KENANGAN SEDIH

KENANGAN SEDIH
BAGIAN 78 KELAKUAN TIGA SEKAWAN


__ADS_3

Riana saat itu sedang duduk di samping tempat tidur Dila. Riana bertanya ke Dila.


"Kak. Riana dulu pernah bercerita soal Rey ke Kakak. Apa Kak masih ingat?" tanya Riana dengan suara kecil.


"Iya tau. Kak masih ingat. Kenapa memangnya Riana?" tanya Dila dengan heran.


"Riana mau jujur ke Kakak. Kenapa ya setiap bersama Vian. Riana seakan sudah lama bertemu dengan Vian, Bahkan terasa kami telah bertemu saat kecil. Riana melihat ke miripan antara Vian dengan Rey. Tadi disaat Vian memegang boneka dari pemberian Rey. Riana hanya diam, padahal sama orang lain Riana tidak mengizinkan siapa pun memegangnya termasuk ibu Riana sendiri. Namun saat Vian memegang boneka itu, Riana merasa kalau Vian berhak juga menyentuh boneka tersebut," jawab Riana seakan heran dengan apa yang terjadi dengan dirinya.


"Jadi Riana berangapan kalau Vian adalah Rey?"


"Iya Kak. Riana berfikir seperti itu. Riana tau kalau Vian waktu dulu kehilangan ingatan," jawab Riana sambil melihat ke arah Vian.


Dila hanya diam sejenak.


"Iya Riana. Dulu Vian pernah kehilangan ingatan. Tapi Kak tidak tau kisah lalu Vian saat kehilangan ingatannya dulu. Ayah Vian seperti tidak menginginkan Vian tau soal itu. Semua Foto album di keluarga Vian. Tidak pernah Kak nampak. Kak tidak tau apapun. Keluarga Vian waktu ke rumah. Kak tidak pernah berjumpa langsung sama keluarga Vian," ucap Dila sambil melihat muka Riana.


"Jadi Jika benar Vian adalah Rey. Riana tidak mau kehilangannya lagi."


"Jagalah apa yang kamu ingin jaga Riana," jawab Dila sambil senyum ke arah Riana.


Riana memandang Dila dan tersenyum.


"Tapi gimana caranya Riana bisa buktikan kalau Vian adalah Rey?" tanya Dila sambil tertawa kecil.


"Riana tidak tau Kak. Biar waktu yang menjawab. Jika memang Vian bukan Rey. Bisa jadi Rey sudah melupakan Riana," ucap Riana dengan muka terlihat sedih.


"Riana. Jangan menyerah begitu. Percayalah sama Rey. Dia pasti akan kembali."


"Riana akan mencoba Kak. Untuk menunggunya sampai kapan waktunya."


Karena ruangan Dila merupakan VIP. Ruangan tempat Dila di rawat sangat besar dan bisa buat 6 orang bisa tidur dalam satu ruangan tampa berdempetan.



"Kak. Riana mau tidur dulu. Perjalanan panjang membuat Riana letih."


"Gimana tidak capek. Lihat itu sudah jam 1 malam. Ya wajarlah kamu capek Riana."


"Tidak sadar Riana Kak. Sangka masih jam 10 malam," Riana lalu tertawa melihat jam dinding.


"Tidur di sana," Dila lalu menunjukkan tempat Riana tidur dengan tangannya.

__ADS_1


Riana lalu masuk ke salah satu kamar dan Riana melihat tempat meja tidur khusus yang bukan untuk pasien.


Memang rumah sakit ini sangat mewah. Kayak hotel saja. Ucap Riana dalam hatinya sambil masuk ke kamar mandi dalam ruangan tersebut.


Riana segera mandi karena badannya sudah sangat gerah. Setelah Riana selesai mandi dan berpakaian. Riana lalu segera tidur.


Vian, David dan Fano masih bermain game. Mereka bermain game dengan tenang meski mereka lebih banyak kalah dari pada menang.


"Sudah ahh," ucap Vian sambil meletakkan ponselnya ke lantai.


"Lah. Kalah langsung berhenti," Fano pun tertawa ke Vian.


"Capek aku. Bukan menjaga heroku malah kalian kabur," ucap Vian sambil sewot.


"Taktik Vian. Pakai taktik," David pun tertawa ke Vian.


