
Satu hari menjelang audisi. Saat itu hari siang. Riana sedang duduk di kedai ibunya. Menunggu Kevin yang akan menolongnya mengasih alasan ke ibunya agar Riana bisa pergi ke kota Blinda.
Setelah menunggu lama, Kevin pun datang dengan sepedanya. Riana pun senang melihat Kevin datang.
Riana lalu menyuruh Kevin masuk. Saat itu ibu Riana sedang nonton. Lalu Kevin masuk dan menemui ibu Riana.
"Permisi Ibu Riana," sapa Kevin.
"Ehh Kevin. Silahkan duduk. Ada apa Vin?" tanya ibu Riana yang menyediakan kursi untuk Kevin.
"Begini Bu. Ayah Kevin mintak tolong ke Riana. Dia ingin Riana ke kota Blinda untuk membantunya di toko beberapa hari. Karena karyawan ayah Kevin sedang cuti," alasan Kevin yang sebenarnya tidak ingin berbohong.
"Kapan Riana harus kesana Vin?" tanya ibu Riana yang melihat ke arah Riana.
"Ya sekarang Bu. Apakah boleh bu?" tanya balik Kevin.
"Ya deh Vin. Lagi pula Ibu tidak bisa menolak. Kalau ayahmu yang memintak."
"Makasih ya Bu," jawab Kevin sambil mengedipkan mata ke arah Riana.
Riana pun tersenyum ke Kevin.
Maafkan Riana ya bu yang mesti berbohong. Riana bukannya mau membohongi ibu, namun Riana ingin menjadi anak yang berguna yang bisa membantu membayar semua hutang ibu. Gumam Riana dalam hatinya.
Setelah itu Riana pamit ke ibunya dan Riana menuju ke depan kedai bersama Kevin.
"Kalau bukan karenamu Vin, mungkin aku tidak bisa pergi."
"Ya Riana. Aku akan selalu membantumu. Tenang saja," ucap Kevin sambil tersenyum.
Lalu Riana pamit ke Kevin dan langsung pergi menuju ke rumah.
Saat Riana sedang siapkan bajunya dalam tas. Saat semuanya beres. Riana lalu pergi ke Televon umum sambil menenteng tasnya dan menelvon Vian.
Saat televon Riana diangkat sama Vian. Riana merasa senang.
"Vian. Ini Riana," ucap Riana melalui televon.
"Iya Riana."
"Vian tidak lupakan?" tanya Riana yang berharap Vian tidak melupakan janjinya.
"Tidak. Tunggu aja di tempat yang dijanjikan."
"Baik Vian. Makasih ya."
"Iya sama-sama Riana perajuk. Hahaha."
"Kan mulai lagi tu," ucap Riana sambil tertawa.
__ADS_1
"Hahaha. Tidak kok. Hanya bercanda. Ya sudah. Sampai jumpa Riana," ucap Vian ke Riana.
"Ok Vian," lalu Riana menutup televonnya.
Setelah itu, Riana segera ke tempat penginapan yang dulu Vian menunggunya.
Riana pun menunggu Vian sambil duduk menikmati minuman. Setelah lama menunggu. Sebuah mobil berhenti di depan Riana. Lalu Vian keluar dari mobilnya.
"Vian. Tapi katanya, supir yang menjemput Riana," tanya Riana yang tidak menyangka kalau Vian langsung yang menjemput.
"Gak masalahkan? ntar kalau aku tetap yang maksa jemput. Malah Riana tidak akan mau, bukan," ucap Vian yang duduk di sebelah Riana.
Riana lalu memandang muka Vian dan senyum manja. Vian pun menyuruh Riana masuk ke mobil dan memasukkan barang bawaan Riana ke mobil. Lalu mereka pun berangkat.
Dalam perjalanan, mereka hanya berdua. Vian menyetir mobil dan Riana duduk di depan.
"Vian. Makasih ya udah jemput. Soalny jam segini. Bus tidak ada lewat."
"Tidak apa-apa. Santai saja Riana."
"Terus gimana dengan pekerjaanmu Vian di kantor?" Riana lalu memalingkan muka ke arah Vian dari samping.
"Udah jangan dipikirin," jawab Vian sambil tetap mengemudikan mobilnya.
"Kamu tau Dila dan orang-orang di perusahaan ya Vian?" tanya Sarah dengan penasaran jabatan Vian di perusahaan.
