
Hari yang berganti hari, Vian telah berada di rumahnya, sedang menikmati segelas susu hangat di pagi hari di depan teras rumahnya. Sambil melihat berita yang dibacanya melalui ponselnya. Vian terkejut kalau manajer musik yaitu David mengambil tindakan dalam waktu dekat untuk mengadakan audisi.
Memang Vian memberi wewenang ke David untuk mengurus personil baru yang akan mengisi album seberkas cahaya.
"Ku harap semua berjalan dengan lancar. Penyanyi lama masih sibuk dengan kontrak mereka masing-masing. Lagi pun mungkin ini ide yang tepat untuk mencari yang baru agar penonton merasakan suasana baru," ucap Vian yang berbicara sendiri sambil melihat ponselnya.
"Pagi Kak Vian," Dila menyapa yang membuat Vian terkejut.
"Kamu Dil. Kamu udah tau berita pagi ini. Beritanya membuat heboh publik," Vian lalu menegokkan berita di hpnya ke Dila.
"David..Hahaha. Dasar kamu ini, membuat publik berlomba dalam ikut kontes nyanyi," ucap Dila sambil melihat berita di hpnya Vian.
"Kantor bakal sibuk ini mengurus properti untuk lomba dan orang bakal ramai antri di perusahaan, sepertinya Kak," Dila tertawa kecil saat menyerahkan hp ke Vian.
"Ya begitulah. Kenapa tidak tempat lain. Ini malah di perusahaan. mungkin David panik," ucap Vian ke Dila sambil tertawa.
"Iya memang panik dia Kak. Aku dapat informasi kalau David, sering tertidur di meja kerja. Kayaknya dia sering bergadang memikirkan cara agar dapat personil yang bagus," jawab Dila.
"Hmm. Kasihan juga. Ntar aku keruangannya. Setidaknya membantu sedikitlah. Mencari personil bukan hal yang mudah. Salah sedikit bisa fatal," ucap Vian sambil meminum susu hangat.
"Iya sih Kak. Tapi Dila tidak bisa bantu. Dila harus mengatur jadwal acara TV, belum lagi mengejar jadwal berita dan permintaan desak dari wartawan. Stresku dibuatnya," jawab Dila sambil mengeluarkan nafas dengan kencang.
__ADS_1
"haha. Setidaknya dengan stres dirimu Dila. Bisa cepat tua dan mukamu gak seperti anak-anak," Vian pun tertawa ke arah Dila.
"Apaan si kamu Kak Vian, gak lucu tau..!!" ucap Dila yang menghabiskan minuman susu Vian yang masih tertinggal setengah. Lalu Dila kabur setelah menghabiskan minuman Vian.
Vian pun hanya terdiam dan tersenyum melihat tingkah adik angkatnya.
Dila adalah anak angkat dari Pak Hardianto yaitu ayah Vian. Pak Hardianto dulu mempunyai sahabat bernama Alka. Sahabatnya pak Hardianto yaitu Alka mengalami kecelakaan bersama istrinya dan dila, namun Dila hanya pingsan, yang parah adalah Pak Alka dan istrinya. Mereka dibawak ke rumah sakit. Pak Hardianto yang mengetahui sahabatnya masuk rumah sakit. Langsung menemui sahabatnya.
Setelah pak Hardianto menemui sahabatnya. Pak Alka berpesan ke pak Hardianto untuk menitip Dila yang anak satu-satunya. Dila yang saat itu berumur 12 tahun. Pak Alka mempercayai anaknya ke sahabatnya sendiri. Pak Hardianto yang merasa kasihan serta pak Alka sahabat karibnya dari kecil, menyetujui permintaan Pak Alka untuk yang terakhir.
Setelah kepergian Pak Alka. Dila pun dibawak ke keluarga Pak Hardianto. Saat pertama kali Dila ke sana. Dila melihat Vian sambil bermain piano. Dila selalu melihat secara sembunyi saat Vian bermain piano. Vian yang saat itu sudah kembali dari luar negeri.
