KENANGAN SEDIH

KENANGAN SEDIH
BAGIAN 82 PEMANDANGAN YANG INDAH


__ADS_3

"Pagi-pagi sudah ribut !" ucap David yang mengerutu.


"Cepat Fano !" Vian mengetok pintu kamar mandi dengan sangat cepat.


"Oyy. Orang lagi fokus BAB. Pergi sana ke kamar mandi untuk pasien !" jawab Fano dari dalam kamar mandi.


"Riana lagi di kamar mandi pasien. Fano aku sudah tidak tahan ni. Perutku sakit. Ya elah ini orang," Vian tidak tahan sehingga memegang perutnya sambil jongkok.


"Ada apa sih?" Riana datang menghampiri Vian.


Vian tidak menjawab perkataan Riana. Dirinya hanya menahan sakit perut. Vian seakan tidak bisa bergerak untuk menuju ke kamar mandi pasien. Riana melihat Vian dengan merasa kasihan.


"Kak Fano. Sudah selesai?" Riana mengetuk pintu berharap Fano membukakan pintu.


"Sudah Riana," tidak berapa lama, fano keluar dari dalam kamar mandi.


Baru saja Fano membuka pintu, Vian langsung masuk ke kamar mandi sehingga Fano tertawa kecil setelah Vian menutup pintu kamar mandi.


"Kak sengaja ya buat Vian menunggu lama?" Riana melihat Fano dengan heran.


"Iya Riana," Fano lalu menuju ke tempat kursi sofa.


Fano lalu membaringkan badannya di kursi sambil melihat layar ponselnya sedangkan David melanjutkan tidurnya.


Riana pun kembali ke kamarnya dan melanjutkan tidur. Tidak berapa lama, Vian keluar dari kamar mandi. Vian merasa kesal ke Fano.


Vian lalu menemui Fano dan menjitak kepala Fano yang sedang memejamkan matanya. Sontak saja Fano terkejut dan melihat Vian di di dekatnya.


"Kamu sengaja ya Fano," Vian mengucapkan dengan kesal.


Fano lalu tertawa keras. Vian lalu memukul Fano layaknya anak kecil. David yang lalu terbangun karena mendengar suara Vian dan Fano . Dirinya menengok Vian dan Fano berkelahi layaknya anak kecil, David hanya diam dan melanjutkan tidurnya.


Saat mereka berdua telah lelah dengan acaranya. Vian lalu menarik Fano dari tempat kursi dan Vian langsung berbaring di kursi.


"Gantian," ucap Vian yang mengambil tempat Fano tidur.


"What the hell," ucap Fano yang mencoba menarik Vian tetapi sia-sia.


Vian hanya menutup mukanya dengan selimut yang dipakai oleh Fano. Karena Fano tidak bisa menarik Vian dari tempat tidurnya. Dirinya menuju ke tempat tidurnya yang dipakai oleh Vian. Mau tidak mau Fano akhirnya berbaring dan segera tidur.


Pagi pun tiba dengan di iringi bau aroma roti bakar. Vian yang mencium aroma tersebut langsung membuka matanya dan melihat David sedang menikmati roti bakar sambil melihat layar ponsel.


Vian merasa lapar dan segera berdiri menuju ke tempat David.


"Hari ini kita jalan-jalan yok Vid. Sebelum pulang ke Indonesia," ucap Vian sambil mengambil roti dan ikut duduk di kursi tempat meja David yang lagi menikmati rotinya.


"Boleh. Kita kemana?" David lalu meletakkan ponselnya di atas meja.


"Nanti kita pikirkan," Vian lalu berdiri dan mengambil sepotong roti lagi.


David hanya melihat Vian pergi. Dirinya pun kembali melihat layar ponselnya. Vian lalu mengarah ke kamar mandi. Saat di depan pintu kamar mandi. Vian tidak bisa membuka pintu kamar mandi.


"Ada orang di dalam?" tanya Vian sambil mengetuk pintu.


"Yu huu," ucap seseorang dari dalam kamar mandi yang tidak lain adalah Fano.


Vian yang mendengar suara Fano. Dirinya langsung menuju ke tempat Riana dalam keadaan lunglai. Ia melihat Riana sedang melipat baju-bajunya agar tersusun rapi di tas dari dalam ruangan tempat Riana tidur.


