
Vian dan Riana yang terjatuh dari sepeda sehingga membuat lutut Riana terluka.
"Maaf Aku tidak berhati-hati," ucap Vian sambil mencoba duduk.
"Kamu pernah bawak sepeda gak?" tanya Riana yang kesal
"Aku panik soalnya, maaf...Lutut mu berdarah"," lalu Vian mengambil kain lap kecil dari saku belakang celananya.
Lalu Vian menlap dengan perlahan-lahan luka Riana. Riana melihat Vian yang sanggat berhati-hati mengobati luka Riana. Setelah Riana merasa baikan. Lalu Riana mencoba berdiri. Setelah itu Vian ikut berdiri.
"Maaf nama kamu siapa?" tanya Vian sambil memandang muka Riana.
"Namaku Nasya Riana. Kalau nama Kak?"
"Kamu Riana. Ingat gak yang dulu saat Riana di perusahaan RMD itu..Aku Vian loh yang makan bersama waktu itu," kata Vian dengan senyum.
"Vian. Aku pernah makan dengan orang yang bersama Vian. Tapi sepertinya muka kamu berbeda dengan Vian yang aku temui," jawab Riana dengan bingung.
Akhirnya Vian menjelaskan ke Riana kalau dia waktu itu menyamar. Awalnya Riana tidak percaya tapi Vian berusaha untuk meyakinkan Riana. Akhirnya Riana percaya.
"Jadi Kak Vian perlu apa ke sini," tanya Riana.
__ADS_1
"Ku ada perlu dengan client jam 10 pagi ini," Vian yang melihat jam tangannya langsung terkejut kalau jamnya sudah menunjuk jam 09.45.
Vian yang merasa cemas langsung mengeluarkan ponselnya dan masih tidak ada jaringan. Lalu Vian mengangkat sepeda Riana. Tiba-tiba ban sepeda Riana tanggal bagian depan.
"Oppss" Vian yang cemas langsung melihat Riana dengan takut.
Muka Riana jelas sekali terlihat ingin marah.
"Hmmm ini bisa diperbaikikan Riana?" tanya Vian dengan keringat dingin yang keluar dari badannya.
Wah bahaya ini. Aura Riana sepertinya sanggat berbahaya. Aku mesti gimana. Vian mengucap dalam hati yang masih dalam ketakutan.
"Riana. Sendalmu bagus. Beli diman," sebelum sempat Vian bertanya lalu sendal itu melayang ke muka kevin.
"Ampun Riana," Vian langsung lari.
Riana melihat Vian lari mengambil sendalnya sebelah dari kakinya. Lalu melempari Vian. Dan lemparan Riana tepat ke punggung Vian.
Saat Vian dan Riana berjalan berdua dengan sepeda yang rusak dipegang sama Vian. Mereka berdua menelusuri jalan. Vian tidak menghiraukan urusannya yang bertemu dengan client. Sekarang Vian memikirkan sepeda Riana yang rusak sama dia dan juga sayuran yang akan dibawak sama Riana hancur.
"Tengok ulahmu Kak..!! hancur daganganku untuk diantar. Kak harus tanggung jawab Kak," ucap Riana yang masih kesal.
__ADS_1
Vian mengeluarkan dompet lalu melihat dompetnya kosong. Semua uangnya telah dikasih ke Riani untuk sewa sepeda.
"Uang ku habis," ucap Vian dengan ekpresi lesu melihat dompetnya kosong dan urusannya berantakan ditambah masalah sepeda.
"Begini aja, besokku ganti saatku ke sini lagi," kata Vian sambil ketawa.
"Huuff. Pasti lari," jawab Riana dengan mengejek kearah Vian.
"Serius loh Riana...ATM sini ada tidak sekitar sini?" tanya Vian.
"Desa sini ngak ada ATM kak, yang banyak cuman rentenir kak," Riana yang sambil ketawa.
"Rentenir. pantasan muka mu kayak rentenir dan garang seperti rentenir," Vian yang sambil tertawa.
"Apamu bilang Kak. Coba ulang Kak," ucap Riana yang melepaskan sendal dari kakinya.
"Ngak..Ngak..Riana cantik dan manis," Vian dengan terpaksa senyum kecil melihat Riana yang mau melepaskan sendalnya agar berharap Riana tidak jadi melepaskan sendalnya.
"Emang cantik kok," ucap Riana sambil mengejek Vian.
Mereka berjalan sambil bercanda dengan sepeda Riana yang rusak yang di dorong sama Vian.
__ADS_1