KENANGAN SEDIH

KENANGAN SEDIH
BAGIAN 81 KEMBALI KE RUMAH SAKIT


__ADS_3

Vian dan Riana keluar dari restoran setelah selesai makan. Vian melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan jam sepuluh malam.


"Riana. Sudah jam sepuluh kita harus balik ke tempat Dila. Besok kita lanjut ke tempat lain lagi bersama yang lain," ucap Vian sambil melihat jam tangannya.


"Ya deh Vian."


Mereka pun menuju ke luar wahana Disney. Saat mereka duduk di tepi jalan menunggu taksi. Vian memegang tangan Riana dan menatap Riana.


"Riana. Maaf ya kalau selama ini kalau aku jarang membawak jalan atau memberi kabar lewat ponsel," ucap Vian dengan sedikit sedih merasa bersalah ke arah Riana.


"Vian. Tidak seharusnya seorang pacar memberi kabar tiap hari dan tiap waktu. Masing-masing pasti punya kesibukan tersendiri. Riana sebagai pacar Vian bukan menuntut ini itu, tetapi justru ingin memberi semangat dan selalu ada di saat kapan pun untuk kekasihnya. Riana tidak mau membuat diri Riana sebagai beban Vian. Pacar bagi Riana adalah tempat kita curhat dan tempat kita menyandarkan pundak di saat diri kita tidak bisa menanggung beban sendirian. Jika Vian merasa letih menghadapi masalah. Datanglah dan sandarkan pundak Vian ke Riana dengan begitu Riana akan membuang rasa cemas itu," jawab Riana sambil tersenyum ke Vian.


Setelah mendengar perkataan Riana. Vian lalu mengarahkan tanganya ke belakang kepala Riana dan menarik kepala Riana ke dadanya.


"Terima kasih. Aku sangat mencintaimu Riana," jawab Vian sambil menempelkan kepalanya ke kepala Riana.


"Riana juga sangat mencintaimu Vian namun di sini banyak orang. Riana malu," Riana lalu melepaskan kepalanya dari tangan Vian.


"Maaf Riana. Tiba-tiba aku terbawak suasana."


Tiba-tiba taksi berhenti di depan mereka. Mereka pun masuk ke dalam taksi tersebut. Vian mengasih tau tujuan lokasi yang akan dituju ke supir taksi.


Dalam perjalanan Riana melihat suasana kota yang begitu ramai dari jendela mobil. Riana melihat bangunan yang dihiasi lampu yang bagus dan orang-orang yang padat sedang berjalan kaki.


"Ramai sekali Vian. Ini sampai pagi ya Vian kayak gini?"


"Iya, nama juga kota maju. Amerika loh ini Riana. Dua puluh empat jam tidak akan sepi di kotanya," jawab Vian sambil melihat suasana kota.


"Enak ya jadi Vian kapan pun pasti bisa jalan-jalan ke tempat yang di inginkan," ucap Riana yang masih melihat kota dari jendela mobil.


"Tidak Riana. Meski bisa kemana-mana tetapi ada yang tidak bisa ku jumpai."


"Tidak bisa Vian jumpai?" tanya Riana sambil memandang ke arah Vian.


"Kasih sayang di keluarga. Ayahku selalu sibuk sejak aku kecil. Di rumah hanya bersama Dila. Sebanyak apa pun uang, tidak akan bisa membeli kasih sayang," jawab Vian yang terlihat murung.


"Vian kan masih punya Riana dan kawan-kawan," Riana lalu memegang tangan Vian denga ke dua tangannya.


"Iya. Kamu benar Riana," Vian lalu menyandarkan kepalanya di bahu Riana.


Lebih dari sejam perjalanan. Mereka sampai di depan rumah sakit. Taksi pun menghentikan kendaraan di depan teras rumah sakit.


Vian lalu membayar jasa taksi dan mereka segeta keluar dari taksi. Mereka berdua pun segera masuk ke dalam rumah sakit dan langsung menuju ke ruang tempat Dila di rawat.