Vian duduk di samping Riana dan memperhatikan Riana yang sedang melipat baju.


"Kenapa sayang?" Riana lalu melihat ke arah Vian.


"Gak kenapa-napa. Mau nengok," jawab Vian yang masih memperhatikan Riana.


"Oh iya. Nanti kita pergi jalan-jalan bersama David dan Fano," ucap Vian sambil membaringkan badannya.


"Serius. kemana kita?" Riana menghentikan melipat kainnya.


"Kita ke Grand Canyon."


"Jam berapa kita ke sana Vian?" tanya Riana terlihat semangat.


"Jam 10 kita ke sana," jawab Vian sambil melihat jam dinding.


"Terus Kak Dila gimana?" Riana terlihat sedih.


"Tenang saja. Aku akan minta tolong ke kru Dila."


"Ya deh Vian. Kalau gitu, Riana mau mandi dulu."


"Mandi lah," jawab Vian yang masih dalam keadaan berbaring.


Riana melihat ke arah Vian. Saat lima menit, dirinya masih melihat Vian.


"Apa?" tanya Vian karena di lihat oleh Riana.


"Riana mau mandi. Keluar dulu lah Vian," Riana lalu berdiri dan menarik tangan Vian agar berdiri juga.


Vian pun lalu berdiri dan mencium pipi Riana sebelum meninggalkan ruangan. Setelah Vian keluar dari ruangan, Riana langsung menutup pintu dan menuju ke kamar mandi.

__ADS_1


Vian yang sedang menuju ke tempat Dila dan melihat Dila sedang menonton siaran.


"Dil. Aku dan yang lainnya mau keluar jalan-jalan dulu ke tempat Grand Canyon. Nanti aku suruh kru Dila menemani Dila tidak apa-apakan?" tanya Vian sambil duduk di samping tempat Dila terbaring.


"Iya tidak apa Kak. Tapi kalau Dila sudah sehat. Kak ajak Dila ya jalan-jalan," Dila menjawab dengan sambil tersenyum.


"Iya. Soal itu aman," ucap Vian.


"Aku bangga punya adek seperti dirimu. Tidak nego-nego dan selalu bersikap dewasa," Vian lalu mencium kening Dila.


Vian mendengar pintu kamar mandi pasien yanh sedang dibuka. Dirinya melihat Fano baru keluar dari kamar mandi.


"Aku mau mandi dulu Dil."


"Iya Kak."


Vian lalu mengarah ke tempat kopernya dan mengambil pakaian yang akan dipakai. Setelah memilih pakaian, dirinya langsung menuju ke kamar mandi.


"Fano. Aku dapat kostum bagus dari peti," ucap David yang melihatkan layar ponselnya ke Fano.


"Bagus ini. Aku juga ingin," rengek Fano ke David.


"Cuma orang tertentu yang bisa mendapatkannya," jawab David sambil tertawa.


"Eleh. Macam iya betul lah kamu ini," Fano lalu mengambil ponselnya dari saku celana.


"Coba tengok ya. Apa yang aku dapat, pasti lebih bagus," Fano lalu duduk di samping David.


Saat Fano mencoba keberuntungannya di dalam game, namun semuanya zonk. David yang melihat kesialan dari Fano. Dirinya tertawa sehingga membuat Fano kesal.


"Masa bodoh dengan kostum. Yok kita main," ucap Fano dengan sedikit kesal.


"Ayo. Aku harap player kamu cepat mati," David makin tertawa.


"Tengok saja nanti."


Fano dan David memulai permainan mereka. Seperti biasa, Fano dan David bermain dengan tertawa dan terkadang berbicara dalam keadaan tegang.


Tidak beberapa kemudian, Riana keluar dari ruangan dan menuju ke tempat Dila.


"Kak mau makan apa?" Riana lalu duduk di samping tempat tidur Dila.


"Tolong ambilkan anggur dalam kulkas Riana. Kak mau makan Anggur saja," pinta Dila sambil menunjuk ke arah kulkas.


"Iya Kak tapi Riana cuci dulu ya Kak anggurnya," Riana segera berdiri dan mengambil semua anggur.


