
Hari yang berganti pagi. Vian nampak kelelahan harus menghentikan mobilnya sementara di tepi jalan. Dari malam Vian mengemudi sehingga matanya sangat gantuk.
Bentar saja Vian memejamkan mata. Vian langsung tertidur. Riana yang barusan terbangun dari tidur, Melihat ke arah Vian dan melihat sekeliling.
"Di mana ini. Hutan sekeliling semuanya. Vian tertidur. Pasti dia kelelahan. Oh iya aku tertidur saat malam. Rencana mau nemanin Vian malah aku tertidur. Kasihan Vian," Riana pun melihat dengan seksama muka Vian.
Riana yang melihat muka Vian. Riana langsung membelai rambut Vian dan tersenyum.
Riana tidak ingin membangunkan Vian. Riana hanya bisa menunggu Vian bangun dengan sendirinya.
Riana yang melihat jam tangannya masih jam 6.30 pagi. Riana membuka pintu mobil dan keluar untuk menghirup udara yang masih segar. Setelah bosan melihat melihat sekeliling. Riana lalu masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobil.
Riana lalu mengambil makanan snack yang di beli sama Vian tadi malam. Riana yang melihat ke arah Vian yang masih tertidur. Riana memasukkan makanan ke mulut Vian. Sontak saja Vian terbangun karena merasakan ada sesuatu di mulutnya.
"Apa ini. Enaknya," Vian lalu menelan makanan di mulutnya dengan setengah sadar. Lalu Vian melanjutkan tidurnya lagi.
Riana yang dari tadi melihat kelakuan Vian, sebenarnya ingin tertawa, tapi Riana menahan tawanya agar Vian tidak terkejut dari tidurnya.
Riana memasukkan lagi makanan snack ke mulut Vian yang sedang tidur. Vian lagi-lagi melakukan hal itu lagi, namun Vian kali ini tersentak dari tidurnya.
"Siapa yang iseng, memasukkan makanan ke dalam mulutku?" tanya Vian yang menelan makanan yang ada di mulutnya.
"Ehh Vian bangun. Ntah, gak tau Riana, siapa yang iseng," ucap Riana yang sibuk menikmati makannya.
"Riana. Kamu ini," lalu Vian mengelitik Riana.
Riana yang di gelitik sama Vian, merasa geli dan tertawa. Lalu Vian menghentikan mengelitik Riana. Vian yang melihat rambut Riana yang terjuntai di pipinya. Merapikan rambut Riana dengan jarinya dan menyangkutkan rambut Riana di belakang telinga Riana.
Vian lalu memegang pipi Riana dengan sebelah tangannya dan perlahan mendekatkan mukanya ke muka Riana. Riana hanya terdiam dengan mukanya yang memerah.
Setelah muka Vian hanya beberapa inci dari muka Riana. Riana lalu memejamkan matanya. Vian lalu mencium bibir Riana.
__ADS_1
Setelah Vian melepaskan ciumannya. Riana membuka matanya. Dan melihat muka Vian sudah menjauh dari mukanya. Muka Riana semakin memerah.
"Itu balasan karenamu menganggu tidurku. Riana," ucap Vian sambil tertawa dan menghidupkan mesin mobil dan melanjutkan mengemudi.
"Dasar Vian," Riana menepuk kecil bahu Vian yang membuat Vian tertawa.
Riana terdiam dan masih tergiang dalam pikirannya momen saat mereka berciuman. Semakin Riana teringat, semakin merah mukanya.
Ada apa denganku. Kenapa aku hanya diam saat Vian menciumku. Ciuman ini adalah ciuman pertamaku. Auranya terasa seakan Vian adalah Rey. Gumam Riana dalam hati.
Riana melihat Vian dengan sedikit cangung. Riana tidak bisa berbuat apa-apa dan menerima ciuman pertamanya. Vian lalu melihat Riana karena Vian sadar kalau Riana sedang memperhatikannya dari tadi.
"Riana kamu kenapa?" tanya Vian dengan heran yang sambil mengemudi.
Riana tidak menjawab. Riana lalu memegang tangan Vian sebelah yang sedang menyetir. Vian yang melihat Riana memegang tangannya. Melepaskan sebelah pegangannya dari setir mobil.
Riana menggenggam tangan Vian dengan tangannya dan merasa kalau Riana sudah seakan mengenal Vian sejak kecil. Makanya Riana memegang tangan Vian untuk melepaskan rasa rindunya untuk bertemu sama Rey.
