
David dan Riana telah sampai di perusahaan RMD. Lalu saat mereka telah sampai ke dalam ruangan kerjanya David.
"Siva. Tolong kamu ajarkan ke Riana bagaimana mengatur emosi saat bernyanyi," ucap David ke Siva.
"Baik Pak David," jawab Siva sambil melihat ke Riana.
"Mohon bantuannya ya Kak Siva," ucap Riana saat di samping Siva.
"Siap Riana. Ya sudah sini duduk," ucap Siva sambil membagi duduk ke Riana.
"Siapa yang menyuruh kalian duduk santai. Sudah, langsung saja ke ruangan latihan. Ajarin Riana sekarang..!!" ucap David dengan kesal.
Siva dan Riana langsung berhamburan keluar. Siva dan Riana sedang menuju ke ruangan latihan sambil berjalan beriringan.
"Kak Siva. Kak David sangat bahaya ya," ucap Riana sambil tertawa.
"Iya. Selalu begitu. Sama fansnya dia juga begitu," ucap Siva sambil ikut tertawa.
"Fans. Emang David terkenal apa Kak?" tanya Riana sambil melirik ke muka Siva.
"Dia itu seorang Coverboy."
"Serius Kak. Tapi kenapa dia malah sampai ke dunia musik?" tanya Riana dengan penasaran.
"David itu, dia seorang musisi musik atau bisa dibilang komponis. Emangnya Riana tidak tau apa soal David. Kaliankan terus bersama," ucap Siva dengan heran.
"Habisnya David orangnya sangat tertutup Kak. Dia tidak ada cerita soal dirinya ke Riana."
"Tapi Riana kan bisa tau dari media sosial, kayak nonton atau konser," kata Siva yang masih melangkahkan kakinya ke arah ruangan latihan.
"Riana kalau di rumah jarang nonton. Riana sibuk bantu ibu jualan, makanya Riana tidak tau dunia luar."
"Hmm. Pantesan aja Riana tidak tau David," ucap Siva yang rasa heran ke Riana menjadi hilang.
Saat mereka telah sampai di ruangan latihan. Riana seperti biasa melihat orang banyak yang sedang latihan.
Siva pun mengajak Riana untuk ke salah satu tempat latihan dan mengajarkan Riana berbagai hal dalam pengontrolan emosi.
***
Di ruangan David.
David siap-siap untuk ke ruangan Vian. David lalu berkata ke Bima dan Yuni untuk mengkasih tau kalau ada yang ingin bertemu dengan dirinya, agar menunggu sampai David kembali.
__ADS_1
David pun segera menuju ke tempat ruangan Vian. David melangkahkan kakinya dengan sangat cepat.
Setelah sampai di depan ruangan Vian. Fano melihat David dengan raut muka David seperti mencemaskan sesuatu.
"Pak David kenapa?" tanya Fano dengan sedikit heran ke David.
"Si Viannya ada?" tanya David sambil mendekati meja Fano.
"Ada. Bentar ya Pak," Fano pun masuk ke ruangan Vian.
David pun berdiri di depan ruangan Vian sambil menunggu Fano keluar. Tidak beberapa lama pun Fano keluar dan menyuruh David untuk masuk.
Saat David masuk. David melihat Vian sambil kerja di depan komputer. Vian yang lalu mengarahkan pandangannya ke David. Vian lalu menyuruh David untuk duduk.
"Ada apa David?" tanya Vian yang melihat ke arah David.
"Begini. Soal Lisa".
"Kenapa dengan Lisa," Vian mengerutkan dahinya.
"Tadi waktu aku latihan sama Riana. Lisa datang ke aku. Katanya kalau dia akan jadi vocalis yang akan mengisi album seberkas cahaya. Dia sudah konfirmasi ke Presiden RMD. Apakah itu benar Vian?" tanya David dengan rasa penasaran.
"Aku belum tau pasti. Namun aku akan coba ke tempat induk perusahaan RMD. Aku akan menanyai soal ini."
"Serius kamu Vian. Kamu akan ke luar negeri hanya menanyakan soal ini?" David pun terkejut dengan perkataan Vian.
