
Mereka kembali ke ruangan tengah sedangkan Riana pergi untuk mandi.
"Kenapa sih tadi ribut-ribut?" tanya Dila ke Fano.
"Itu Vian lagi berbuat me*sum. Dia tidur di tempat Riana," jawab Fano sambil tertawa.
"Yang benar Kak?" Dila pun terkejut mendengar jawaban dari Fano.
"Aku gak gapain-gapain. Cuman tidur dilantai dingin. Kursi udah di isi sama mereka berdua. Jadi mau tidak mau samping Riana," Vian lalu tertawa kecil.
"Dasar kamu Kak. Meski begitu nantik kata orang gimana?"
"Iya maaf. Aku akan pergi keluar nantik untuk beli alas untuk tidur," jawab Vian.
"Aku mau mandi dulu," David lalu pergi ke ruang mandi satu lagi yang di gunakan sebagai kamar pasien.
"Aku mau keluar, mau cari makanan. Dila mesan apa?" tanya Fano sambil melihat jam tangan.
"Tidak ada Kak," jawab Dila sambil senyum.
"Baiklah. Aku berangkat dulu," Fano lalu meninggalkan ruangan.
"Mau makan apa Dila?" tanya Vian sambil duduk di tepi tempat Dila berbaring.
"Mau mangga Kak."
Vian lalu mengambil mangga di atas lemari kecil. Vian lalu menuju ke tempat cuci tangan dan baru membuka kulit mangga dengan pisau.
Setelah selesai membuka kulit mangga. Vian lalu menyuapin Dila.
"Bentar lagi adalah hari Riana akan menentukan proses nyanyinya untuk album seberkas cahaya. Presiden perusahaan RMD pasti ingin kepastian. Aku belum pernah bilangkan ke Dila soal Ayah tentang Riana?" tanya Vian sambil menyuapin Dila.
"Belum Kak."
"Sewaktu aku pergi kemarin bertemu Ayah. Ayah bilang akan ke Indonesia. Dia akan menilai suara siapa yang akan lebih baik. Lisa atau Riana."
"Bukankah Ayah tau kalau dulu perusahaan mengalami kerugian besar dan Lisa termasuk dalam peristiwa itu. Kenapa Ayah juga menyuruh Lisa lagi padahal sudah ada Riana."
"Karena Ayahnya Lisa memintak ke Ayah. Tentu saja Ayah tidak bisa menolak. Karena Ayah Lisa pernah berjasa ke perusahaan RMD," jawab Vian.
"Terus David tau tentang ini?" tanya Dila sambil mengunyah makanan di mulutnya.
"Sudah tau. David sekuat mungkin melakukan yang terbaik untuk Riana."
"Ya semoga Ayah memilih Riana."
"Ya aku juga berharap gitu Dil. Tapi tau kalau Lisa dengan berbagai cara ingin mendapatkan apa yang dia inginkan meskipun cara curang sekalipun," ucap Vian dengan sekidit cemas.
"Kak kan direktur utama anak perusahaan. Kak bisa menghandle soal itu," jawab Dila sambil melihat ke arah Vian.
"Tapi ini keinginan Ayah. Tau kan keras Ayah seperti apa?" tanya Vian ke Dila sambil meletakkan biji mangga.
"Iya Kak. Dila tau."
"Tapi aku akan tetap berusaha agar Riana menjadi vocalis."
"Caranya gimana Kak?"
"Tengok saja sampai harinya tiba."
Riana tiba-tiba mendekati Vian dan Dila. Riana pun ikut duduk di samping Vian.
"Riana. Temani Dila ya. Aku mau mandi dulu," Vian lalu berdiri dan segera menuju ke kamar mandi.
"Kak Dila sudah makan?" tanya Riana sambil melihat kondisi Dila.
"Nantik saja. Baru makan mangga barusan," jawab Dila.
Tiba-tiba Dokkter datang ke ruangan Dila. Dokter tersebut mendekati Dila dan memeriksa kondisi Dila. Perawat yang datang bersama Dokter pun langsung menganti infus Dila.