Vian yang tiba-tiba mengigat momen saat dia ciuman sama Riana. Vian tidak tahu kenapa dengan dirinya. Dalam hidupnya Vian tidak pernah mencium wanita, bahkan tidak pernah jatuh cinta ke wanita. Riana adalah juga ciuman pertamanya. Vian merasa kalau Vian sudah pernah bertemu dengan Riana namun Vian tidak bisa mengigat apapun.
Tiba-tiba saat melewati persawahan. Riana merasa kagum melihat pemandangan sawah yang dibawah bukit yang tersusun rapi dan ditambah dengan orang yang sedang menanam padi.
Riana melepaskan tangan Vian dan membuka jendela mobil. Vian dengan iseng menutup jendela Riana dengan tombol di pintu mobil sebelahnya. Lalu Riana menekan tombol disampingnya untuk membuka jendela. Vian lagi-lagi menutup jendela Riana. Riana yang tidak mau kalah, membuka jendela mobil di sampingnya. Meskipun berkali-kali ditutup sama Vian, Riana berkali-kali juga membuka jendela.
"Vian. Jangan ditutuplah," rengek Riana dengan manja sambil memandang Vian.
Vian lalu tertawa dan membuka jendela di samping Riana dengan tombol di pintu mobil di sampingnya. Vian yang melihat Riana yang menyandarkan mukanya ke pintu mobil dan menikmati angin yang melewatinya.
Vian yang melihat tempat jualan makanan pagi. Memberhentikan mobilnya di samping tempat jual makanan pagi tersebut. Lalu mereka berdua pun keluar dari mobil dan masuk ketempat itu.
Vian dan Riana memesan makanan. Menjelang makanan mereka dihidangkan. Vian dan Riana mengobrol sambil bercanda.
__ADS_1
"Riana. Kamu harus menang ya saat audisi besok."
"Siap Vian. Riana berusaha untuk menunjukkan performa yang terbaik," ucap Riana dengan percaya diri.
"Baguslah Riana. Karena aku adalah fans pertamamu dan fans yang paling besar mengagumi," Vian lalu tersenyum.
"Iya Vian. Terima kasih sudah mendukungku. Ku tidak akan mengecewakan fansku," Riana membalas senyuman Vian.
Saat makanan mereka telah tiba dan dihidangkan. Vian dan Riana pun segera makan. Riana yang menuangkan air minuman ke dalam gelas, juga menuangkan air untuk Vian.
"Tumben perhatian," ucap Vian sambil tertawa mengejek Riana.
Riana lalu mengambil kedua gelas tersebut dan mengarahkan satu untuk Vian. Riana yang mendengar perkataan Vian. Hanya membalas ejekan Vian sambil tersenyum kecil.
Setelah makanan mereka habis. Vian membayar makanan tersebut dan mereka kembali ke dalam mobil.
Saat di dalam mobil, Vian lalu mengambil tisu di laci mobilnya dan mengarahkan tisu yang dipegangnya ke mulut Riana. Vian melihat bekas makanan menempel di mulut Riana. Riana hanya tersenyum melihat Vian menlap mulutnya. Saat Vian selesai menlap mulut Riana dengan tisu lalu Vian mengusap kepala Riana dengan manja.
Mereka pun melanjutkan perjalanan ke kota Blinda yang kemungkinan sampainya sore.
"Vian?" tanya Riana yang kelihatan murung.
"Apa Riana? dan kenapa murung begitu," Vian yang menanyakan balik ke Riana sambil melihat Riana sebentar, karena Vian harus fokus mengemudi.
"Pasti banyak yang ikut audisi. Apa aku bisa menang," jawab Riana yang semakin murung.
"Ehh kok ngomong begitu, katanya tadi saat makan tidak mau mengecewakan fans."
"Oh iya ya. Riana lupa," Riana pun tertawa.
"Percaya sama diri sendiri. Kamu pasti bisa Riana, karena aku akan mendukungmu di kursi penonton paling depan dan bersorak untukmu dengan teriakan yang sangat keras," Vian memandang Riana dengan senyuman.
__ADS_1
Mendengar hal itu dari Vian. Riana merasa percaya dirinya datang dan merasa tenang. Riana sangat senang karena Vian ada di sampingnya.