
Malam hari saat Riana sedang membuka isi tas. Riana mengambil boneka dari pemberian Rey. David yang melihat boneka tersebut. David langsung mengambil boneka tersebut.
"Kak David. Kembalikan bonekaku," Riana mencoba mengambil boneka tersebut dari David.
"Sepertinya boneka ini sangat berharga bagimu?" tanya David sambil mengasih boneka tersebut ke Riana.
"Iya. Boneka ini sangat berharga sekali. Riana tidak mau boneka ini rusak apa lagi hilang," Riana lalu memegang erat boneka tersebut dalam pelukannya.
"Hmm ya sudah. Jadi untuk malam ini, kita akan belajar mengatur pernapasanmu. Aku mau lihat hasil latihanmu saat siang tadi."
David pun menuju ke sebuah ruangan yang terdapat piano. David pun duduk di kursi piano dan Riana berdiri di samping.
David lalu melatih pengaturan pernafasan Riana sambil di iringi suara piano. Sesekali Riana kenak tegur oleh David dan terkadang kenak marah oleh David.
"Riana. Apa-apaan dengan kamu. Konsentrasi dalam latihan. Jika seperti ini percuma saja kamu punya suara merdu kalau kamu tidak bisa mengeluarkan emosi yang kamu punya dalam bernyanyi," ucap David dengan suara tegas.
"Riana dengar, dalam bernyanyi. Setiap vocalis mesti mengeluarkan perasaan saat bernyanyi. Di saat kamu mengeluarkannya, kamu bisa membuat para penonton merasakan perasaan musik yang kamu bawakkan."
"Baik Kak David," jawab Riana sambil menundukkan kepala.
"Ya sudah, kita ulangi lagi. Ingat Riana, emosi dan aturan nafas."
***
Suasana di rumah Vian.
Vian yang pulang dari perusahaan langsung menuju ke kamar mandi. Setelah Vian selesai mandi dan berpakaian. Vian lalu memanggil Riana.
"Kak Vian sudah pulang?" Dila lalu menghampiri Vian.
"Riana mana Dil?" tanya Vian ke Dila.
"Riana sudah tidak tinggal di sini."
"Tidak tinggal di sini. Maksudnya gimana Dil?" Vian merasa bingung dengan perkataan Dila.
Dila lalu menjelaskan ke Vian kalau Riana tinggal di apartemen David dengan alasan bisa memantau Riana dan melatih Riana dengan tepat waktu.
"Tapikan tidak mesti begitu. Kalau begitu aku mau menelvon David dulu," Vian lalu mengambil ponsel dari saku celananya.
"Kak Vian. Kalau saran dari Dila. Biarkan saja Riana di sana. Biar Riana kedepannya bisa lebih percaya diri. Kak taukan kalau menjadi penyanyi yang profesional tidak segampang yang kita kira. Banyak proses yang yang nesti dilatih dan dipersiapkan, apa lagi waktu yang dibutuhkan Riana hanya tinggal 25 hari lagi," Dila mencoba menjelaskan ke Vian.
"Ya Dila. Kamu benar, ini juga untuk kebaikan Riana kedepannya. Terima kasih sudah mengigatkanku Dila," Vian lalu tersenyum ke Dila dan membelai rambut Adiknya itu.
"Ku mau istirahat dulu Dil. Selamat malam."
__ADS_1
"Ya Kak. Selamat malam."
Vian lalu meninggalkan Dila dan menuju ke kamarnya.
***
Dalam apartemen David.
Pagi pun tiba. David lalu membangunkan Riana di sofa.
"Hey Riana. Bangun," David lalu mengoyangkan badan Riana agar Riana terbangun.
"Hmm. Bentar Kak David. Masih gantuk," ucap Riana sambil menutup matanya lagi.
David lalu mengambil sedikit air ke tangannya. David lalu menyemburkan percikan air ke muka Riana.
Riana lalu terkejut karena percikan air yang mengenai mukanya. Sontak saja Riana berdiri.
"Apa-apaan sih Kak," ucap Riana yang kesal ke David.
"Cuci muka dan segera ganti pakaian training. Ku tunggu di luar apartemen. 5 menit kamu sudah menemui saya di luar," David lalu keluar dari ruangannya.
Riana yang melihat David keluar dari ruangan. Riana lalu memasang muka geram.
"Dasar David gila. David Bodoh. Masih subuh ini pun. David nyebelin," ucap Riana sangat kesal.
Riana mendengar suara David. Riana lalu bergegas lari masuk ke kamar mandi. Riana mencuci mukanya dan menganti pakaian training.