Riana yang mendengar perkataan Dokter bersama Dila tidak mengerti karena mereka berbicara dalam bahasa inggris.
Riana melihat David menuju ke arah kursi sofa yang tidak jauh dari tempat Dila berbaring.
David lalu mengambil ponselnya dan melihat layar ponsel. Tiba-tiba pintu dibuka dan ternyata Fano kembaki ke ruangan Dila sambil memegang makanan ringan dan minuman kaleng dengan sebuah plastik yang besar.
"Halo semuanya," sapa Fano yang baru sampai di ruangan Dila.
Fano lalu duduk di kursi sofa dan meletakkan makanannya di atas meja.
David lalu mengambil makanan yang di beli oleh Fano dan melanjutkan melihat layar ponselnya.
"Vian mana Vid?" tanya Fano sambil membuka makanan yang di pegangnya.
"Lagi mandi dia. Palingan bentar lagi selesai."
Benar Kata David. Tidak beberapa lama Fano melihat Vian menuju ke arah mereka dengan pakaian yang sudah rapi. Vian lalu duduk dan mengambil minuman kaleng yang berisi kopi susu.
"Fano. Kamu masih belum mandi?" tanya Vian yang melihat Fano masih acak-acakan.
"Belum. Sudah habis makanan ini aku baru mandi," jawab Fano sambil merebahkan kepalanya di sandaran kursi sofa.
Tiba-tiba Kru Dila datang dan menyapa semua semua orang yang di ruangan Dila. Ruangan Dila sekarang semakin ramai sehingga ada yang nongkrong di kursi dan ada juga yang mengobrol bersama Dila.
Fano lalu berdiri dan menuju ke ruang kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Tiba-tiba tidak beberapa lama, seseorang membuka pintu. Semua orang terkejut kalau yang membuka pintu adalah Presiden perusahaan RMD yaitu ayahnya Vian.
Beberapa orang yang sedang duduk di lantai langsung berdiri. Vian dan David yang awalnya duduk di kursi sofa langsung berdiri.
Para kru Dila menyapa Presiden perusahaan RMD begitu juga dengan Riana. Pak Hardianto langsung menuju ke tempat Dila berbaring.
__ADS_1
"Gimana kondisi kamu Dil?" tanya ayah angkat Dila.
"Semakin membaik Yah. Ayah tau dari mana Dila di sini?" tanya Dila yang keheranan.
Pak Hardianto tersenyum dan membelai rambut rambut Dila.
"Ayah pasti tau apa yang terjadi dengan anak Ayah. Kamu membuat Ayah khawatir."
"Maaf Yah. Dila tidak tau bakal terjadi seperti ini," jawab Dila sambil kelihatan sedih.
"Sudah jangan bersedih yang penting jaga kesehatan."
Ayah Vian langsung berdiri dan menuju ke tempat Vian yang sedang duduk bersama David.
"Vian. David," sapa ayah Vian sambil ikut duduk bersama Vian dan David.
"Ayah tau kalau Dila di rawat di sini?" tanya Vian dengan heran.
"Tau. Jangan meragukan Ayahmu ini Vian," Pak Hardianto pun tertawa kecil.
"Gimana proses untuk album?"
"Berjalan lancar. David berusaha untuk melatih vocalis."
"Yang kamu bilang Riana dulu?" tanya ayah Vian.
"Ya Yah. Itu orangnya," Vian lalu menunjuk ke arah Riana.
"Riana," panggil Vian ke Riana.
Sontak saja Riana mengarahkan pandangannya ke Vian. Riana lalu menuju ke arah Vian.
"Ini ayahku. Perkenalkan Yah, ini Riana," ucap Vian untuk memperkenalkan Riana ke ayahnya.
"Senang berkenalan dengan Bapak," ucap Riana sambil senyum.
"Senang juga bisa berkenalan dengan Nak Riana," jawab Pak Hardianto.
Sepertinya aku pernah lihat muka yang bernama Riana ini. Muka yang sudah ku kenali sejak lama. Apa aku salah lihat atau memang dia hanya sebatas mirip dengan kawan lama Rey. Ucap Pak Hardianto dalam hatinya sambil melihat Riana.