"Dua anggota kita yang lain ini bodoh sekali. Itu saja tidak bisa bunuh. Malah kabur. Kalian juga ikutan kabur," jawab Vian sambil membaringkan badannya ke lantai.


David dan Fano pun hanya tertawa melihat Vian yang lagi kesal.


"Ya sudah. Kita sambung besok saja. Aku mau tidur," ucap David sambil berdiri.


"Ya deh. Aku juga mau tidur," Fano pun ikut berdiri.


Sekarang hanya tinggal Vian. Vian lalu berdiri dan mengarah ke tempat Dila.


"Sudah tertidur rupanya, adikku yang bandel ini," Ucap Vian bersuara kecil dan mencium kening Dila.


Vian lalu mengarah ke tempat David dan Fano tidur. Vian terkejut karena tidak kebagian kursi untuk tempat tidurnya.


"Tidur di mana lagi aku. Tidur di lantai tidak tahan," ucap Vian sambil mencari tempat untuk tidur.


Vian lalu melihat pintu kamar. Vian lalu mendekati pintu kamar tersebut. Vian melihat Riana tidur dengan nyenyak dan berselimut tebal.


"Gimana ini. Kamar ini sudah ada Riana. Tapi di mana lagi aku akan tidur. Ah masa bodohlah," Vian lalu naik ke tempat tidur Riana.


Vian karena sudah sangat mengantuk, mau tidak mau Vian tidur di samping Riana. Sebentar saja dirinya memejam matanya. Dirinya langsung tertidur.


Pagi pun tiba. David dan Fano terbagun dari tidurnya karena terkejut mendengar suara Riana yang berteriak keras.


David dan Fano langsung berlari ke arah tempat Riana berteriak.

__ADS_1


"Ada apa Riana?" tanya David setelah melihat Riana.


David melihat Riana berdiri di tepi dinding. David dan Fano terkejut melihat Vian yang masih tertidur di tempat tidur Riana.


"Vian. Tidak aku sangka selama ini kamu," ucap Fano sambil mendekati Vian yang masih tertidur.


Fano pun segera membangunkan Vian. Vian pun bangun dan dirinya setengah sadar melihat Fano dan David.


"Vian. Kamu apakan Riana tadi malam?" tanya Fano sambil heran melihat Vian.


Vian lalu melihat David. David hanya meletakkan telapak tangannya di keningnya sambil mengelengkan kepalanya.


"Aku kenapa?" tanya Vian yang langsung duduk di tepi tempat tidur.


"Masih nanya juga. Kamu habis lakukan apa ke Riana?" tanya David sambio mengelengkan kepala.


Tiba-tiba Vian teringat tadi malam. Vian langsung tersentak. Vian lalu melihat ke samping. Dirinya melihat Riana yang cemas sambil menempel di dinding.


"Riana. Ini bukan seperti yang kamu kira," ucap Vian sambil berdiri syok.


"Ternyata kamu selama ini Vian," ucap Fano sambil tertawa.


"Aku tidak apa-apakan Riana. Serius loh," jawab Vian panik.


"Riana kamu di apakan sama Vian?" tanya David sambil mendekati Riana.


"Tidak tau Kak. Tiba-tiba Vian sudah ada di samping tempat aku tidur," jawab Riana dengan sedikit cemas.


"Riana. Maaf tadi malam tidak ada tempat tidur lagi. Kursi sudah di ambil sama dua orang ini," ucap Vian sambil melihat Fano dan David.


"Maling mana ada yang mengaku," ucap Fano sambil melihat jari kukunya.


"Hey. Aku serius Fano. Aku tidak apa-apain Riana. Serius loh," jawab Vian mencoba meyakinkan mereka.


Fano lalu tertawa melihat ekspresi Vian. David pun tertawa kecil.


"Riana percayakan ke Vian?" Vian lalu mendekati Riana.


"Ya Riana percaya. Besok jangan gitu. Awas kalau sempat," ucap Riana sambil meletakkan selimut ke tempat tidur yang di pegangnya dari tadi.


"Iya Riana. Baguslah kamu percaya samaku Riana," Vian lalu menghirup nafas dalam-dalam dari hidungnya dan mengeluarkan dari mulutnya.

__ADS_1


*****Nantikan kisah selanjutnya dari kenangan sedih. Di berikutnya akan ada kisah mengejutkan dari seseorang yang berkunjung ke ruangan Dila...jangan lupa like ya dan vote ***


Bersambung**...


__ADS_2