"Tunggu. Biar ku tebak. Vian tau segala hal di sana. Pastimu bagian operasional ya Vian?" Riana menebak jabatan Vian.
"Hmm ya bisa di bilang begitu," jawab Vian sambil tertawa.
Vian tidak mengasih tau ke Riana. Kalau Dia adalah Direktur RMD. Vian hanya tersenyum dengan tebakan Riana yang membilang kalau Vian adalah staff bagian operasional di perusahaan RMD.
Hari pun mulai malam. Vian yang melihat Riana tertidur. Vian hanya tersenyum melihat muka Riana yang imut saat tidur. Vian yang mengemudi lalu melihat sebuah restoran. Vian memutarkan mobilnya dan memakirkan di tempat restoran.
"Hay tukang tidur, bangun," Vian menepuk pundak Riana.
Riana pun terbangun. Tatapan Riana masih setengah sadar melihat Vian. Lalu Riana memejamkan matanya lagi. Vian yang melihat Riana memejamkan mata, langsung saja Vian menjentik kening Riana.
Riana lalu kesakitan sambil memegang keningnya dengan tangan.
"Aw Vian. Kenapa.!!" Riana melihat ke arah Vian yang tangannya masih menempel di kening.
"Kita makan dulu. Tukang tidur."
"Biarin aja tukang tidur," Riana mengejek Vian.
Vian hanya tertawa kecil melihat Riana mengejeknya. Mereka pun keluar dari mobil dan menuju ke restoran.
Saat mereka sudah di dalam restoran dan duduk. Vian dan Riana memesan makanan.
__ADS_1
"Riana. Masih gantuk?" tanya Vian sambil melihat mata Riana.
"Sedikit Vian."
Vian hanya mengeleng-gelengkan kepala lihat Riana. Lalu Vian melihat jam tangannya yang menunjukkan jam 20.13.
Setelah menunggu agak lama, makanan mereka pun tiba dan di hidangkan di atas meja mereka.
"Vian?" tanya Riana yang melihat sekelilingnya.
"Hmm?" Vian mengambil makanan bagiannya.
"Ini restoran mewah sekali. Uang kita cukupkah untuk bayar?" tanya Riana yang cemas.
Vian yang mendengar perkataan Riana, langsung tertawa kecil.
"Sudah makan aja. Soal bayaran aman," Vian lalu menyantap makanannya karena sudah lapar.
Riana pun segera makan.
"Tengok makanan. Matamu langsung melek ya Riana," ucap Vian yang mengeledek Riana.
"Biarin," Riana pun mengejek Vian.
Vian pun hanya tersenyum. Tidak disangka kalau Riana membuat dia terasa nyaman.
"Gimana makanannya, enak Riana?"
"Enak sekali."
Vian pun merasa tenang mendengar hal tersebut. Setelah Vian menghabiskan makanannya. Vian mengambil ponselnya dan mengecek email masuk. Riana melihat Vian yang sedang fokus dengan ponselnya, Riana tidak menganggu Vian sedikitpun.
Setelah Vian selesai dengan ponselnya, lalu memasukkan ponsel ke saku celananya.
"Yok Riana. Kita berangkat lagi," pinta Vian.
Vian sama Riana menuju ke kasir. Vian mengeluarkan kartu ATM dan membayar lewat via ATM.
Lalu mereka keluar dan menuju ke mobil. Vian pun menghidupkan mesin mobil dan mereka pun berangkat.
Riana lalu mengajak Vian gobrol. Terkadang mereka tertawa. Perjalanan mereka cukup jauh untuk ditempuh. Vian lalu berhenti di sebuah market dan membeli beberapa makanan kecil dan minuman untuk di perjalanan mereka. Sedangkan Riana menunggu di dalam mobil. Setelah Vian kembali ke mobilnya. Riana terkejut dengan barang yang dibeli oleh Vian.
"Banyak sekali makanan dan minuman yang dibeli," tanya Riana yang melihat Vian menyalakan mobilnya.
"Ya gak apa-apa. Mana tau tukang tidur mau tidur lagi. Jadikan aku kesepian," ucap Vian yang tersenyum ke arah Riana.
"Biar aku temanin ya Vian. Agar Vian tidak kesepian."
Vian pun senang mendengarnya. Setelah 12 menit berbicara. Riana tertidur. Muka Vian menjadi cemberut karena Riana tertidur. Vian membuka segel minuman kopi dan meminum kopi sambil mengemudi.
__ADS_1