
Riana yang sedang latihan, tiba-tiba David menghampirinya. David melihat jam tangannya kalau hari sudah sore.
"Kita sampai sini dulu latihannya. Riana, nantik malam saya tunggu kamu di apartemen saya," David lalu mengasih sebuah kertas ke Riana.
"Apa ini Kak?" tanya Riana yang menerima kertas dari David.
"Di situ ada alamatku. Kamu tinggal mencarinya. Ya sudah, kalau begitu aku duluan. Jangan sampai tidak datang," David lalu pergi meninggalkan Riana.
Riana lalu membuka kertas tersebut, lalu membacanya. Setelah selesai membaca, Riana memasukkan kertas ke saku celananya. Riana lalu menuju ke ruangan Dila.
Saat di depan ruangan Dila. Dila bertanya ke ajudan Dila.
"Maaf Kak. Kakak Dila ada?" tanya Riana ke ajudan Dila.
"Ada. Tunggu sebentar," ajudan Dila lalu masuk ke ruangan Dila.
Tidak beberapa lama, ajudan Dila keluar dan menyuruh Riana masuk ke ruangan Dila.
"Riana. Gimana harinya dengan David?" tanya Dila sambil mempersilahkan Riana duduk.
"Davidnya menjengkelkan Kak. Aku disuruh menginap di apartemennya. Apa itu tidak gila Kak," Riana mengucapkan seakan jengkel.
"Yang benar kamu Riana. Tinggal di apartemen David. Ya Kak tidak tau mau mesti jawab apa. David mungkin punya alasan."
"Iya alasannya itu, agar Riana bisa latihan tepat waktu, mengatur pola makanan dan banyaklah Kak."
"Riana, dengarkan Kak. Untuk menjadi orang yang sukses butuh kesabaran dan giat. Riana coba ikutin kata David selagi itu untuk kesuksesan Riana, selagi itu hal positif sih."
"Ya Kak. Tapi tidak masalah berdua di apartemen. Ntar dia macam-macam ke Riana?" tanya Riana yang merasa cemas.
"Riana. Kak kenal David kok. Dia bukan tipe orang seperti itu," jawab Dila untuk menenangkan Riana.
"Ya deh kak. Malam ini disuruhnya Riana ke apartemennya."
"Malam ini. Jadi Riana mesti mengambil barang di rumah Kak dulu berarti," ucap Dila sambil berdiri.
"Kak mau ke mana?" tanya Riana yang melihat Dila berdiri.
"Ya bantuin kamu beres-beres. Katanya disuruh tinggal di apartemen David," Dila lalu mengarah ke pintu keluar ruangannya.
Riana lalu mengikuti langkah Dila. Dila dan Riana pun menuju ke mobil. Setelah mereka berdua dalam mobil. Mereka meninggalkan perusahaan.
__ADS_1
"Kak?" tanya Riana sambil memandang Dila mengemudi.
"Ya Riana."
"Terima kasih ya Kak. Sudah banyak membantu Riana."
"Tidak apa-apa Riana. Cuman bantu sedikit pun. Jadi jangan diambil pusing," Dila tertawa kecil sambil melihat Riana.
"Kak. Riana mesti omongin soal ini ke Vian kalau Riana tinggal di apartemen David. Tidak mungkin Riana main pergi saja."
"Soal itu, biar Kak yang sampaikan ke Vian. Lagi pula Vian lagi ada hal yang penting di omongin sama clientnya sekarang."
"Ya deh Kak. Nantik malam Riana akan menelvon Vian aja."
"Boleh. Telvon saja dia. Lagi pula Kak juga akan kasih tau soal Riana ke Vian juga."
"Ya Kak. Sekali lagi makasih ya Kak," ucap Riana sambil tersenyum ke Dila.
Dila yang melihat Riana tersenyum. Dila pun ikut tersenyum. Tidak beberapa lama, mereka pun sampai di rumah Dila.
Dila dan Riana masuk ke rumah. Riana langsung membereskan barang-barangnya yang akan dibawak ke apartemen David.
Setelah barang Riana telah dikemas. Riana lalu menunjukkan kertas pemberian David ke Dila. Dila pun membuka kertas tersebut dan membaca alamat apartemen David.
"Kenapa Riana? dari tadi Kak perhatikan muka Riana, seperti sedih," tanya Dila yang melihat muka Riana.
