KENANGAN SEDIH

KENANGAN SEDIH
BAGIAN 42 NYANYIAN


__ADS_3

Riana berjalan melewati tangga dan setelah Riana sampai di atas lantai gedung. Riana lalu berjalan menuju ke tepi gedung dan melihat suasana kota dari atas gedung perusahaan RMD dan angin yang menerpa dirinya.


Riana lalu menelvon Vian dengan ponsel yang diberikan oleh Vian. Dalam keadaan menangis, Riana menekan nomor Vian.


***


Dalam mobil Vian.


Vian yang sedang mengemudikan mobilnya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Vian melihat nomor yang menghubunginya ternyata nomor Riana. Vian lalu mengangkat televon sambil mengarahkan mobilnya ke tepi jalan dan menghentikan mobilnya.


"Halo Riana," ucap Vian melalui ponselnya.


"Hay Vian. Maaf aku menelvonmu," jawab Riana dengan keadaan menangis.


"Riana. Kamu menangis. Ada apa Riana?" tanya Vian dengan rasa penasaran.


"Maafkan aku. Aku tidak bisa memberikan jawaban terbaik untukmu Vian dan berita menyenangkan untukmu."


Riana. Kenapa. Coba jelaskan dengan pelan-pelan," ucap Vian untuk berusaha menenangkan Riana lewat berbicara di ponsel.


"Aku gagal, Vian. Jurinya tidak mendengarkan aku bernyanyi. Dia marah karena aku menabrak dia, saat aku menuju ke ruang audisi. Tapi aku tidak sengaja. Dia tidak memberikan kesempatan pun untuk mendengarkanku bernyanyi, malahan dia pergi meninggalkan aku di ruangan audisi," ucap Riana yang masih dalam keadaan menangis.


Tiba-tiba Vian memutar balik mobilnya dan menuju ke perusahaan RMD sambil mengengam televonnya.


"Riana. Jangan sedih. Ingat, aku adalah fans terberatmu dan aku tetap jadi fansmu," Vian tetap berbicara sambil mengemudikan mobilnya.


Jarak Vian dengan perusahaan RMD tidak terlalu jauh, karena Vian baru saja keluar dari kantor.

__ADS_1


"Tapi Vian. Riana tidak bisa berbuat apa-apa. Aku telah gagal untuk menepati janjiku untuk menampilkan yang terbaik untukmu."


"Riana, begini saja. coba kamu pergi ke lantai sembilan, sekarang."


"Emangnya kenapa Vian. Kenapa Riana harus ke sana?" tanya Riana dengan bingung.


"Sudah. Pergi saja Riana. Aku tidak akan menutup televonnya."


Riana menghapus air matanya dan lalu pergi ke lantai sembilan, seperti yang dibilang sama Vian lewat televon. Setelah Riana menggunakan lift dan sampai ke lantai sembilan. Riana lalu mengarahkan ponselnya ke telinganya.


"Vian. Aku sudah di lantai sembilan, tepat di pintu lift."


"Sekarang berjalan ke arah kanan. Setelah Riana lihat tulisan di pintu. Tulisan ruang rekaman sembilan. Riana masuk saja."


Lalu vian sampai ke perusahaan RMD. Lalu vian menyuruh satpam RMD untuk memakirkan mobilnya.


"Riana sudah sampai di dalam ruangan rekaman sembilan, Vian. Tapi di sini sedikit gelap. Riana hampir tidak bisa melihat," ucap Riana yang sudah di dalam ruangan.


Riana pun masuk ke dalam pintu yang di bilang sama Vian. Riana melihat mic dan berdiri di depan mic tersebut. Riana meletakkan ponselnya ke lantai. Lalu dalam keadaan sedikit gelap. Riana mencoba untuk fokus dan mulai bernyanyi.


Riana lalu bernyanyi dan berkhayal seakan-seakan dia sedang mengikuti audisi. Saat Riana bernyanyi. Vian yang mendengar nyanyian Riana, tersentak diam dan terkejut mendengar suara merdu Riana bernyanyi melalui ponselnya.