Saat Vian membuka pintu masuk ruangan Dila yang di iringi oleh Riana. Vian melihat David dan Fano duduk di sofa sambil main game. Vian langsung menuju ke arah David dan Fano sedangkan Riana menuju ke tempat Dila berbaring.


"Aku ikut dong," pinta Vian sambil mengarah ke arah David dan Fano.


"Orang cupu di larang party sama orang pro," jawab Fano.


"Apa! siniku buktikan sama kalian betapa hebatnya aku main," jawab Vian sambil duduk di samping Fano.


"Tidak usah. Terima kasih. Maaf anda kurang beruntung jadi lain kali saja mainnya," ucap Fano sambil fokus dengan game.


"Aku login. Awas kalian jika tidak undang," Vian lalu mengambil ponselnya.


"Vid. game selanjutnya kita akan kalah ini. Tuh Raja pembawak kalah datang mintak di invite," kata Fano sambil tertawa.


"Ayo lah Fano. Aku serius ini. Aku akan buat kalian menang," jawab Vian dengan semangat.


"Puisi lama," Fano mengatakan ke Vian sambil tertawa.


"Ini aku sudah login," Vian lalu melihat ke arah ponsel Fano.


Vian lalu menunggu David dan Fano selesai pertandingan. Setelah menunggu, akhirnya Vian di undang party oleh David. Mereka pun bermain bertiga.


"Waduh. Woi Vian. Kamu terjun player kamu ke mana. Kita berempat ke pochinki dan kamu sendiri ke tempat lain. Ealah kamu Vian," Fano mengelengkan kepalanya melihat kelakuan Vian.


"Sultan memang gitu. Terserah mau ke mana," jawab David sambil tetap memandang layar ponselnya.


Saat player Vian baru selesai terjun. Tiba-tiba playernya di tembak oleh player lain. Vian lalu mengamuk.


"Benarkan. Pasti mati duluan," ucap David dengan suara kecil.


Vian lalu melihat Fano tertawa. Vian melihat mendekatkan badannya ke badan Fano untuk melihat layar ponsel Fano.


"Itu ada di samping, tembak dia," ucap Vian sambil menunjuk ke layar ponsel Fano.

__ADS_1


"Yang sudah mati diam saja. Tengok saja yang pro main," Fano menjauhkan tangan Vian dari layar ponselnya.


"Ahh sudah. Aku mau makan buah dulu," ucap Vian kesal meninggalkan David dan Fano.


David dan Fano hanya tertawa melihat Vian meninggalkan mereka. Vian lalu menuju ke lemari di samping tempat tidur Dila. Vian melihat Riana dan Dila mengobrol.


"Jadi Kak beli alas untuk tidur Kak?" tanya dila seketika melihat Vian menuju ke lemari kecil.


"Aku kelupaan Dil," jawab Vian sambil meletakkan telapak tangan di keningnya.


"Terus Kak mau tidur di samping Riana. Mau buat alasan kalau alas tidur tidak ada?" Dila lalu melihat ke arah Vian sambil mengelengkan kepala karena kelakuan Vian.


"Iya itu pastinya," jawab Fano dari jauh.


Vian lalu melihat ke arah Fano yang masih main game bersama David.


"Tidak kok Dila. Ya sudah aku mau ke luar dulu mau beli alas untuk tidur dulu," Vian lalu mengarah ke pintu keluar.


"Aku mau ikut lah," Fano lalu berdiri dan menuju ke arah Vian.


David yang melihat Fano pergi. Dirinya pun ikut berdiri dan menuju ke arah Vian. Mereka bertiga keluar dari ruangan Dila. Sekarang hanya tinggal Riana dan Dila.


"Kemana para kru Kakak?" tanya Riana sambil memakan buah strawberry.


"Mereka sudah pulang dari tadi. Mereka sepertinya lelah makanya mereka cepat pulang. Eh kata Vian sebelum kalian pergi. Vian kasih tau kalau kalian berdua pergi jalan-jalan ya?" tanya Dila yang penasaran.


"Iya Kak."


"Kemana saja?" Dila merasa penasaran.


