
Vian yang melihat ke arah jalan aspal tidak ada sama sekali bus atau kendaraan lewat. Vian pun menjadi heran dengan jalan yang dilaluinya sama Riana.
"Riana, kenapa jalan untuk kendaraan sini sangat sepi," ucap Vian heran.
"Ya di sini memang gitu Vian, memang sepi," jawab Riana.
"Ehhh panggil Vian. Tadi panggilnya sebutan Kakak," Vian mengeledek Riana.
"Emang tidak boleh. Ya udah panggil Kakak aja deh," jawab Riana dengan merajuk.
"Jangan merajuk. Aku senang dengarnya Riana memanggilku dengan sebutan Vian," Vian yang langsung memencet hidung Riana karena ngambek.
Saat Vian memencet hidung Riana. Riana langsung teringat saat Rey yang dulu memencet hidung Riana saat merajuk. Riana terbawak suasana saat bersama Rey dulu. Setelah memencet hidung Riana, mereka melanjutkan perjalanan.
Perasaan apa ini. Kenapa sifatnya sama persis dengan Rey dan juga aku seperti sanggat sudah mengenalinya. Apakah dia Rey..Ahh bukan, dia bukan Rey tapi Vian. Terlebih lagi aku bisa memanggil nama dia dan bukan panggilan kakak. Padahal kawanku yang laki-laki yang sudah lama ku kenal masih canggung aku memanggil dengan sebutan namanya..Tapi kenapa dengan pria ini aku seperti ini ?. Ucap Riana dalam hati yang sedang berjalan kaki sambil menatap muka Vian dari samping.
__ADS_1
"Vian?" ucap Riana sambil berhenti.
"Apa Riana. Kenapa berhenti?" tanya Vian yang berhenti karena melihat Riana berhenti.
"Maukah kamu ikut denganku sebentar Vian?" pinta Riana sambil menundukkan muka.
"Ke mana?" tanya Vian lagi sambil menuju ke arah Riana.
"Ikut saja," Lalu memegang tangan Vian dan menarik pergi.
Melihat tangannya ditarik sama Riana, Vian pun hanya diam dan mengikuti Riana. Vian tidak memperdulikan lagi jadwalnya bertemu dengan client.
Setelah beberapa menit. Vian dan Riana sampai. Vian melihat banyak pohon kelapa dan laut yang indah.
"Wah tempatnya indah dan sejuk" kata Vian yang terpesona dengan pemandangannya.
__ADS_1
Vian yang melihat ke arah Riana langsung terdiam. Vian melihat Riana menundukkan kepalanya sambil air mata yang keluar.
Vian pun mendekati Riana dan menghapus air mata Riana dengan jarinya.
"Kamu kenapa Riana. Apakah ada yang menganggu pikiranmu?" tanya Vian dengan lembut.
"Vian aku mau bertanya hal yang penting," Riana menegakkan kepalanya dan melihat muka Vian.
"Ya. Apa tu Riana?" tanya Vian.
"Apakah kita bisa mempercayai seseorang yang sudah bertahun-tahun yang ingin bertemu tapi dia belum menepati janjinya?" ucap Riana seakan dari suaranya ada perasaan lelah.
"Riana. Mungkin orang itu ingin bertemu..Tetapi kesempatannya belum ada..Bisa jadi dia juga berperasaan sama denganmu. Ingin segera bertemu. Percayalah apa yang mestimu pertahankan Riana. Di saatmu berharap. Maka dia merasakan harapanmu. Ketahuilah kamu masih mempertahankan janji itu dia juga mempertahankan janjinya. Percayalah," jawab Vian dengan tersenyum memandang Riana.
Riana yang mendengar perkataan Vian langsung nenjadi tenang. Vian pun memeluk Riana dengan sebelah tanganya sehingga badan Riana menempel di samping badan Vian.
__ADS_1
Riana dan Vian berdiri di mana dulu tempat Rey dan Riana duduk. Riana merasa bebannya berkurang dengan kehadiran Vian dan merasa Rey berada di sampingnya.
Terima kasih Vian. Kamu telah hadir dalam hidupku. Meski kita belum terlalu lama kenal. Tapiku merasa sangat dekat denganmu dan merasa nyaman. ucap Riana dalam hati sambil senyum, yang badannya masih menempel di sebelah badan Vian.