Riana pergi ke tempat cuci tangan dan mengunakan tempat cuci tangan untuk mencuci anggur.


Tampa mereka sadari vian telah berada dekat mereka David dan Fano.


"Vid. Siap-siap lah. Kita mau pergi lagi," Vian lalu duduk di kursi sofa.


"Ok. Vian tolong mainkan punyaku," David lalu memberikan ponselnya ke Vian.


Fano dan Vian melihat Riana meletakkan anggur di atas meja. Setelah itu Riana pun pergi menuju ke tempat Dila.


"Ini Kak," Riana meletakkan piring di samping Dila terbaring.


Tiba-tiba dokter bersama perawat masuk dan mencek kondisi Dila. Infus Dila di ganti oleh perawat dan dokter pun berbicara ke Dila.


Tidak lama kemudian, para kru Dila datang dan menyapa Vian, Fano dan Riana. Mereka pun ada sebagian ikut duduk di tempat Vian dan ada juga melihat dila di periksa dokter.


Setelah David selesai mandi dan berpakaian. David menuju ke ruang tengah dan langsung menuju ke Vian.


"Semua telah siap. Kapan kita berangkat?" David bertanya ke Vian sambil melihat jam tangannya.


"Ya sudah tunggu di sini sebentar," Vian lalu menuju ke arah salah satu kru Dila.


Vian lalu memintak ke mereka agar menjaga Dila. Mereka pun setuju. Vian pun menuju ke Dila.


"Dil. Aku dan yang lain mau berangkat," ucap Vian sambil melihat Dila di periksa dokter.


"Ya Kak. Hati-hati ya," jawab Dila.


Riana, David dan Fano menuju ke Dila dan meminta izin. Lalu mereka semua mengambil barang masing-masing. Mereka pun keluar dari rumah sakit dan segera memesan dua taksi secara online.


Saat dua taksi telah berhenti di depan mereka. Vian dan Riana masuk ke dalam taksi yang sama sedangkan Fano dan David di taksi yang sama pula.


Mereka lalu berangkat menuju ke grand Canyon. Riana kelihatan seperti tidak sabaran menuju ke sana.


"Kenapa terlihat tegang Riana?" Vian yang melihat Riana langsung tertawa.


"Bukan tegang Vian tapi semangat."


"Eh. Sangka tegang," Vian tertawa yang seakan mengejek Riana.


Setelah beberapa lama menempuh perjalanan. Vian menyuruh supir taksi menuju ke Las Vegas. Supir taksi melanjutkan perjalanan mengarah ke Las Vegas.


Saat mereka telah sampai ke Las Vegas. Riana melihat beberapa helikopter. Taksi pun berhenti di depan pintu masuk di tempat pangkalan helikopter.

__ADS_1


Mereka pun turun dari taksi. David dan Fano langsung menuju ke tempat Vian dan Riana.


"Jadi tujuan ke Las Vegas untuk menyewa helikopter?" tanya Fano sambil melihat sekelilingnya.


"Iya Fan. Grand Canyonkan bagus dilihat dari atas."


Mereka lalu menuju ke tempat dalam gedung dan memesan dua helikopter.


"Vian bukankah terlalu mahal memesan dua helikopter?" tanya Riana sambil bisik ke Vian.


"Sudah jangan ditanya soal itu. Lagi pula David setuju dua helikopter agar tidak sempit. Dia yang bayar helikopternya sendiri apalagi dengan dua helikopter bisa bermanja sambil lihat Grand Canyon sama Riana," bisik Vian sambil tertawa kecil.


Riana lalu mencubit pingang Vian. Vian lalu melepaskan cubitan Riana yang menempel sambil sedikit tertawa. David hanya melihat kecandaan Riana dan Vian. David mencoba untuk tidak memperdulikan tetapi tetap muncul sedikit rasa cemburu.


Mereka pun menuju ke tempat helikopter setelah selesai membayar uang sewa. Dua helikopter pun menyala.


Vian dan Riana masuk ke dalam helikopter yang berbeda dari Fano dan David. Setelah mereka di dalam, helikopter pun mulai naik ke udara.


Kedua helikopter pun menuju ke arah Grand Canyon secara bersamaan. Vian dan Riana memasang Headset.