"Vian mengajak ke taman rekreasi Waikiki dan tempat Disney Kak."


"Wah berkencan juga nampaknya ya," Dila mengucapkan sambil tertawa.


"Apanya kencan kak, yang ada malah ketakutan Kak."


"Maksudnya ketakutan?"


"Iya. Vian mengajak ke rumah hantu di Disney," ucap Riana kesal.


Dila lalu tertawa mendengar perkataan Riana. Tapi Dila menghentikan tawanya karena membuat perutnya sakit.


"Ya kami seperti di teror Kak. Setiap ruangan berbeda selalu berbeda sensasi horornya Kak dan Vian sangat ketakutan sampai berkeringat," Riana lalu tertawa.


"Vian dari dulu sok hebat padahal penakut. Terus apa saja yang terjadi selama kalian di sana?" Dioa makin penasaran.


"Vian ada bilang waktu itu kalau dia tidak mau berurusan dengan boneka yang bernama Annabelle."


"Oh boneka Annabelle. Mungkin dia takut karena menonton film Annabelle makanya dia sangat ketakutan," jawab Dila yang memberikan penjelasan ke Dila soal Annabelle.


"Kakak tidak tidur?" tanya Riana sambil melihat jam di dinding.


"Tidak Riana. Kak belum ngantuk."


"Ya sudah, kalau begitu Riana temanin."


Dila hanya senyum ke Riana. Mereka berdua pun mengobrol.


Vian, David dan Fano hanya berjalan kaki sambil melihat sekeliling.


"Yok kita nongkrong di sana dulu," pinta Vian ke Fano dan David saat melihat tempat cafe.


Mereka bertiga pun menuju ke arah cafe. Vian, David dan Fano memilih duduk di meja yang terletak di lar cafe.


"Vid. Waktu berjalan sebentar lagi. Aku harus menemukan dana untuk pembuatan album," ucap Vian yang terlihat cemas.


"Ya makanya kamu harus cepat menemukan dananya. Kalau soal Riana masih bisaku atasi," jawab David sambil memilih makanan yang akan dia pesan.


"Ya aku rencananya pas pulang mau cari dana. Aku mau fokus ke sana."


"Kamu harus cepat Vian. Waktu kita hanya tinggal 19 hari lagi. Mencari dana yang besar bukan waktu yang singkat dan mudah," jawab Fano setelah memesan makakannya.


"Iya Fano aku harus bergegas. Namun kalau aku ke Indonesia. Siapa yang akan mengurus Dila. Aku bingung di situ," jawab Vian dan segera memesan makannya ke pelayan.


Setelah pesanan mereka di catat oleh pelayan cafe. Pelayan itu pun masuk ke dalam cafe.


"Biar aku saja Vian menjaga Dila," ucap Fano.

__ADS_1


"Kamu yakin Fano?" tanya Vian.


"Iya aku yakin. Aku sudah mengangap Dila seperti malika," jawab Fano dengan percaya diri.


"Malika? iklan kecap dong," David lalu tertawa.


Vian pun ikut tertawa mendengar perkataan Fano. Vian lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


"Jangan bilang kalau mau main game lagi?" tanya Fano sambil melihat Vian dengan muka masam.


"Tau saja kamu Fano," Vian lalu tertawa.


"Tidak tidak. Dari pada kalah mending tidak," jawab Fano sambil menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi.


"Ayok lah. Kapan lagi waktunya kita bisa ngumpul bareng seperti ini. Biasanya sibuk dengan kerja masing-masing."


"Gimana David?" tanya Fano sambil melihat David.


"Ya sudah. Ayok kita main," David pun mengeluarkan ponselnya dari saku celana.


"Wew. Ya sudahlah. Awas ya kalau terjun secara terpisah," Fano lalu mengeluarkan ponselnya juga.


Mereka segera fokus ke ponsel masing-masing. Mereka pun bermain game dengan ekpresi muka masing-masing.


David dengan muka ekpresi serius. Vian berekpresi kesal sedangkan Fano tertawa.


Saat pelayan datang mengantarkan pesanan makanan dan minuman yang di bawaknya dan meletakkan di atas meja. Setelah itu pelayan cafe itu segera pergi.


