
Setelah berkeliling. Tiba-tiba Riana ingin kembali ke ruangan Dila. Riana cemas kalau Dila sedang menunggu.
"Kak Vian, bisa mintak tolong. Antarkan aku ke ruangan Dila," pinta Riana
"Bisa. Lewat sini," sambil berjalan menuju ruangan Dila.
Setelah naik ke lantai 9. Akhirnya mereka tiba ke ruangan Dila.
"Terima kasih sudah menemani Riana, Kak vian," sambil tersenyum Riana ke Vian.
"Sama-sama Riana. Ya udah aku lanjut kerja dulu. Dadah Riana," Vian pun pergi.
"Dadah Kak Vian," Jawab Riana yang melihat Vian pergi.
Riana pun mengetuk pintu. Setelah dipersilahkan masuk. Saat Riana masuk, Dila sudah ada di dalam. Riana melihat Dila sedang mengcek beberapa lembaran di atas mejanya. Dila yang menyadari kedatangan Riana, Dila langsung menyuruh Riana duduk.
__ADS_1
"Sepertinya kamu sedang senang Riana, apa yang terjadi saatku tidak bersamamu Riana?" tanya Dila dengan tersenyum ke Riana.
"Tadi Riana keliling lihat-lihat perusahaan Kak, tiba-tiba Riana menabrak pria. Setelah itu kami berkenalan. Dia mengajak Riana berkeliling melihat perusahaan. Hmmm kalau tidak salah namanya Vian," jawab Riana sambil duduk.
"Vian? di sini banyak yang namanya Vian," Dila pun tertawa.
"Dia memakai jas warna hitam Kak," jawab Riana dengan memasang muka serius.
"Riana. Rata-rata pria di perusahaan banyak memakai jas loh. Ayok, Riana mau jawab apa," Dila ketawa seakan mengejek Riana.
"Tolong ambilkan dokumen yang harus saya tanda tangani di ruangan bagian pusat kontrol nomor delapan," perintah Dila ke ajudannya.
Setelah ajudannya pergi. Dila menekan telepon gengam, lalu berbicara melalui telepon untuk membuatkan dua minuman serta beberapa cemilan untuk dibawak ke ruangannya.
Dila dan Riana mengobrol. Tidak berapa lama terdengar suara pintu yang diketuk dari luar. Dila pun mempersilahkan masuk. Ternyata Office Boy yang mengantarkan pesanan Dila yang berupa minuman dan cemilan.
__ADS_1
Setelah meletakkan minuman dan cemilan. Office Boy segera pamit.
"Riana silahkan makan. Oh iya gimana kabar ayah Riana?" Dila yang bertanya sambil makan cemilan
"Ayah sudah meninggal Kak. Kak tidak masalah berkawan dengan orang seperti aku. Kakak orang penting diperusahaan ini. Sedangkan aku hanya penjual sayur biasa Kak," Riana memandang Dila dengan malu.
"Maaf Riana soal pertanyaan kak terhadap ayahmu. Riana, kalau Riana berkata seperti itu. Tidak mungkin Kak bawak ke sini. Riana dengar baik-baik. Pangkat maupun jabatan. Tidak bisa dibanggakan. Jangan itu membuat kita sombong dan membuang teman-teman. Ingat lah kalau teman-teman lebih berharga dari apapun. Mau kaya atau miskin kawan kita. Tidak bisa dibeli apa lagi dijual. Karena saat kita kesepian, kawan lah yang menghibur kita. Kalau Jabatan atau pangkat bisa dibeli dan hanya menambah beban. Jadi untuk apa kita sombong?" Dila yang menjelaskan ke Riana dengan serius.
"Kak benar, teman sangat berharga tapi jika seseorang pernah berjanji dan tidak menepatin janjinya. apa bisa disebut teman?" Tanya Riana dengan menundukkan kepala.
"Riana. Jangan menyerah jika ada teman yang belum nepatin janji terus Riana bisa memutuskan kesimpulan seperti itu. Mana tahu dia bersikeras ingin bertemu tapi belum ada kesempatan. Bersabarlah, karena keajaiban pasti akan datang," jawab Dila sambil megang tangan Riana.
"Keajaiban?" Riana yang tiba-tiba terkejut dengan perkataan Dila yang sangat mirip dengan Rey dulu.
"Iya percayalah dan jangan lupa berdoa. Itulah pesan dari Kakakku ke saya," Dila yang memandang Riana untuk membuat Riana percaya.
__ADS_1
Mereka pun menghabiskan minuman dan cemilan. Setelah itu Dila mengajak Riana jalan keluar dengan mobil Dila.