Tidak beberapa helikopter pun sampai ke Grand Canyon. Lagi-lagi Riana di buat kagum oleh pemandangan yang di lihat dari bawah mereka.



Vian lalu memegang tangan Riana. Vian ingin membuat Riana terlihat. Selama ini Vian jarang membawak Riana jalan-jalan selama di Indonesia.


Mereka menelusuri Grand Canyon dengan keindahan alam yang terbentuk secara alami. Setelah beberapa lama. Helikopter pun segera menuju ke danau Mead.



"Ini danau apa Vian?" tanya Riana lewat headset yang terpasang di telinganya.


"Ini danau Mead. Baguskan?" tanya Vian sambil memeluk bahu Riana.


"Iya. Bagus Vian," Riana dari tadi memandang ke arah bawah untuk menikmati pemandangan.


Setelah selesai menelusuri danau Mead. Kedua helikopter pun melanjutkan perjalanan ke Hoover Dam.



"Lihat itu Riana. Itu salah satu bendungan terbesar. Namanya Hoover Dam," ucap Vian sambil melihat ke bawah.


"Bendungan. Kalau itu sempat hancur pasti bahaya sekali."


"Iya jangan di bilang. Beberapa kota pasti terendam air," ucap Vian yang masih melihat ke arah bawah.


"Makasih ya Vian," ucap Riana sambil melihat ke arah Vian.


"Buat apa?" tanya Vian yang melihat Riana dalam keadaan heran.


"Sudah membawak Riana menikmati keindahan dan suasana bagus selama Riana di Amerika," jawab Riana sambil memegang tangan Vian.


"Sudah kewajiban pasangan laki-laki untuk buat wanita yang dicintai merasa senang dan bahagia," Vian lalu tersenyum ke Riana.


Riana tersenyum mendengar perkataan dari Vian. Selama beberapa jam perjalanan. Helikopter pun kembali ke pangkalan. Vian dan Riana merasa sangat puas.


Helikopter pun mendarat. Mereka pun keluar dari helikopter. Vian melihat jam tangan yang menunjukkan jam 2 siang.


"Gimana perjalanan kalian?" tanya Vian ke David dan Fano.


"Seru dan menantang," jawab Fano.


David hanya menganguk iya dan mereka berempat menuju ke luar pangkalan helikopter dan menuju ke jalan.


Mereka berempat pun menunggu taksi. Setelah dua taksi berhenti di depan mereka. Mereka pun berangkat menuju ke sebuah restoran.


Setelah mereka sampai di depan di sebuah restoran. Mereka pun duduk di tempat meja yang sama.


Pelayan restoran pun datang menghampiri mereka.


Gawat. Pasti David melarang aku makan yang bisa membuat masalah pada tengorokan. Ucap Riana dalam hati.


Vian melihat Riana seperti memikirkan sesuatu. Vian pun bisa menebak aoa yang di pikirkan oleh Riana.


"Sudah. Pesan saja apa yang kamu mau Riana," pinta Vian ke Riana.


"Vid. Biar saja Riana memakan apa yang dia mau. Anggap saja ini hari spesial kita. Jadi tidak ada sangkut paut dengan urusan kerjaan," ucap Vian ke David.


"Iya. Hari ini bebas," jawab David.


Riana merasa senang mendengar perkataan David. Dirinya pun segera memesan makanan yang membuat dia penasaran dengan nama makanan dan bentuk makanan yang tertera di daftar menu makanan.


Setelah mereka berempat memesan makanan. Pelayan itu pun segera pergi.


"Besok kita pulang jadi gunakan hari ini sebaik mungkin. Jadi kemana tujuan kita selanjutnya?" Vian lalu memandang ke arah David dan Fano.


"Kita ke Monkey Jungle. Tempat saudara Fano. Fano sudah lama mau pulang kampung," jawab David sambil tertawa kecil.


"What the hell. Gila kamu David. Bilang saja kamu yang kangen," ucap Fano ke David sambil tertawa gantian.

__ADS_1


Tidak beberapa lama kemudian. Pelayan restoran datang dan menghidangkan makanan mereka. Setelah pelayan restoran pergi. Mereka pun segera makan.


__ADS_2