Vian yang saat itu tidak terbiasa dengan kawan-kawan di sekolah, sehingga membuat Vian tidak bisa untuk beradaptasi ke Dila. Vian tidak banyak berbicara ke Dila, meskipun saat makan bersama.
Saat Vian sedang lalu di depan kamar Dila. Vian mendengar suara tangisan dari dalam kamar Dila. Vian pun berhenti dan membuka pintu sedikit pintu Dila. Terlihat sama Vian kalau Dila sedang menangis sambil memeluk erat foto kenangan ayah dan ibunya di tempat tidur.
Melihat Dila menangis. Vian jadi teringat sama seseorang yang sedang menangis tetapi ingatannya samar-samar. Vian pun mengetok pintu yang terbuka sedikit. Dila pun terkejut dan menghapus air matanya. Dila pun menarok foto tersebut ke bawah bantal.
"Boleh aku masuk?" tanya Vian.
"Boleh Kak," jawab Dila.
__ADS_1
Vian pun masuk ke kamar Dila dan duduk di samping Dila.
"Kamu kenapa menangis. Kamu teringat sama orang tuamu ya?" tanya Vian.
Itu adalah pertama kali Vian berbicara ke Dila. Dila yang tidak menyangka kalau Vian berbicara lembut ke Dila.
"Iya Kak. Maaf ya Kak, kalau Kakak melihatku seperti ini.!" ucap Dila dengan malu-malu ke arah Vian.
"Tidak apa-apa kok," ucap Vian.
Vian pun menghibur Dila. Dan dari kejadian tersebut. Vian dekat dengan Dila. Pak Hardianto yang melihat Vian sudah mengajak Dila bermain dan berbicara, merasa sangat senang.
Vian selalu mengajak Dila untuk bermain piano bersama. Dila yang diajarkan sama Vian merasa senang. Lama-lama Dila bisa bermain piano. Terkadang Dila yang tidak mau kalah melihat Vian bermain gitar. Dila mintak diajarkan bermain gitar. Vian pun mengajarkan Dila. Setiap alat musik yang dimainkan sama Vian, Dila pun bisa memainkannya.
Vian dan Dila satu sekolah, jadi kalau Dila di ganggu sama kawan cowok di sekolah, Dian akan menghajar orang yang berani menganggu Dila. Sejak itu tidak ada yang berani mengusik Dila. Dila pun merasa aman di sekolah karena Vian.
Saat mereka telah beranjak dewasa. Dila kuliah di universitas terkenal dalam negeri. Sedangkan Vian kembali ke luar negeri untuk kuliah.
Pak Hardianto ingin Dila bersama Vian ke luar negeri untuk menyelesaikan pendidikan. Namun Dila menolak dengan alasan agar bisa menjaga ayah Vian. Dila sudah mengangap Pak Hardianto sebagai penganti ayahnya dan juga mengangap Vian seperti kakak kandungnya sendiri. Begitu juga dengan Vian yang sudah mengangap Dila sebagai adik kandungnya.
Saat Vian di luar negeri. Dila selalu merengek untuk menyuruh Vian cepat pulang melalui ponselnya. Dila tidak terbiasa jika Vian tidak di rumah.
__ADS_1
Vian asal pulang ke rumah selalu di sambut oleh dila meskipun Dila sedang belajar di luar bersama kawannya jika mendapat televon kalau Vian sudah di rumah. Dila memilih pamit pulang ke kawannya dan menemui Vian. kawan-kawan Dila selalu berkunjung ke rumah Dila dengan alasan bermain jika mengetahui kalau Vian di rumah sedang liburan dari pendidikannya di luar negeri. Padahal Kawan-kawan Dila sebenarnya main ke rumah Dila hanya untuk melihat Vian. Banyak yang suka ke Vian, namun Vian tidak memperdulikan kawan Dila. Tentu saja membuat Dila mengejek kawannya dan tertawa jika kawannya mengungkapkan rasa ke Vian dan ditolak. Tidak ada satu pun kawan Dila yang mendapatkan cinta dari Vian. Bukan vian tidak mau mencintai seseorang atau menerima seseorang sebagai pendamping, hanya saja belum ada yang pas di hati Vian.