Vian lalu mengarah ke jendela besar yang berada di belakang meja kerjanya.
"Lagi pula kamu David. kamu tau sendirikan, Lisa seperti apa?" tanya Vian yang fokus melihat pemandangan kota dari jendela.
"Iya aku tau. Makanya setelah dia bilang seperti itu. Aku langsung menemuimu Vian. Karena sebenarnya aku tidak setuju kalau Lisa yang menjadi vocalis."
"Aku akan mintak ke Presiden agar mengurungkan niatnya soal Lisa menjadi vocalis," ucap Vian sambil mengarah ke arah David.
"Jadi kapanmu berangkat Vian?" tanya David sambil melihat Vian yang sedang menuju ke arahnya.
"Ya mungkin besok pagi aku ke sana," Ucap Vian sambil menekan tombol di meja kerjanya.
Tiba-tiba setelah menekan tombol tersebut. Fano masuk ke ruangan Vian.
"Ada apa Pak?" tanya Fano ke Vian.
"Pesankan tiket penerbangan keluar negeri. Aku mau ke perusahaan induk RMD. Buat jadwalnya besok pagi," ucap Vian yang melihat Fano.
__ADS_1
"Baik Pak," jawab Fano sambil keluar dari ruangan Vian.
"Jadi apa perkembangan Riana?" tanya Vian sambil mengarah ke tempat duduknya.
"Soal Riana, berjalan dengan lancar. Dia bisa dengan cepat mengerti setiap ajaran yang ku ajarkan ke dia."
"Sepertinya kedengarannya bagus. Terus di mana dia sekarang?" tanya Vian dengan sedikit tersipu malu dengan pertanyaannya.
"Dia lagi latihan untuk mengatur emosi saat bernyanyi," ucap David yang langsung berdiri.
"Ya sudah, aku berangkat dulu. Aku mau lihat latihan Riana dulu," David pun segera keluar dari ruangan Vian.
Setelah David keluar. Vian lalu segera menyelesaikan pekerjaannya.
Setelah menjelang sore. Vian lalu bersiap-siap untuk pulang dan langsung keluar dari ruangan pekerjaan. Vian lalu menuju ke arah Fano.
"Gimana dengan jadwal penerbangan?" tanya Vian ke Fano.
"Lancar Pak. Ini ID penerbangan Bapak," Fano lalu memberikan kertas ke Vian.
"Hmm. Ok Fano. Jika ada yang ingin mencari saya. Bilang saja kalau saya lagi di luar negeri."
"Siap Pak," jawab Fano sambil tersenyum.
David lalu meninggalkan Fano dan menuju ke arah mobilnya. Setelah sampai dan masuk ke dalam mobil. Vian lalu segera berangkat menuju pulang ke rumah.
Saat sampai di rumah. Vian melihat Dila sedang duduk di teras depan rumah. Vian lalu memakirkan mobilnya dan segera menuju ke Dila.
"Dil," ucap Vian sambil duduk di kursi sebelah Dila duduk.
"Ya Kak. Ada apa?" tanya Dila sambil meletakkan ponselnya.
"Besok pagi aku mau pergi ke luar negeri. Ada urusan ke Ayah," jawab Vian sambil membuka sepatu kerja dari kakinya.
"Urusan apa ke Ayah?" tanya Dila sambil melihat Vian.
"Soal Lisa. Katanya dia akan jadi vocalis album seberkas cahaya dan sudah dapat rekomendasi dari Ayah."
"Benarkah? kok bisa ya Kak?" tanya Dila dengan penasaran.
"Ya tidak tau. Makanya aku mau ke sana besok pagi."
"Maunya Lisa membuat orang pada repot," ucap Dila sambik tertawa.
__ADS_1
"Ya sudah. Ku masuk dulu ke dalam rumah. Aku mau istirahat dulu," Vian pun berdiri dan segera masuk ke dalam rumah.
Saat Vian sampai dalam ruangan tempat tidurnya. Vian lalu mengambil koper dan memasukkan beberapa barang ke koper untuk di bawak ke luar negeri. Setelah Vian selesai berkemas. Vian lalu berbaring di tempat tidur dan memejamkan matanya.