Pak Hardianto melihat dengan seksama muka Riana. Cara senyum Riana dan gerak gerik Riana.
"Riana tinggal di mana?" tanya Pak Hardianto untuk memastikan kalau Riana adalah kawan Rey semasa kecil.
"Riana tinggal di Teluk Bintang Pak," jawab Riana sambil ikut duduk di sofa.
Pak Hardianto dalam hatinya sangat terkejut.
Riana. Ternyata benar kamu adalah kawan lama Rey. Riana maaf aku tidak bisa membilang kalau Vian adalah Rey. Aku tidak mau Vian merasa bersalah atau Vian bertanya di mana kuburan ibunya. Itu akan membuat diriku mengigat masa dulu dan membuat hatiku hancur. Ucap Pak Hardianto dalam batin.
"Bapak sudah makan?" tanya Riana yang memandang ayah Vian termenung melihatnya.
"Eh. Apa Riana?" tanya Pak Hardianto yang tersadar dari termenungnya.
"Bapak sudah makan kok Riana. Ya sudah Bapak mau lanjut gobrol sama Dila dulu," alasan Pak Hardianto untuk menghindari Riana.
Riana dan David merasa heran tengok Pak hardianto sedangkan Vian merasa ada yang aneh dengan ayahnya.
"Riana yok kita pergi keluar. Kita belum makan pagi dari tadi," Vian lalu berdiri.
"Oh iya. Jangan lupa bawak baju ganti. Kita akan ke tempat wisata. Kalau bisa baju untuk berenang," ucap Vian ke Arah Riana.
"Baju untuk berenang. Ya deh Vian," jawab Riana sambil menuju ke tempat ruang tidurnya dan memasukkan pakaian santai yang berupa baju kaos, celana santai dan beberapa keperluan lainnya.
Vian juga mengemas baju santai dan celana. Vian juga memasukkan beberapa barang keperluannya.
Setelah mereka berdua selesai. Vian dan Riana mengandeng tas masing-masing. Mereka pun menuju ke pintu keluar.
Pak Hardianto merasa cemas melihat Vian dan Riana pergi keluar berdua karena Riana adalah kawan lama Rey yang sekarang adalah Vian. Pak Hardianto takut kalau ingatan Vian kembali teringat dengan adanya Riana di sampingnya.
Di saat Vian dan Riana telah berada di luar rumah sakit. Vian dan Riana berdiri di tepi jalan. Tiba-tiba sebuah taksi berhenti di depan mereka.
"Yok masuk Riana."
Vian dan Riana segera masuk. Setelah mereka masuk, supir taksi lalu menanyakan tujuan lokasi dengan bahasa inggris.
Setelah Vian memberi jawaban tujuan lokasi yang mau dituju. Taksi itu pun berangkat.
"Vian. Ayah Vian adalah Direktur utama Perusahaan RMD. Kenapa Vian menjabat sebagai Staff biasa?"
Riana tidak tau kalau Vian adalah Direktur Utama anak Perusahaan RMD. Vian hanya tertawa mendengar perkataan dari Riana.
"Sudah jangan dipikirkan. Yang terpenting adalah fokus saja ke latihanmu. Riana," jawab Vian dengan tertawa kecil.
Setelah mereka sampai di tempat lokasi. Vian membayar dengan mengunakan uang dolar amerika. Vian saat sampai ke bandara. Sebelum menuju ke tempat rumah sakit tempat Dila dirawat. Vian sempat ke salah satu bank yang ada di amerika untuk menukar uang rupiah ke uang dolar.
Vian dan Riana turun dari taksi. Riana melihat restoran mewah. Riana lalu melihat ke arah Vian.
"Vian mau makan di sini?" tanya Riana sambil melihat restoran mewah tersebut.
"Iya. Kita makan di sini," jawab Vian sambil mengarah masuk ke dalam restoran bersama Riana.
Saat mereka masuk ke dalam restoran. Mereka duduk di meja yang berada di tengah-tengah ruangan.
