
Hari yang masih pagi terlihat Vian sedang duduk di luar rumah. Sedang menikmati minuman sebelum berangkat kerja. Tiba-tiba Dila melewati pintu keluar rumah dan melihat Vian.
"Pagi Vian," ucap Dila dengan senyum.
"Pagi Dila. Oh iya Dila hari ini saya ada urusan penting keluar kota. Untuk menemui client. Jadi urusan kantor hari ini kamu atur," kata Vian.
"Baik Vian?" setelah itu Dila berangkat ke kantor.
Setelah Vian menghabiskan minuman. Lalu Vian memanggil supirnya dan siap-siap berangkat keluar kota.
Dalam perjalan Vian yang panjang. Vian duduk di kursi belakang sambil melihat berita di hpnya.
"Jam berapa sampai ke daerah Teluk Bintang?" tanya Vian ke supirnya.
"Sekitar 1 setengah hari Pak," jawab supir yang melihat Vian dari spion dalam mobil.
Vian hanya menganguk dan meneruskan melihat hp di tangannya.
Hari berganti dan saat Vian sampai pintu masuk desa Teluk Bintang. Tiba-tiba mobil Vian berhenti.
"Kenapa berhenti?" tanya Vian sambil melihat situasi sekelilingnya.
__ADS_1
"Maaf Pak. Biar saya cek dulu," langsung keluar mobil dan memeriksa mobil.
Vian yang merasa kepanasan. Keluar dari mobil dan mendekati supirnya.
"Pak. Sepertinya mobil mogok Pak," kata supirnya saat Vian di sampingnya.
"Gimana ini. Padahal janji bertemu client jam 10.00 pagi," gumam Vian melihat sekelilingnya berharap ada ojek atau bus.
Vian tiba-tiba terkejut melihat jam tangannya menunjuk jam 8.30 pagi. Lalu Vian mengambil ponsel dari sakunya untuk menelvon clientnya kalau dia akan terlambat tetapi jaringan ponselnya tidak tersedia. Lalu Vian memasuk kan kembali ponselnya.
"Ya sudah Pak. Bapak teruskan saja perbaikinya. Saya duluan saja Pak."
Lalu Vian jalan kaki menelusuri jalan aspal. Vian sanggat panik karena clientnya yang mau ditemuinya sanggat penting. Tiba-tiba Vian melihat wanita bersepeda sedang melintas di depannya.
Lalu wanita itu mendekatinya. Vian merasa wanita ini tidak asing seakan pernah ditemuinya tapi Vian tidak bertanya soal pernah bertemu karena takut salah orang. Wanita itu ternyata Riana yang sedang mengantar pesanan sayuran. Riana tidak tahu kalau itu Vian yang ditemui di kantor Dila saat dulu (episode 19) karena Vian saat itu menyamar.
"Maaf bisa mintak tolong. Saya ada keperluan untuk menemui seseorang client saya. Jadi saya buru-buru. Mohon pinjamkan sepedanya karena saya mau ke pasar Teluk Bintang. Ini saya bayar sewa sepedanya," ucap Vian yang berkeringat dingin karena waktu bertemu client tinggal sedikit dan sambil mengeluarkan uangnya dari dompet.
"Hmm gimana ya," Riana yang sedang berpikir.
"Ini saya tambah uang sewanya," ucap Vian.
__ADS_1
Riana yang melihat uang yang berwarna merah banyak. Langsung tersenyum.
"Ok Kak kalau begitu," ucap Riani sambil tersenyum.
Lalu Vian membawak sepeda sedangkan Riani duduk dibelakang.
Lumayan uangnya. Rejeki anak sholeh haha. Aku mau traktir Kevin makan dengan uang ini. Dia selama ini terlalu baik samaku. Ucap Riana dalam hati.
"Bawak sepedanya kenapa lambat sekali," ucap Riana.
"Kamu terlalu gendut makanya berat ini," kata Vian yang bersusah payah mendayung sepeda.
"Apa mu bilang..!!" ucap Riana menjitak kepala Vian karena kesal di bilang gendut.
"Aduh..Memang kamu gendut. Berapa sih berat badanmu," Vian yang memegang kepalanya karena di jitak sama Riana.
Riana menjitak kepala Vian sekali lagi. Sehingga Vian untuk kedua kalinya merasakan tangan Riana yang mengarah kebelakang kepala Vian.
Kenapa aku merasa nyaman bersepeda sama dia. Aku juga dengan mudahnya menjitak kepalanya padahal aku belum tahu siapa dia. Aku seakan kami sudah kenal lama dan terbiasa sama dia. Ucap Riana dalam hatinya.
Tiba-tiba dalam perjalanan turun. Vian kehilangan keseimbangan. Riana pun menjadi panik melihat Vian yang panik.
__ADS_1
"Rem. Sepedanya di rem donk" teriak Riana panik.
Vian lalu mengrem sepeda, tetapi Vian salah menekan rem. Vian menekan rem depan sehingga sepeda mereka terbalik ke depan dan terjatuh.