Vian lalu melanjutkan langkah kakinya menuju ke ruang tempat Riana bernyanyi. Riana yang tetap bernyanyi sambil mengeluarkan air matanya, terus melanjutkan nyanyiannya.


Vian telah sampai di pintu masuk rekaman sembilan, lalu membuka pintu, tempat ruangan Riana bernyanyi.


Vian yang melihat Riana nyanyi dari sebelah ruang kontrol rekaman, hanya kaca besar yang memisahkan Riana dan Vian. Riana tidak menyadari kedatangan Vian. Riana tetap bernyanyi dengan sepenuh hatinya.

__ADS_1


Vian lalu menghidupkan dengan menekan sebuah tombol kontrol rekaman yang ada di depannya. Tiba-tiba semua orang yang ada di dalam perusahaan RMD terdiam karena mendengar suara nyanyian yang muncul dari sebuah speaker yang dipasang setiap ruangan di perusahaan RMD.


Semua yang ada didalam perusahaan terkesima dengan suara nyanyian orang tersebut. Dila pun terkejut dan hanya bisa terdiam.


Pria juri audisi yang mau sampai depan pintu perusahaan RMD. Dia mendengarkan suara nyanyian dan terhenti dari langkahnya. Pria tersebut menutup matanya untuk menghayati nyanyian tersebut. Lalu membuka matanya dan segera berlari ke tempat asalnya suara tersebut. Pria itu mencari ke setiap ruangan rekaman di lantai tiga dan membuka pintu ruang rekaman. Tapi ruangan tersebut tidak ada orang. Pria itu melanjutkan ke lantai tujuh dan membuka pintu ruang rekaman. Lagi-lagi pintu yang dibukanya kosong. Pria itu melanjutkan ke lantai sembilan. Saat di lantai sembilan. Pria itu menuju ke ruang rekaman sembilan. Setelah sampai, pria itu membuka pintu dan melihat Riana bernyanyi.


Pria itu tersenyum sambil menunggu Riana selesai bernyanyi. Pria itu tidak melihat Vian di ruang kontrol, karena ruang kontrol rekaman dalam keadaan sedikit gelap. Sehingga Vian tidak terlihat sama pria tersebut.


Setelah Riana selesai bernyanyi. Vian lalu mematikan tombol di meja kontrol dan segera pergi dari ruang tersebut sambil tersenyum.


"Kamu. Sungguh luar biasa," ucap pria itu menuju Riana sambil menepuk tangan.


Riana terkejut mendengar suara tepukan. Riana lalu memandang ke arah asal suara tersebut. Riana terkejut yang memberikan tepukan tangan adalah juri audisi nyanyi.


"Kamu sungguh luar biasa," ucap Pria itu lagi.


"Siapa namamu?" ucap pria itu.


"Nasya Riana," ucap Riana yang masih heran.


"Kamu saya luluskan dalam tahap pertama. dua hari lagi datang lah, ketempat gedung perusahaan saya. Disana akan dilanjutkan untuk melanjutkan babak kedua. Jangan sampai telat," pria itu membagikan sebuah kertas tanda lulus tahap pertama ke Riana.


Pria itu pergi meninggalkan ruangan tersebut. Riana yang merasa heran. Namun tiba-tiba Riana kegirangan sambil menerbangkan kertas tanda lulus. Riana lalu mengambil hpnya dan kertas tanda lulus di lantai dan pergi meninggalkan ruangan tersebut sambil kegirangan.


Riana masih merasa keheranan tapi karena rasa gembiranya, sehingga membuat rasa herannya hilang.


Riana mau menghubungi Vian, namun Riana mengurung niatnya untuk menelvon Vian. Riana merasa lebih bagus kalau langsung bertemu dengan Vian dan mengasih kejutan atas kelulusannya.

__ADS_1


Riana menghentikan langkah kakinya. Riana lalu membayangkan betapa bahagianya ayahnya jika melihat Riana bisa menjadi penyanyi terkenal seperti keinginan ayahnya.


Riana pun melanjutkan langkah kakinya. Riana segera turun dari lantai sembilan dan menuju ke lantai satu.


__ADS_2