Seorang pelayan lalu datang dan menanyakan pesanan mereka. Vian lalu memesan makanan.
"Riana mau pesan apa dan kenapa mesti cemas begitu?" tanya Vian yang melihat Riana sedikit cemas.
"David menyuruh Riana makan yang di pilih sama David."
Vian lalu tersenyum.
__ADS_1
"Riana untuk sekarang jangan dipikirkan soal itu. Nantik kalau dia marah. Bilang saja Vian yang suruh."
Setelah mendengar perkataan dari Vian. Riana menjadi tenang. Riana lalu memesan makanan. Pelayan itu pun pergi setelah mencatat makanan dan minuman mereka.
"Riana. Kamu semakin cantik," ucap Vian yang merayu Riana.
"Apaan sih Vian," Riana tertawa mendengar perkataan Vian.
"Benar. Kamu cantik sekali."
"Makasih Vian. Tapi Riana tidak bisa di rayu," jawab Riana sambil tertawa.
"Eh berarti tadi malam kita tidur berdua?" tanya Riana dengan penasaran.
Vian mendengar perkataan Riana. Vian menjadi malu dan mukanya memerah.
"Maaf Riana. Bukan maksud aku mau berbuat hal yang aneh-aneh. Tapi memang kondisi yang mambuatku mesti tidur di tempat tidur, yang kamu gunakan" jawab Vian sambil tertawa malu.
"Awas diulangi lagi ya Vian," ucap Riana dengan kesal.
"Sudah jangan kesal lagi. Nanti acara makan sekarang kita ini akan hambar loh kekasihku," rayu Vian sambil melihat muka Riana kesal.
"Ya deh Vian. Dasar kekasihku ini," Riana lalu mencubit pipi Vian.
Vian lalu menahan rasa sakit saat Riana mencubit pipinya.
"Dalam waktu dekat. Kita akan berkunjung ke tempat Ibu Riana. Sudah lama kita ke sana," pinta Vian.
"Benarkah Vian? lagi pula Riana sudah sangat rindu ke Ibu. Sedang apa Ibu sekarang. Riana sangat merindukannya," jawab Riana sambil terlihat sedih.
Vian yang melihat Riana sedih. Vian lalu membelai rambut Riana.
"Iya benar. Sudah jangan sedih lagi," Vian lalu melepaskan tanganya dari rambut Riana.
Vian dan Riana melihat pelayan datang mengantarkan pesanan mereka. Setelah makanan terhidang. Pelayan restoran itu meninggalkan mereka. Vian dan Riana langsung makan.
Vian melihat muka Riana terlihat bahagia. Vian pun ikut bahagia karena dirinya bisa membuat kekasihnya yaitu Riana bahagia.
Setelah mereka selesai makan. Vian dan Riana menuju ke tempat pembayaran. Vian lalu membayar makanan dengan mengunakan Paypal.
Mereka lalu menuju ke arah keluar restoran tersebut. Mereka menunggu Taksi berhenti di depan mereka.
Taksi pun berhenti di depan mereka. Mereka pun segera masuk ke dalam. Vian menjelaskan tujuan lokasi yang akan dituju.
Setelah sekitar 1 jam perjalan. Taksi pun berhenti ke tempat wisata Waikiki.
Riana sangat terkagum melihat suasana tempat yang di ajak oleh Vian.
"Bagus sekali Tempatnya Vian. Sangat ramai. Ini tempat apa?" tanya Riana sambil memandang suasana pantai tersebut.
"Tempat ini namanya adalah Waikiki. Baguskan."
Riana hanya menganguk iya dan merasa sangat senang bisa ke tempat Waikiki.
"Yok kita cari tempat," Vian lalu mengambil kacamata hitam dari tasnya.
"Cie sok keren," ucap Riana yang mengejek Vian yang sedang memakai kacamata hitam.
"Biarin saja. Biar makin keren cowokmu ini Riana," jawab Vian sambil tertawa.
Riana dan Vian menuju ke tempat ruang ganti pakaian masing-masing.
Setelah mereka selesai menganti pakaian. Vian memakai baju kaos dan celana sependek lutut sedangkan Riana memakai baju kaos dan celana sependek lutut juga.
