KENANGAN SEDIH

KENANGAN SEDIH
BAGIAN 58 SELALU MEMBUAT JENGKEL


__ADS_3

Riana menuju ke tempat lantai paling atas. Saat Riana sampai. Riana tidak melihat Vian. Riana pun segera mencari Vian, tetapi Riana tidak melihat seseorang sama sekali.


Saat Riana menuju ke tempat tepi gedung, Riana lalu meletakkan kedua tangan di besi yang menjadi pembatas tepi gedung.


Saat Riana memandang suasana kota dari atas gedung perusahaan RMD. Tiba-tiba Riana tersentak terkejut saat matanya ditutup oleh sebuah tangan dari arah belakang badan Riana.


"Vian," ucap Riana dalam keadaan matanya yang masih tertutup oleh tangan.


Saat tangan yang menutupi mata Riana mulai melepaskan dari mata Riana. Riana melihat Vian tersenyum.


Vian lalu mencium kening Riana. Riana hanya tersenyum manja. Vian lalu berdiri di samping Riana sambil meletakkan tangannya di besi pembatas tepi gedung yang hanya sebatas bawah dada Vian.


"Riana. Gimana harinya bersama David?" tanya Vian sambil melihat pemandangan kota.


"Menjengkelkan Sekali. Rasanya seperti terkekang," ucap Riana dengan jengkel membicarakan David.


"Benarkah?" tanya Vian sambil tertawa.


"Benar. Untung kekasihku tidak seperti David," ucap Riana sambil membelai manja pipi Vian.


"Tapi meski David seperti itu, pasti demi Riana juga. Bersabar aja ya sayang."


"Ya Sayang," Riana lalu memeluk Vian.


"Manja sekali kekasihku ini," Vian lalu membelai rambut Riana.


"Biar saja. Manaj sama kekasih sendiri pun," Riana memandang Vian sambil tersenyum.


"Maaf ya Vian. Main pergi saat kemarin. Ngak ada bilang pamit ke Vian," ucap Riana sambil melepaskan pelukannya dari Vian.


"Tidak apa-apa kok Riana. Vian ngerti kok," jawab Vian sambil memegang hidung Riana.


"Oh iya. Riana sudah makan?" tanya Vian.


"Belum lagi."


"Ya sudah. Bentar ya," Vian lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


Vian lalu memesan makanan lewat online. Vian memesan dua makanan untuk dirinya dan Riana.

__ADS_1


Setelah memesan. Vian lalu memasukkan ponselnya kembali dan melanjutkan melihat pemandangan suasana kota bersama Riana.


"Riana. Mungkin ada rintangan yang akan banyak dilalui. Apa pun yang terjadi, jangan putus asa. Jikamu tidak bisa menghadapinya sendiri, ingatlah bahwa aku akan selalu ada untukmu Riana," ucap Vian sambil memegang tangan Riana.


"Terima kasih Vian. Kamu selalu ada untukku. Aku bersyukur bisa mengenalimu Vian. Kita berkenal itu pun saat tidak terduga," jawab Riana sambil tertawa yang teringat masa lalunya saat pertama kali bertemu Vian.


"Iya benar. Aku tidak tau harus berbuat apa saat aku panik ingin bertemu client dan aku hanya melihat kamu Riana dengan sepeda," Vian pun juga tertawa mengenang masa itu.


"Kalau mungkin mobil tidak mogok. Kita tidak akan seperti ini," ucap Vian sambil senyum.


"Iya Vian. Apa kah itu takdir yang mempertemukan kita?" tanya Riana yang memandang ke arah Vian.


"Bisa jadi. Takdir yang mempertemukan kita."


Tidak beberapa lama. Ponsel Vian berdering. Vian lalu menjawab panggilan di ponselnya.


"Halo," jawab Vian melalui ponselnya.


Ternyata yang menelvon Vian adalah pesanan makanan yang di pesan oleh Vian. Vian lalu memintak diantarkan ke atas gedung. Vian lalu mematikan ponselnya.


Tidak beberapa lama, orang yang mengantarkan pesanan Vian sampai ke atas gedung dan menyerahkan pesanan Vian.


"Nah, ini untukmu. Makanlah," Vian lalu memberikan makanan ke Riana.


