
Vian yang melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan siang hari. Vian menghentikan kerjaanya dan segera pergi ke tempat yang telah di janjikan sama ayah Dio.
Dalam perjalanan menuju ke tempat restoran. Vian masih merasa cemas karena dirinya tau kalau ayah Dio selalu berusaha untuk menjatuhkan dirinya, tetapi karena dirinya tau kalau tidak ada jalan lain selain menerima bantuan dari ayah Dio.
Saat Vian telah sampai di depan restoran. Vian memakirkan mobilnya dan segera masuk ke dalam restoran.
Vian belum melihat adanya tanda-tanda dari ayah Dio. Vian lalu duduk dan memesan jus mangga sambil melihat berita di ponselnya.
Riana. Apapun yang terjadi ke depannya untukku. Aku harap kamu selalu maju dan aku ingin kamu membuatku terkesan. Aku di sini akan selalu mencari cara agar album seberkas cahaya selalu berjalan dan penyanyinya adalah kamu riana. Ucap Vian dalam hatinya sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
Jelang tiga puluh menit Vian menunggu. Vian melihat ayah Dio dan dua orang sedang bersamanya sedang menuju ke arah Vian.
Saat ayah Dio dan kawannya telah sampai di tempat Vian duduk. Vian lalu berdiri.
"Selamat siang Pak Hirka," Vian lalu menjabat tangan ke arah ayah Dio.
Pak Hirka merupakan ayah Dio. Pak Hirka lalu menerima jabatan tangan Vian. Vian lalu juga mengarahkan jabagan tangannya ke arah kawannya ayah Dio sambil mempersilahkan duduk.
"Perkenalkan. Ini kawan Bapak. Namanya Herman. Tadi saya sudah cerita ke Pak Herman," ucap Pak Hirka sambil melihat ke arah Pak Herman.
"Salam kenal Pak Herman," Vian lalu mengarahkan pandangannya ke Pak Herman.
"Salam kenal juga Pak Vian," jawab Pak Herman.
"Jadi gimana Vian?" tanya Pak Hirka sambil tersenyum.
"Sesuai perkataan Bapak yang melalui televon," jawab Vian.
"Jadi Pak Herman ini yang mau meminjamkan dana ke Vian. Silahkan Pak Herman jelaskan ke Vian."
"Terima kasih Pak Hirka. Jadi begini Vian. Saya dengar dari Pak Hirka kalau anda membutuhkan dana. Jadi saya mau meminjamkan dana untuk Pak Vian sesuai dana yang Bapak butuhkan. Saya bisa mencairkan dana untuk Bapak. Tapi apa yang bisa saya pegang sebagai jaminan dari Bapak?" tanya Pak Herman sambil melihat Vian dengan ekspresi serius.
__ADS_1
Sebelum sempat Vian menjawab. Pelayan restoran pun datang dan menanyai pesanan yang mau di pesan. Pak Hirka dan kawannya memesan makanan dan minuman. Setelah selesai mencatat pesanan mereka, pelayan itu pun segera pergi.
Setelah pelayan restoran pergi. Vian lalu melanjutkan pembicaraan ke Pak Herman.
"Kalau soal jaminan. Saya bisa menjaminkan rumah saya," ucap Vian dengan tenang.
"Rumah. Bisa, asal rumah Vian senilai dengan besarnya pinjaman Vian," jawab Pak Herman.
"Kalau begitu. Saya akan ajak Bapak Hirka dan Bapak Herman ke rumah saya untuk melihat-melihat. Apakah bisa di jaminkan atau tidak."
"Saya tidak bisa pergi Vian. Urusan saya masih banyak, Vian sama Pak Herman saja yang pergi. Gimana Pak Herman?" tanya Pak Hirka yang melihat ke arah Pak Herman.
"Tidak apa-apa Pak Hirka. Saya bisa pergi bersama rekan saya ini dan sama Bapak Vian," jawab Pak Herman.
"Terima kasih Pak Herman," ucap Pak Hirka.
Setelah mereka masih berbincang-bincang. Pelayan restoran datang mengantarkan makan mereka dan meletakkan makanan di atas meja.
Mereka pun makan dan Pak Hirka melihat muka Vian dengan sinis. Pak Hirka berencana ingin menghancurkan Vian. Pak Hirka sudah membuat rencana bersama Pak Herman.
Setelah mereka selesai makan. Pak Hirka permisi ke Vian dan Pak Herman.
