KENANGAN SEDIH

KENANGAN SEDIH
BAGIAN 51 KEMBALI KE TEMPAT DULU


__ADS_3

Vian yang melihat ibu Riana yang marah kedirinya, hanya bisa terdiam. Vian hanya duduk tenang yang tidak dia mengerti kenapa ibunya Riana marah ke dirinya.


"Bu. Apa yang Ibu lakukan. Vian salah apa Bu?" tanya Riana yang memandang ibunya.


"Kamu siapa dan kenapa menolong kami. kami tidak butuh dikasihani oleh orang. Kami memang miskin tapi kami masih punya harga diri. Untuk apa kamu memberikan cek ke rentenir itu," ucap ibu Riana yang marah ke Vian.


"Bu. Dengarkan Riana dulu Bu," Riana yang berusaha untuk dirinya didengar oleh ibunya.


"Bu. Vian tidak salah apa-apa. Jika masalah Vian yang membantu kita, itu yang membuat Ibu marah. Riana akan menganti uang Vian."


Ibu yang mendengarkan perkataan Riana, langsung mengarahkan mukanya ke Riana.


"Menganti katamu. Ganti dengan apa Riana. Apa yang bisa kamu buat?" tanya ibu Riana yang memalingkan marahnya ke Riana.


"Riana bisa hasilkan uang dengan bernyanyi Bu."


Belum sempat Riana menyelesaikan bicaranya. Tiba-tiba ibu Riana menampar Riana. Tentu saja Riana tersentak diam. Vian yang melihat berusaha untuk membela Riana tapi Vian lebih memilih diam, karena Vian tidak tau masalah yang sebenarnya.


Riana yang ditampar oleh ibunya. Air mata tidak terbendung lagi dari mata Riana. Akhirnya air matapun membasahi pipi Riana. Ibunya yang melihat Riana meneteskan air mata. Ibunya terdiam dan merasa menyesal.


"Riana, maafkan Ibu," kata ibu Riana dengan suara terbata-bata.


Riana lalu mengarahkan badannya ke kepingan pecahan kaca yang berserakan di lantai. Riana lalu jongkok dan mengambil pecahan kaca sambil air mata yang masih mengalir.


"Bu. Apa salah ya kalau Riana ingin mengapai hobi Riana. Apa karena Ayah meninggal akibat Ayah yang dulu mengantar Riana ikut lomba nyanyi saat Riana kecil dan apa karena itu, Ibu melarang Riana untuk bernyanyi?" tanya Riana yang masih mengambil pecahan kaca piring.


"Bu. Saat dulu Ayah berkata ke Riana. Ayah dulu sangat menyukai Riana yang saat bernyani. Ayah dulu berkata ke Riana, agar Riana tidak berhenti bernyanyi. Ayah bangga denga Riana Bu dan Ayah bangga dengan anaknya yang bersuara merdu dan bernyanyi untuknya. Riana selalu bernyanyi untuk Ayah Bu. Agar Ayah di sana bisa mendengarkan Riana bernyanyi. Riana sayang Ayah," Riana yang menjelaskan kisahnya saat bersama ayahnya dulu makin banyak mengeluarkan air matanya.


"Riana maafkan Ibu," ibu Riana lalu mendatangi Riana dan jongkok di hadapan Riana, lalu memeluk Riana.


"Bu. Apa salah jika Riana tidak ingin menghapus kebanggaan Ayah ke Riana untuk menjadi penyanyi terkenal seperti yang Ayah inginkan dari Riana?" tanya Riana dalam pelukan ibunya.


"Riana. Ibu baru sadar. Ibu memang salah selama ini. Ibu tidak akan melarang kamu bernyanyi lagi," ucap Ibu Riana yang mulai mengeluarkan air mata.


"Riana juga minta maaf ke Ibu. Kalau Riana ke saat kemarin untuk ikut audisi. Riana telah membohongi Ibu. Riana takut bilang karena Ibu pasti akan melarang Riana untuk pergi. Tapi Riana lulus Bu. Riana lulus dalam audisi nyanyi. Riana akan dikontrak, namun Riana ingin mintak izin dari Ibu. Riana bentar lagi bisa mewujudkan keinginan Ayah. Riana ingin menunjukkan kalau Riana bisa untuk mewujudkan kemauan Ayah ke Riana dan Ibu tidak perlu susah payah mencari uang lagi kayak ini. Riana tidak ingin Ibu sakit," ucap Riana yang memandang muka ibunya.

__ADS_1


"Riana. Gapailah hobimu. Ibu akan memberikan dukungan. Riana pasti bisa, karena Riana anak Ibu. Oh iya, pria ini siapa Riana?" tanya ibu Riana sambil memandang Vian.


"Dia Vian Bu. Kakaknya Dila yang dulu menginap di rumah kita."


"Salam kenal ya Bu. Saya Vian Dirgantara," ucap Vian yang mendatangi ibu Riana dan mencium tangan ibu Riana sebagai salam perkenalan.