"Hanya perasaan sedih saja Kak. Padahal sudah nyaman bersama Kak Dila dan Kak Vian. Eh malah disuruh ke sana sama David," jawab Riana sambil menundukkan kepala.
"Tidak apa-apa Riana. Besok akan terbiasa. Hanya 24 hari lagi kok Riana. Kalau Riana sukseskan, Riana tidak lagi bersama David tinggalnya. Sudah jangan pikirkan itu. Untuk sekarang yang Riana pikirkan adalah bagaimana Riana bisa mengapai keinginan Riana," jawab dila agar Riana tidak sedih.
"Kak benar. Riana harus mengapai keinginan apa yang mesti Riana pertahankan. Kakak memang terbaik untuk Riana.
Dila yang mendengar perkataan Riana, membuat Dila tertawa kecil.
"Kakak kenapa?" tanya Riana yang sedikit heran ke Dila.
"Tidak ada apa-apa. Hanya saja perkataan Riana seakan sudah menjadi wanita dewasa," ucap Dila sambil tertawa.
"Yalah Kak. Riana mana mau terus seperti Anak-anak. Rianakan sudah besar."
"Iyalah tu. Udah dewasalah ya."
__ADS_1
"Sudah donk," jawab Riana dengan sambil tertawa bersama Dila.
Dila dan Riana berhenti di depan apartemen yang dikasih tau oleh David lewat kertas.
"Sepertinya di sini alamat apartemen David ini," Dila lalu keluar dari mobil.
"Ya deh Kak. Nama apartemennya sama dengan di kertas ini," jawab Riana sambil membaca kertas pemberian David.
"Ya sudah. Riana masuk saja. Bertanya ke resepsionis di dalam. Ini nomor kartu Kak. Kalau ada apa-apa, hubungi saja Kak."
Riana lalu menyimpan nomor Dila di ponselnya. Riana lalu mengambil tasnya lalu segera pamit ke Dila.
Setelah pamit, Dila lalu masuk ke mobilnya dan meninggalkan Riana. Riana yang melihat Dila sudah pergi jauh. Riana lalu masuk ke apartemen.
Riana lalu menuju ke resepsionis dan bertanya ruangan atas nama David. Resepsionis lalu mengarahkan arah ruangan David ke Riana.
Setelah selesai bertanya. Riana lalu menuju ke lift dan menuju ke lantai enam. Saat Riana di lantai enam, Riana lalu mencari ruangan yang dibilang oleh resepsionis.
Riana pun tiba di depan ruangan David. Riana lalu menekan tombol di pintu. Tidak lama kemudian, David pun keluar.
"Kamu rupanya Riana. Silahkan masuk."
Riana pun masuk sambil merasa ketakutan. Riana melihat sekeliling. Ruangan David nampak berantakan dengan kertas-kertas kerjanya.
"Kenapa memandang seperti itu. Apa karena berantakan?" tanya David yang menyandarkan tubuhnya ke dinding.
"Tidak Kak. Jadi Riana tinggal di sini ya Kak?" tanya Riana sedikit cemas.
"Iya, masih bertanya lagi. Kamu bisa tidur di sofa karena ruangan tidur hanya satu."
Riana hanya bisa diam. Baginya tidur di sofa sudah terbiasa bagi Riana. Riana lalu meletakkan tasnya di samping sofa.
"Aku lapar Riana. Buat dirimu berguna ya." David lalu menuju ke kamarnya.
Riana yang mendengar perkataan David, tentu saja Riana sangat kesal. Riana lalu menuju ke dapur dan melihat bahan-bahan masakan yang tersedia.
Riana pun memasak apa adanya sesuai bahan masakan yang tersedia. Setelah lama memasak. Riana lalu menghidangkan makanan di atas meja dan segera memanggil David dari balik pintu kamar tidur David.
David pun keluar dari kamar tidurnya. David lalu mencium bau makanan. David lalu menuju ke meja makan.
"Hmm jadi rupanya kamu bisa masak ternyata. Kamu sudah makan Riana. Kalau belum, kamu untuk hari ini boleh memakan makanan seperti ini. Tapi besok saya akan memilihkan makanan untukmu," ucap David dengan nada dingin.
__ADS_1
Riana lalu duduk di meja makan dan segera makan bersama David. Dalam hati Riana, Riana mencoba untuk tenang tampa mesti jengkel tengok sifat tidak peduli David ke Riana.