"Saya duluan. Ada urusan yang mesti buru-buru di kerjakan," Pak Hirka pun berdiri.
"Terima Kasih Pak Hirka. Biar saya yang bayar," ucap Vian sambil berdiri dan menjabat tangan ke Pak Hirka.
"Iya Sama-sama Vian," Pak Hirka pun tersenyum ke arah Vian dan Pak Herman dan segera meninggalkan restoran tersebut.
Vian dan Pak Herman melanjutkan pembicaraannya sambil bertukar ide untuk lebih bagus bagaimana cara berbisnis.
Setelah mereka selesai mengobrol. Vian lalu mengajak Pak Herman dan rekan Pak Herman ke rumahnya untuk sebagai jaminan pinjaman Vian ke Pak Herman.
__ADS_1
Mereka pun segera menuju ke rumah Vian. Vian yang mengendarai mobilnya yang sedang di ikuti mobil Pak Herman dari arah belakang. Vian merasa tidak rela jika rumahnya menjadi jaminan namun karena sangat terpaksa, dia harus memutuskan keputusannya dengan sangat terpaksa.
Saat sampai di depan rumahnya. Mobil Vian dan mobil Pak Herman menghentikan mobilnya. Pak Herman yang baru saja keluar dari mobilnya. Pak Herman melihat sekeliling rumah Vian. Setiap detail Pak Herman melihat rumah Vian.
Vian lalu mengajak Pak Herman masuk dan melihat-lihat rumahnya dari dalam.
"Jadi gimana Pak Herman? apakah bisa dijadikan sebagai jaminan?" tanya Vian sambil melihat Pak Herman yang melihat bangunan rumah Vian.
"Bisa. Saya bisa pegang jaminan rumah Vian. Vian tidak perlu menjelaskan dana yang Vian mau pinjam karena Pak Hirka sudah menjelaskan pinjaman Vian ke saya," ucap Pak Herman.
Vian lalu menyuruh Pak Herman dan rekan Pak Herman untuk duduk di ruang tamu. Setelah Pak herman duduk, lalu dirinya mengambil beberapa dokumen dalam tasnya sedangkan Vian pergi ke kamarnya untuk mengambil sertifikat-sertifikat rumahnya dan keperluan dokumen lainnya.
Saat Vian telah mendapatkan dokumen dan sertifikat yang diperlukan, Vian lalu menuju ke tempat Pak Herman.
Setelah sampai ke tempat Pak Herman, Vian lalu duduk dan memperhatikan Pak Herman sedang menulis sesuatu.
"Bolehkah saya melihat Surat rumah ini dan surat tanahnya?" pinta Pak Herman.
"Silahkan Pak," Vian lalu menyerahkan dokumen dan sertifikat lainnya ke Pak Herman yang di bawak dari kamarnya.
Pak Herman lalu membaca beberapa surat sertifikat rumah Vian dan Sertifikat tanah. Setelah selesai membaca, Pak Herman segera menyuruh rekannya untuk mencatat spesifikasi rumah Vian dan menyiapkan dokumen yang akan di tanda tangan.
Setelah rekannya selesai mencatat dan segera mengasih ke Pak Herman. Pak Herman lalu membaca sedikit hasil dari catatan rekannya.
"Pak Vian. Karena ini pinjaman pribadi. Saya punya ketentuan-ketentuan aturan ke Vian. Saya mau hutang ini di lunasi dalam waktu sebulan. Kalau Vian setuju, Vian bisa tanda tangani di sini yang ada materai," Pak Herman lalu mengasih dokumen ke Vian.
"Sebulan pak !. Apakah tidak bisa setahun Pak Herman?" Vian terkejut setelah mendengar perkataan aturan peminjaman dari Pak Herman.
"Maaf Vian. Saya hanya bisa mengasih waktu segitu. Terserah Vian mau atau tidak," jawab Pak Herman.
Vian yang merasa panik dan cemas karena waktu tentang album seberkas cahaya tinggal sebentar lagi. Vian dengan terpaksa menyetujui dan menanda tangani surat tersebut.
__ADS_1
Setelah selesai menanda tangani kontrak tersebut. Pak Herman menjabat tangan ke arah Vian. Vian pun membalas jabatan tangan Pak Herman dan mengasih sertifikat rumahnya dan sertifikat tanah ke Pak Herman. Setelah itu, Pak Herman dan rekannya segera pamit dan meninggalkan rumah Vian.