"Kakaknya Dila. Maaf atas tindakan ibu tadi ya Nak Vian," pintak ibu Riana.


"Tidak apa-apa Bu. Vian mengerti," ucap Vian sambil tersenyum ke ibunya Riana.


Setelah beberapa lama. Riana sudah mulai tenang dan tidak menangis lagi.


"Maaf ya Vian. Kalau Vian melihat kejadian ini. Riana merasa malu ke Vian," ucap Riana sambil menundukkan kepalanya karena malu.


"Tidak apa-apa Riana. Terkadang ada masalah yang mesti membuat menangis dan ada masalah yang membuat emosi orang muncul Riana. Tidak apa-apa jika air mata yang membuat keluar, karena itulah membuat perasaan kita merasa lebih tenang," ucap Vian sambil tersenyum ke Riana.


"Terima kasih Vian. Oh iya, kenapa Vian bisa sampai ke warung Riana. Bukannya Vian mau cari penginapan untuk tidur?" tanya Riana yang keheranan.


"Oh itu. Aku rencana mau tidur, tapi karena kebanyakan minum kopi. Aku tidak bisa tidur. Lagi pula ada yang mestiku beli di pasar dan waktu itu. Aku mendengar suara ribut dan aku melihat Riana, makanya aku kesini."


"Kalau penasaran. Temenin Vian deh," ucap Vian yang berdiri dari duduknya.


Riana yang mendengarkan perkataan Vian untuk ditemankan ke pasar. Riana lalu memintak izin ke ibunya. Ibu Riana mengizinkan Riana pergi bersama Vian.


Vian dan Riana pamit ke ibunya Riana. Saat di perjalanan. Vian dan Riana hanya berjalan kaki. Vian melihat-lihat tokoh sepeda. Setelah Vian salah satu toko sepeda. Vian lalu mengajak masuk Riana ke toko sepeda. Riana bingung dengan Vian yang menuju ke toko sepeda.


"Vian mau beli sepeda?" tanya Riana yang melihat Vian memilih sepeda.


"Iya untukmu. Karena sepeda Riana kan rusak akibatku. Makanya mau menganti," ucap Vian sambil memilih sepeda yang bagus.


"Vian. Tidak perlu Vian menganti sepeda untuk Riana. Lagi pula, Riana ada hutang ke Vian. Vian kan udah menolong hutang Riana."


"Kalau soal itu jangan dipikirkan. Aku tidak masalah dengan itu kok Riana."


"Tapi kan Vian."

__ADS_1


"Udah jangan dibahas soal itu," ucap Vian yang memotong bicara Riana.


"Nah ini bagus. Sepeda yang ini berapa Pak?" tanya Vian ke orang penjual sepeda.


"Itu seharga sejuta lima ratus," jawab sipenjual sepeda ke Vian.


"Riana suka?" tanya Vian yang mengarahkan mukanya ke Riana.


Riana tersenyum. Vian yang melihat Riana tersenyum. Vian lalu membeli sepeda tersebut. Vian lalu mengeluarkan uang tunai dari dompetnya dan membayarnya.


"Vian, makasih ya," ucap Riana sambil senyum ke Vian.


Vian yang melihat senyuman Riana merasa senang. Lalu mereka keluar dari toko tersebut. Riana yang mendorong sepeda barunya merasa sangat senang.


"Vian. Aku mau ajak Vian ke suatu tempat. Maukan Vian temenin Riana?" pinta Riana dengan merayu.


"Hmm, baiklah. Kita kemana Riana?" Vian lalu memberhentikan langkah kakinya.


"Tempat yang sudah bersejarah dalam hidupku. Tempat yang sering membuat Riana merasa tenang. Yok Vian."


Vian lalu menuruti perkataan Riana. Mereka berjalan beriringan, sedangkan Riana mendorong sepedanya.


Vian yang berjalan bersama Riana, sambil melihat sekelilingnya. Setelah lama berjalan. Mereka sampai di tempat yang dipenuhi oleh kelapa yang telah berumur tua dan berlokasi di tepi laut.


"Kita sudah sampai Vian. Tempat yang sangat berarti bagiku. Tempat yang mengigatkan Riana bersama Rey," ucap Riana yang melihat suasana di tempat tersebut.


"Siapa itu Rey?" tanya Vian sambil duduk bersandar di salah satu kelapa yang telah berumur tua.


"Rey adalah teman masa kecil Riana. Dia selalu membuat Riana bahagia saat masa kecil. Namun sekarang dia entah di mana. Dia berjanji akan bertemu. Tapi sampai sekarang tidak ada kabar darinya."


"Hmm ceritakanlah ke Vian. Masa kecilmu itu bersama Rey. Ku penasaran."


"Baiklah Vian."


Riana lalu segera menuju ke tempat Vian yang sedang duduk bersandar di pohon kelapa. Riana lalu menceritakan masa kecilnya bersama Rey. Vian dengan fokus mendengarkan cerita Riana tampa melewatkan satu katapun dari cerita Riana.

__ADS_1


__ADS_2