
Seharian di kantor membuat Adiba lupa semua masalah hidupnya,berhadapan dengan tumpukan kertas dan file file serta email email yang datang silih berganti membuatnya tidak ada waktu memikirkan pernikahannya yang tidak dia inginkan itu
,waktu berlalu begitu cepat sehingga dia harus meninggalkan kantor dan kembali ke pesantren bertemu Bu nyai kiayi yang membuatnya tidak nyaman bertingkah sesuai ke inginan ya,lebih lebih bertemu dengan Gus hafid yang mana dia harus semalaman bersamanya di kamar Adiba menarik nafas panjang dan melangkahkan kakinya keluar ruangan di tempat parkir dia menjumpai sopirnya tengah tidur di dalam mobil,
ya Allah kenapa dia tidak pulang saja,kenapa harus tidur di dalam mobil sih?
sebelum masuk ke mobilnya Adiba sesekali melihat ruangan Presdir tepat di gedung paling atas di dekat tempat parkir kemudian dia mengetok kaca mobil yang tengah di kunci itu bang Ipul terbangun dan segera keluar dan membukakan pintu buat Adiba
" kamu tidak pulang ya?"
" tidak neng"
" terus makan di mana?"
" bawa bekal neng"
" biasanya kalau tidak ngantar saya ngapain di pesantren?"
" ikut pengajian bagi yang tidak sekolah pagi
pengajian kitab sullam neng"
ya Allah aku telah membuang buang waktu berhargamu,ampuni aku ya Allah!
__ADS_1
'" baiklah ayo kita pulang"
Ipul duduk di belakang kemudi dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang,
" neng Gus hafid menelpon,kalau mau mampir ke rumah neng tidak apa apa katanya"
" tidak kita langsung saja"
diam diam kamu perhatian ya Gus,!
tapi sayangnya hatiku milik orang lain
yang tidak pernah mau peduli dengan perhatian siapapun selain dia
gerak bathin,Adiba keluar dan langsung menuju kamarnya,tidak ada diapun di setiap ruangan di rumah itu,mungkin penghuninya sedang melakukan kewajiban masing masing
Adiba terus membersihkan dirinya dan mengambil mukena,ingin melaksanakan salat ashar,sengaja tidak dia lepas mukenah ya hingga adzan magrib berkumandang ,tapi Gus hafid tak muncul muncul,pergila dia ke musolla putri dan bergabung dengan barisan mereka, tampak dari mereka saling bergeser memberiku tempat di belakang bunyai yang sudah duduk di tempat imam sambil melantunkan dzikir menunggu jamaah yang lain berdatangan,
mendengar lantunan merdu nan serentak
hati bagai di siram embun terasa sangat sejuk tanpa beban ,kepala mereka sambil bergerak lamban melantunkannya,mengingatkanku dulu masih nyantri,berebutan tempat ingin ada paling depan dan ingin berada di dekat bunyai
selesai sudah jamaah salat magrib,
__ADS_1
bunyai turun dan aku mengikutinya,tampak para santri menunduk takdzim menghantar kami keluar dari mushalla
" sudah dari tadi pulangnya nduk"
bunyai menyapa saya yang tengah berjalan di belakangnya menuju rumah,
" Enji Bu nyai"
" panggilnya umi saja, biar gak canggung"
" bbaik Bu ,,e umi"
" nduk ,,,, istri yang baik adalah istri yang selalu berada di belakang punggung suaminya"
" Duar" kata kata bunyai seperti batu yang menghantam dada adiba Adiba terdiam,seharusnya memang suamilah tulang punggungnya bukan dia,dengan diam mereka meneruskan jalannya menuju rumah, mereka terpisah di depan kamar bunyai,Adiba melanjutka langkahnya menuju kamar,ternyata disana masih belom ada orang juga,sebagai wanita karir ,dia bukan membuka Alquran menunggu isya ,malah dia membuka laptopnya mengecek ngecek kembali pekerjaannya, tak lama kemudian Gus hafid memanggil salam dari luar,Adiba segera menutup laptop dan membukakan pintu ,
" sudah dari tadi neng?"
" iya Gus"
" kalau cape beristirahatlah,waktu Isyak masih lama"
emang ad ya bunyai setelah magrib istirahat?
__ADS_1