Riana lalu mulai makan. Vian pun memakan makananya. Sebelum habis Riana memakanan makannya, ponsel Riana berbunyi. Riana lalu mengambil ponselnya dan melihat panggilan di ponselnya. Riana terkejut, kalau yang memanggilnya adalah David.


"Bentar ya Vian. David menelvon," ucap Riana sambil mengangkat panggilan David.


"Halo Kak. Ada apa Kak?"


"Ada apa kamu bilang. Ke mana saja kamu? apa kamu masih makan? sudah lama sekali saya menunggu di ruang kerja," ucap David dengan kesal melalui ponsel.


"Maaf Kak. Riana menunggu pesanan makanan datang. Ini juga belum habis makanannya Kak."


"Kamu makan apa? apa kamu makan makanan yang saya larang. Kamu sekarang segera ke ruang kerja saya. Saya tunggu dalam 5 menit."


Panggilan Riana berakhir karena dimatikan oleh David.


"Hahaha. Kamu kenak marah ya Riana. Suaranya David sampai kedengaran," ucap Vian sambil tertawa.

__ADS_1


"Iya David gila. Selalu saja buat jengkel. Lama-lama bisa cepat tua Riana," jawab Riana dalam keadaan jengkel.


"Riana pergi dulu ya Vian. Maaf tidak bisa berlama-lama. Dadah Vian," Riana lalu mencium pipi Vian dan segera meninggalkan Vian sendirian.


Vian hanya tersenyum dan segera melanjutkan memakan makannya.


Riana, kamu harus selalu semanggat ya. Sepertinya dunia menuju kesuksesanmu telah dimulai dan itu tidak akan mudah Riana. Banyak yang akan kamu hadapi. Vian mengucapkan dalam batinnya.


Riana berlari menuju ke ruang David karena David hanya mengasih waktu 5 menit. Setelah Riana sampai ke ruang David, Riana lalu mengetuk pintu ruang kerja David.


"Ya masuk," ucap David dari dalam ruangannya.


Riana lalu masuk dan duduk di depan meja kerja David. David yang melihat Riana, David melihat jam tangan.


"Bagus kamu tidak telat. Mulai saat sekarang, kamu harus makan di depan saya. Saya tidak mau kalau suara kamu bakal hancur saat momen yang penting," ucap David sambil melihat ke arah Riana.


"Ya Kak David," jawab Riana sambil menundukkan kepalanya.


"Kita sekarang mulai latihan. Ikuti saya. Kita ke ruang kemarin. Kita masih dalam tahap latihan pengaturan nafasmu."


David lalu berdiri dan keluar ruangan menuju ke ruang latihan. Riana hanya mengikuti langkah David. Riana lalu senyum saat melihat Bima, Yuni dan Siva.


"Riana, waktu kita tidak banyak. Jangan terlalu banyak bermain-main. Keberhasilan ini tergantung dari dirimu. Kalau kamu gagal, kamu tidak akan mempermalukanku tapi perusahaan ini juga," David mencoba menjelaskan ke Riana sambil menuju ruang latihan.


"Ya Kak. Riana tidak akan main-main. Riana akan serius," jawab Riana yang mengikuti David dari samping.


David yang mendengar perkataan Riana. Tidak merespon balik perkataan Riana. Tentu saja Riana sedikit kesal.


Ini orang apa robot. Basi-basi tidak ada. Lebih banyak membuat orang kesal ketimbang memberi pujian atau apa kek. Masa bodohlah. Dasar David gila. Ucap Riana dalam hati yang mengerutu ke David.


Saat mereka sampai di ruang latihan. David lalu memanggil salah satu staff pekerja yang ada di ruang latihan tersebut. David lalu memberi aba-aba ke staff kerja untuk mengarahkan Riana.


Riana yang melihat David dan lawan berbicaranya, hanya bisa diam. Lagi pun Riana tidak mengerti apa yang di bicarakan oleh mereka berdua.


Riana melihat banyak orang sebayanya sedang latihan. Riana lalu mendekati orang yang sedang latihan dan melihatnya.


"Hei. Gapain kamu di situ. Latihan belum mulai, mau menganggu orang pula," ucap David ke arah Riana.


Riana yang terkejut mendengar suara David. Riana lalu segera menuju ke arah David. David lalu melanjutkan berbicara sama staff kerja tampa memperdulikan Riana yang ada di dekatnya.

__ADS_1


__ADS_2