Setelah Riana telah menganti pakaian. Riana lalu keluar apartemen dan menemui David di luar.
"Kamu telat 2 menit. Besok jangan telat lagi. Untuk hari ini kita maraton agar pernapasan menjadi teratur dan kamu bisa mengontrol dengan baik," ucap David menjelaskan ke Riana.
David pun memulai lari kecil dengan di iringi oleh Riana. Selama berlari kecil. David menjelaskan berbagai cara agar nafas bisa dikontrol dengan baik.
"Kenapa berhenti. Kamu capek?" tanya David yang melihat Riana berhenti.
"Iya Kak. Istirahat sejenak ya Kak," pintak Riana.
Riana lalu duduk di kursi tepi jalan. David pun menuju ke arah dan duduk di samping Riana.
"Baru segitu saja sudah capekmu Riana."
David lalu memberikan minuman jus ke Riana. Riana yang mau menolak tapi karena kehausan. Riana lalu menerima minuman dari David dan meminumnya.
Setelah berselang lama duduk. David memintak ke Riana untuk lanjut. Riana pun dengan terpaksa melanjutkan maraton bersama David.
__ADS_1
Setelah 2 jam maraton. David dan Riana kembali ke apartemen. David lalu menyuruh Riana istirahat agar menghilangkan keringat dari tubuh.
"Tunggu sekitar 20 menit. Sudah itu baru kamu mandi Riana. Kita berangkat ke perusahaan."
David lalu masuk ke kamarnya meninggalkan Riana di kursi sofa.
Riana mencoba untuk kuat karena Riana ingin menjadi penyanyi terkenal sesuai impiannya.
Setelah 20 menit berlalu, Riana lalu segera mandi. Riana menganti pakaian di kamar mandi langsung karena tidak ada ruang kosong bagi Riana untuk menganti pakaian.
Saat Riana keluar dari kamar mandi. Riana menyisir rambutnya dan merapikan dirinya. David yang melihat Riana namun tidak terlalu respon ke Riana.
David yang hanya duduk di kursi sofa sambil menunggu Riana. David lalu melihat Riana mengarah ke dirinya.
"Sudah selesai dandanya?" tanya David sambil melihat jam tangan.
"Hanya bedak kok Kak. Riana tidak pandai berdandan," jawab Riana sambil tertawa.
"Bukan urusanku kalau tidak pandai berdandan. Dah, yok kita berangkat sekarang."
David pun berdiri dan menuju ke mobilnya yang diparkir di luar apartemen sambil di ikuti oleh Riana.
Menyebalkan sekali ini orang. Makan apa sih orang tuanya saat mengandung dia. Untung saja Vian bukan seperti dia. Masa bodohlah dia seperti apa. Yang pentingku sudah ada Vian. Ucap Riana dalam batinnya sambil mengikuti David dari belakang.
Saat David Dan Riana sampai di mobil. Mereka pun masuk ke dalam mobil dan menuju ke perusahaan RMD.
Dalam mobil yang menuju ke perusahaan RMD, mereka berdua tidak bercerita. David yang fokus mengemudikan mobil sedangkan Riana hanya memandang pemandangan dari jendela mobil.
Saat mereka telah sampai. Mereka berdua pun masuk ke dalam perusahaan.
"Kamu duluan saja ke ruangan. Aku ada urusan penting sebentar. Nantik setelah saya selesai. Kita lanjutkan latihannya."
David lalu segera pergi meninggalkan Riana. Riana sangat senang bisa terlepas dari David. Riana lalu mengambil ponselnya dan menelvon Vian.
Setelah televon Riana ke Vian tersambung. Riana tersenyum sendiri karena televon Riana diangkat sama Vian.
"Halo Riana, Kenapa baru kasih kabar," ucap Vian melalui ponselnya.
"Maaf Vian kekasihku. Soalnya tadi malam mau telvon tapi Kak David latihan sampai larut malam Ponsel Riana juga di suruh matikan," jawab Riana melalui ponsel.
"Pantasan saja di telvon tidak aktif nomornya. Riana di mana sekarang?" tanya Vian.
"Ada di depan pintu masuk perusahaan."
"Vian tunggu di atas gedung. Sampai ketemu di sana kekasihku," ucap Vian lalu menutup televon.
__ADS_1
Riana tersenyum dengan perkataan Vian melalui ponselnya. Riana lalu menuju ke atas gedung untuk menemui Vian. Dalam perjalanan, Riana tidak sabar bertemu dengan Vian.