Riana dan Vian segera meletakkan tasnya di tempat yang telah di beri tanda dengan di alasi kain.
Riana dan Vian mengoles badan mereka dengan cream agar kukit mereka tidak terbakar dan belang. Setelah selesai memakai cream, mereka pun menuju ke tepi pantai. Vian melihat jasa foto dan segera memanggilnya. Vian lalu memintak untuk di fotokan.
Keinginannya Riana untuk foto bersama Vian terwujud dan juga tidak di sangka-sangka bahwa mereka berfoto di tempat yang sangat bagus.
Berbagai gaya mereka berfoto. Kadang Riana memakai topi dan atribut lainnya yang telah di sediakan oleh jasa foto tersebut.
Mereka berfoto dengan sangat senang dan terlihat mesra. Setelah mereka selesai foto. Jasa foto itu pun memintak waktu sekitar 30 menit untuk mencetak hasil foto. Vian ukuran foto tersebut sebesar foto untuk album kenangan. Vian lalu memilih beberapa foto dengan ukuran kecil untuk di tarok di dompetnya.
Setelah Vian selesai menjelaskan beberapa informasi ke pria jasa foto tersebut. Pria itu segera pergi ke tempat pencetakan foto.
Vian dan Riana melanjutkan bermain di tepi pantai. Suasana saat itu tidak terlalu panas sehingga membuat mereka semakin bersenang-senang.
Vian lalu membuat gambar di atas pasir yang bertuliskan 'Riana jelek'. Tentu saja membuat Riana sangat kesal. Riana tidak mau kalah. Dirinya menulis sebuah kata di atas pasir dengan kalimat 'Vian Jelek sok keren'. Vian yang melihat apa yang ditulis oleh Riana, dirinya mengambil air dengan tangannya dan menghapus tulisan yang ditulis oleh Riana.
Riana yang melihat cara Vian menghapus tulisannya. Dirinya juga mengambil air dan menghapus tulisan yang dibuat oleh Vian.
Mereka pun tertawa melihat aksi konyol antara mereka berdua. Setelah mereka lelah, mereka segera duduk di tempat mereka menarok tas mereka.
Vian lalu berdiri dan menuju ke tempat mobil orang penjual eskrim. Vian memesan dua eskrim. Setelah Vian membayar eskrim tersebut. Vian memegang dua eskrim di kedua tangannya, lalu Vian kembali ketempat Riana.
Vian lalu mengasih satu eskrim tersebut ke Riana. Riana tersenyum saat menerima eskrim dari Vian. Riana dan Vian makan eskrim sambil menikmati pemandangan.
Setelah hampir 30 menit. Jasa foto yang memfoto Vian dan Riana tadi menghampiri mereka berdua.
Pria itu mengasih hasil cetakan foto tersebut dan satu foto seukuran tempat dompet. Vian lalu membayar jasa foto tersebut dan pria itu meninggalkan mereka.
Vian dan Riana melihat satu persatu hasil cetakan foto. Mereka merasa sangat puas hasil semua cetakan foto tersebut.
"Foto ini semuanya aku simpan ya Vian," ucap Riana setelah melihat semua foto.
"Iya deh. simpan baik-baik ya Riana. Ini foto pertama kita. Foto kedua adalah saat pernikahan kita," ucap Vian memandang ke arah Riana.
"Iya Vian. Saat kita menikah," jawab Riana tersipu malu.
__ADS_1
Riana memasukkan semua foto ke dalam tasnya kecuali foto kecil seukuran dompet karena Vian sudah meletakkan foto itu duluan ke dalam dompetnya. Riana yang melihat Vian memasukkan foto itu kedalam dompetnya merasa sangat senang.
*** Di episode selanjutnya akan masih dalam momen bahagia Vian dan Riana. Padahal Dila lagi sakit terbaring. Tapi judulnya malah bahagia. Hahaha. Ikuti terus kisahnya di Kenangan Sedih. Jangan lupa Like dan Vote ya Kakak. Terima Kasih ***