Selama mereka bermain tidak ada menang sekalipun. Mereka pun menghentikan main game dan segera memakan makan masing-masing.


"Vian. Aku melihat Ayahmu seperti cemas saat kalian pergi bersama Riana," ucap David sambil makan.


"Cemas seperti apa?" Vian merasa heran.


"Ya aku kurang tau pasti. Tapi aku perhatikan. Kayak ada sesuatu yang dia takutkan gitu," jawab David.


"Biarkan saja Vid. Aku tidak tau apa yang terjadi atau apa yang Ayah cemaskan ke aku," Vian melanjutkan makannya.


"Fano kamu kenapa tidak mau aku angkat kepala bagian di perusahaan?" tanya Vian sambil melihat ke arah Fano.


"Malas saja. Selama aku menikmati pekerjaanku. Bagiku tidam masalah meski hanya seorang ajudan," jawab Fano yang fokus mengunyah makannya.


"Yakin kamu Fano?" tanya Vian sekali lagi.


"Yakin. Aku merasa nyaman dan gajiku juga besar," Fano lalu tertawa setelah menjawab pertanyaan Vian.


Vian dan David memandang Fano dengan heran. Vian dan David melanjutkan makannya.


Setelah mereka selesai makan. Mereka mengobrol sambil tertawa bersama. Setelah selesai mengobrol. Vian melihat jam tanganya yang menunjukkan jam 12 malam.


Vian dan yang lain segera melanjutkan perjalanan untuk mencari alas untuk tidur. Setelah mereka menemukan sebuah toko yang menjual perlengkapan tidur. Vian segera menuju ke toko tersebut dan membeli apa yang di perlukannya.


Mereka pun segera kembali ke rumah sakit setelah mendapatkan apa yang ingin di beli. Saat mereka telah sampai di ruangan Dila. Vian melihat Riana mengobrol sama Dila dan Vian langsung meletakkan alas untuk tidur di tengah ruangan.


David dan Fano menuju ke tempat sofa dan langsung membaringkan badannya karena lelah.


"Fano. Dimana tas kami yang di antar sama taksi?" tanya Vian sambil mencari tasnya.


"Ada di dalam kamar tempat Riana tidur."


Vian lalu menuju ke ruangan satu lagi dan melihat tasnya yang di sandarkan di tepi ruangan bersamaan tas Riana.


Vian lalu meletakkan tasnya di samping koper dan Vian memilih baju untuk tidur dan segera menuju ke kamar mandi.


Vian segera membersihkan badannya. Setelah selesai mandi dan berpakaian. Vian langsung menuju ke ruang tengah dan membaringkan badannya ke tempat alas untuk tidur.


"Riana pergi tidur. Sudah jam berapa ini," ucap Vian yang melihat Riana masih duduk di samping Dila.


"Kak, Riana tidur dulu. Kak tidur lagi ya biar kesehatan cepat pulih," ucap Riana sambil berdiri dari duduknya.


"Iya Riana. Makasih ya sudah menemani Dila mengobrol," ucap Dila sambil senyum ke Riana.


Riana menganguk iya dan membalas senyuman Dila. Riana lalu menuju ke kamarnya dan segera pergi untuk mandi.


Setelah selesai mandi dan berpakaian. Riana membaringkan badannya ke tempat tidur.


Waktu tinggal 19 hari lagi. Dua hari lagi kata Kak David pulang. Aku harus semangat agar bisa membuat ibu bangga terutama ayah. Aku harus membuat ayah merasa bangga terhadap Riana. Seandainya ayah masih hidup. Apa yang akan ayah katakan ke pada Riana. Ayah, aku rindu sekali padamu. Ucap Riana dalam hatinya dan segera memeluk boneka pemberian Rey dan Riana memejamkan matanya.

__ADS_1


*** Episode selanjutnya Riana, Vian, David dan Fano pergi ke tempat rekreasi lain. Baca terus kisahnya di novel Kenangan Sedih. Jangan lupa like ***


__ADS_2