
Saat Vian masih melamun, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.
"Masuk," kata Vian.
"Ini Pak berkas yang Bapak mintak," jawab Fano sambil meletakkan berkas di atas meja Vian.
"Terima kasih...Fano sejak saya tidak di sini, banyak yang terjadi ke gagalan. Apakah Dio tidak bisa mengontrol perusahaan ini?" tanya Vian yang membalikkan badan menghadap Fano.
"Maaf Pak. Dio tidak bisa mengontrol dengan baik. Dan sekarang Bapak Vian telah disini. Seluruh staff perusahaan RMD berharap ke Bapak agar perusahaan kelebih baik lagi seperti saat Bapak dulu masih menjabat," jawab Fano.
"Baiklah Fano. Kamu boleh pergi sekarang. Saya mau mempelajari anggaran yang di perlukan," Vian yang langsung duduk di kursinya dan membuka berkas tersebut.
Fano pun segera keluar ruangan. Vian dengan teliti melihat berkas tersebut.
Kenapa anggarannya seperti ini. Padahal kalau ditafsirkan semuanya hanya biasa-biasa saja. Lomba pencarian penyanyi dengan menggunakan hadiah sebesar 1 miliyar, apa-apaan ini. Kenapa bisa sebanyak ini. Ini sungguh kelewatan. Dalam batin Vian.
Vian pun menekan tombol nomor televon di mejanya.
"Kepala HRD bisa kamu datang sekarang me ruangan saya?" tanya Vian.
__ADS_1
"Bisa Pak," jawab kepala HRD.
Tidak berlangsung lama. Kepala HRD sudah di ruangan Vian.
"Ada apa Pak Vian?" tanyanya sambil duduk.
"Kenapa anggaran untuk pencarian penyanyi bisa sampai 1 miliyar. Apakah itu logika? kita bisa merekrut penyanyi lama kalau kita mau tampa menghabiskan semua dana yang begitu banyak," Kata vian dengan membalikkan dokumen tersebut.
"Maaf Pak..penyanyi terkenal kita mengalami kecelakaan dan harus masuk rumah sakit Pak," kata Dio dengan berhati-hati menjelaskan.
"Baiklah kalau begitu tapi untuk dana 1 miliyar dalam lomba nyanyi untuk pencarian personil pengisi suara album seberkas cahaya akan saya kurangi..saya memintak semua manajer untuk menyetujuinya," jawab Vian.
Vian yang berada di ruang rapat dan Fano membuka pintu untuk Vian. Semua manajer dan direktur perbagian bidang sudah berkumpul termasuk Dila sebagai direksi pemograman dan penyiaran tv.
Vian pun menuju kursinya sambil di temankan sama Fano, sementara itu Fano berdiri disamping Vian.
"Terima kasih telah berkumpul," ucap Vian.
"Jadi saya mengadakan rapat untuk membahas album seberkas cahaya. Saya sempat mempelajari item-item anggaran dalam pembuatan seberkas cahaya. Dan yang saya tidak sukai soal anggaran hadiah satu miliyar dalam lomba pencarian bakat penyanyi. Menurut saya ini sangat kelewatan. Saya mau dananya dikurangi," pintak Vian.
__ADS_1
Mendengar Vian untuk mengurangi dana tersebut. Semua manajer dan direksi diam.
"maaf pak Vian. Tentang hadiah lomba itu sebenarnya sudah di postingkan satu hari kemarin," kata salah seorang manajer.
"Apa !! Kenapa saya tidak menyadarinya. Sedangkan dananya kita kekurangan dan kalian malah membuat dana yang tidak diperlukan sebanyak itu," ucap Vian.
Tiba-tiba seseorang masuk keruangan rapat. Membuat Vian melihat kearah pria yang masuk ke ruangan rapat.
"Jadi untuk dana apa kamu tidak bisa mendapatkannya direktur baru RMD?" jawab seseorang tersebut.
"Pak Hirka. Maaf Pak kami sedang rapat dan sedang perlu apa Bapak masuk?" tanya Vian.
Hirka adalah ayah Dio sekaligus kakak kandung Pak Hardianto.
"Saya hanya menyampaikan..kalau saudara Vian tidak bisa mengumpulkan dana tersebut dan menyelesaikan masalah. Berarti anda tidak bisa memimpin perusahaan RMD. Benarkan begitu?" tanya Pak Hirka ke Vian.
"Siapa bilang saya tidak bisa. Bagi saya itu mudah," jawab Vian dengan nada tenang.
Suasana menjadi sangat tegang. Para manajer sangat setuju dengan perkataan pak Hirka. Dila hanya melihat Vian dan sangat yakin Vian bisa menghadapinya. Dari dulu Pak Hirka membenci Vian karena ingin anaknya Dio yang memimpin perusahaan RMD dan bukannya Vian.
__ADS_1