaminya di cermin,belom selesai dengan tugasnya Adiba meraih tangan Gus hafid dan menciuminya
" maafkan saya Gus,saya banyak dosa kejebengan" tubuh Adiba bergetar karna air matanya yang begitu deras mengalir
Gus hafid meraih kedua lengan dan membangunkannya dari tempat duduk,tanpa peduli lagi ke keputusan konyolnya,Adiba memeluk erat tubuh suaminya itu,seakan air mata yang menjadi perwakilannya dia hanya terdiam dalam dekapan tubuh gagah suaminya
"sekarang tidurlah,tidak ada yang perlu kau tangisi,tidak ada yang perlu di maafkan"
Suami istri itu menuju ranjangnya,posisi tetap guling di tengah,Gus hafid mengambil remot dan mematikan lampu,pasangan itu sudah tidak bersuara lagi,hanya sesekali Adiba memandangi suaminya yang tengah terpejam di sebelah guling yang biasa jadi pembatas
kenapa kau masih membiarkan guling ini jadi pembatas Gus?
Adiba mencoba mengerak gerakan tangannya di atas wajah Gus hafid keatas kebawah,tapi tak ada respon apapun
ternyata kau benar benar sudah tidur ya.....?
Adiba memindah posisi guling itu ke tepi tempat tidur,dan meraih tangan Gus hafid yang tengah pulas ,dan menciuminya berkali kali,dan dia mencoba melingkarkan tangannya di perut Gus hafid
dia kan sudah tidur,ini tidak akan mengamganggunya kan?
__ADS_1
dia menciumi badan yang tengah dia rangkul
dan tiba tiba ada usapan lembut di kepalanya,
tubuhnya mulai panas dingin,rasa malu menggerogoti tubuhnya,
mudah muda Han saja kau hanya mengigau
"kenapa belom tidur?"
peluh dinginnya mulai bercucuran
ternyata jenengan benar benar belom tidur,kenapa aku seberani ini menyentuh tubuhmu ?
mendengar Gus hafid bertanya ,spontan Adiba ingin melepas pelukannya,tapi Gus hafid makin menekan tubuh Adiba
"kenapa?bukankah dari tadi kau senang melakukannya"
" saya ,saya,..."
Gus hafid tidak membiarkan istrinya memberi penjelasan konyol,dia meraih dagu Adiba dan menutup mulut Adiba dengan mulutnya,
Asian membiarkan saja Gus hafid melumati bibirnya,hinggA nafasnya tersengal sengal
pelan-pelan Gus hafid membuka kancing baju tidur Adiba,dengan posisi bibir tetap bersentuhan,Gus hafid mulai mengaktifkan tangannya di daerah daerah yang semakin membuat Adiba *********
Malam itu berlalu begitu indah,sisir yang nyangkut di telinga,menjadi tiket malam pertama buat Gus hafid,karna kelelahan suami istri itu hingga tak mendengar bel kiyamul lail yang biasa berbunyi jam 3,untuk membangunkan para santri,
sampai terdengarlah suara ketukan pintu dari luar kamar
__ADS_1
" hafid bangunlah! jangan biarkan santri menunggu terlalu lama"
mendengar suara uminya hafid langsung terbangun,dan memasang pakaiannya,kemudian membukakan pintu,ternyata bunyai sudah tidak ada di luar pintu.