
Hari yang baru telah mengantikan hari sebelumnya. Vian yang telah berada di rumahnya yang siap-siap akan ke perusahaannya untuk bertemu dengan client pentingnya.
Vian melihat jam tangannya yang menunjukkan jam 7 pagi. Vian lalu memanggil supirnya dan mereka pun berangkat ke perusahaan.
Saat Vian telah sampai di perusahannya. Vian langsung menuju ke ruangan kerja dan menghidupkan komputer.
Vian langsung mengerjakan kerjaan yang belum sempat dia selesaikan karena menjenguk Dila.
Saat beberapa lama di depan komputer, tiba-tiba pintu ruangan kerja Vian di ketuk. Vian lalu mempersilahkan seseorang untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Maaf Pak Vian. Ada tamu bapak bernama Diswa sedang menunggu Bapak di ruangan VIP," ucap Sekretaris Vian.
"Ya sudah. Aku akan segera ke sana," Vian lalu berdiri dan langsung menuju ke tempat tamunya.
Saat Vian membuka pintu ruangan VIP. Dirinya melihat Pak Diswa sedang duduk di kursi sofa. Vian lalu mendekati pak Diswa sambil menjabat tangan. Vian dan Pak Diswa pun duduk.
"Jadi gimana Pak Vian, waktu tinggal 18 hari lagi. Gimana proses pembuatan seberkas cahaya?"
"Selama ini baik-baik saja. Tidak ada hambatan."
"Sebelum tiga hari jadwal terakhir kita. Aku harap album sudah di rilis. Jangan sampai ada kesalahan sedikit pun Pak Vian. Karena saya menolak kontrak album perusahaan lain demi album perusahaan Bapak," jawab Pak Diswa sambil meletakkan ponsel di atas meja.
"Siap Pak. Saya mengerti."
"Vian. Ku dengar kamu kekurangan dana. Aku harap kamu bisa menyelesaikan urusan soal dana itu. Dalam waktu tiga hari aku ingin kamu mencari dana tersebut dan melihatkan kepada saya. Jika tidak bisa, maaf kontrak akan saya batalkan."
Vian yang mendengar perkataan dari Pak Diswa merasa cemas. Vian mencoba untuk tenang.
__ADS_1
"Baiklah Pak Diswa. Dalam tiga hari saya akan menunjukkan ke pada Bapak soal dana album tersebut," Vian menjawab sambil terlihat percaya diri.
"Ya sudah kalau begitu saya mau permisi dulu. Ingat Vian. Tiga hari lagi aku akan datang," Pak Diswa lalu berdiri dan menjabat tangan Vian.
Vian lalu mengawankan Pak Diswa keluar dari perusahaannya. Setelah Pak Diswa sampai di depan mobilnya. Supir Pak Diswa membukakan pintu mobil untuk Pak Diswa. Setelah itu mobil Pak Diswa pun pergi.
Vian hanya berdiri melihat kepergian Pak Diswa. Vian lalu masuk ke dalam perusahaan dan langsung menuju ke ruang kerjanya sambil merasa sedikit panik.
Aku harus mencari pinjaman. Tapi di mana?" Vian bertanya ke pada diri sendiri dalam hati.
Saat Vian sampai di ruangan kerja. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu. Vian pun mempersilahkan masuk.
"Maaf menganggu waktunya Pak Vian," ucap Dio yang masuk ke ruangan Vian dan duduk di depan meja kerja Vian.
"Ada apa Dio?" tanya Vian setelah melihat Dio duduk.
"Tidak ada apa-apa Dio. Mungkin karena kurang enak badan saja. Jadi kamu ke sini karena apa?"
"Vian. Kamu pasti memikirkan dana itu setelah bertemu dengan Pak Diswa. Aku bisa menebaknya," jawab Dio sambil tersenyum.
"Begini saja. Ayahku ada kenalan. Dia sangat kaya. Mungkin kamu bisa minta bantuan ke Ayahku. Gimana?" ucap Dio menawarkan ke Vian.
"Ke Ayahmu. Memangnya kamu yakin soal itu Dio?"
"Yakin. Kamu datangi Ayahku dan ceritakan apa yang kamu inginkan," Dio lalu berdiri dari kursinya.
"Kalau begitu aku pamit dulu Vian," Dio lalu menuju ke pintu keluar ruangan Vian.
__ADS_1
Setelah Dio keluar dari ruangan Vian. Dio terlihat seperti gembira.
Bentar lagi hari kehancuranmu dimulai Vian. Sepertinya kamu sudah masuk ke lubang perangkap. Ucap Dio dalam batin sambil berjalan dengan muka senangnya.
Vian yang sedang duduk sambil menyandarkan kepalanya di kursi. Vian masih mengigat perkataan Dio.
"Apa aku harus menemui Ayah Dio. Tidak ada salahnya mesti di coba," Vian lalu mengambil ponsel dari saku celananya dan menelvon ayah Dio.
Tidak beberapa lama. Ponsel Vian tersambung ke ayah Dio.
"Kenapa Vian?" tanya ayah Dio melalui ponsel.
"Maaf menganggu Pak. Tadi barusan Dio ke ruangan saya dan bilang kalau kawan Bapak bisa membantu soal dana untuk album seberkas cahaya. Apa benar kawan Bapak bisa membantu?" tanya Vian dengan agak ragu.
"Soal itu kemungkinan bisa. Lebih bagus kalau kita berjumpa sama kawan Bapak siang ini. Gimana, apa kamu sibuk siang ini Vian?" tanya ayah Dio.
"Siang ini bisa Pak. Vian juga tidak terlalu padat untuk jadwal di kantor."
"Bagus. Kalau begitu kita jumpa di restoran tempat biasa. Saya akan bawak teman yang akan meminjamkan dana."
"Terima kasih Pak."
"Sama-sama Vian. Sampai jumpa nanti siang," ayah Dio lalu memutuskan televon.
Vian lalu melanjutkan pekerjaannya di depan komputer yang masih terlihat cemas di mukanya.
*** Maaf untuk hari ini episode masih tidak terlalu panjang karena saya masih sibuk dalam aktivitas kerja authors. Mungkin sibuk authors sampai tanggal 18 bulan ini. Maaf jika tidak membuat nyaman para pembaca. Oh iya sebagai tanda maaf, authors akan kasih sedikit ceritanya. Bahwa kisah kenangan sedih akan mulai ke puncak masalah yang sebenarnya. Jadi untuk para pembaca, ikuti kisahnya terus di novel 'Kenangan Sedih'. Terima Kasih. ***
__ADS_1