
Dila yang sedang di ruang kerjanya, sedang bersiap-siap untuk pergi meliputi berita. Dila sengaja pergi karena ingin mengambil liputan yang bagus, sehingga dirinya langsung bergerak.
Saat mereka sampai di bandara tempat pesawat pribadi perusahaan. Dila dan kru para lainnya sudah berada di dalam pesawat. Saat semuanya sudah dalam posisi duduk. Pesawat pun lepas landas menuju ke luar negeri.
Saat dalam pesawat. Dila dan kru saling bercanda untuk mempererat kerja sama tim. Dalam 5 jam perjalanan. Pesawat memintak izin mendarat di bandara luar negeri. Akhirnya mereka di izinkan mendarat.
Setelah mereka mendarat. Dila dan para kru lainnya langsung menuju ke tempat hotel untuk istirahat.
Dila pergi ke luar negeri karena pertemuan Presiden yang membahas tentang perdamaian dua belah pihak.
Dila ingin langsung mengajukan beberapa pertanyaan-pertanyaan ke Presiden. Dila langsung mencek beberapa barang yang akan disiapkan dalam pertemuan Presiden.
Setelah menyusun dan mencek barang. Dila pun tidur untuk mengisi staminya untuk persiapan besok pagi.
Pagi hari pun tiba. Dila dan para yang lain siap-siap untuk makan ke restoran sebelum pergi ke acara pertemuan Presiden.
Setelah Dila dan para kru makan. Mereka melanjutkan perjalanan ke tempat pertemuan Presiden.
Mereka pun sampai di depan gerbang pertemuan tersebut. Dila melihat banyak wartawan dari berbagai megara berkumpul. Tentu saja membuat jalan masuk ke gedung menjadi sempit.
Dila dan para kru mesti berdesakan untuk menuju ke pintu masuk gedung. Dengan susah Dila menerobos. Tiba-tiba polisi dan para yang berjaga di gedung langsung berdiri di tepi jalan dan membuat area jalan terbuka.
Tidak beberapa. Dila mendengar suara sirine polisi dari jauh. Semakin dekat sirine polisi didengar. Sebuah mobil sedang mewah beberapa mobil lainnya masuk ke kepekarangan gedung dengan kawali oleh banyak polisi.
saat mobil mewah tersebut berhenti di depan gedung. Dila melihat dua Presiden keluar dari mobil. Tentu saja Dila dan para kru lainnya langsung sigap mengambil gambar presiden tersebut dan merekam. Saat presiden keluar dari mobil, mereka melambaikan tangan ke depan kamera dan berbagai arah.
Ke dua Presiden itu pun masuk dan menuju ke ruang konferensi. Dila dan kru, juga ikut ke dalam sambil melihatkan kartu idenditas ke penjaga pintu masuk ruangan.
Dila di geledah oleh petugas sebelum masuk dan saat Dila lolos, Dila pun masuk ke ruangan.
__ADS_1
Dila berjalan menuju ruang konferensi dengan para krunya sambil melihat situasi sekelilingnya.
Setelah mereka di depan ruangan. Dila diperiksa oleh penjaga pintu utama ruang konferensi, begitu juga dengan kru Dila yang mesti diperiksa juga.
Setelah mereka lulus dalam periksa. Mereka pun masuk ruangan. Sekitar 5 menit mereka menunggu. Pertemuan Presiden membahas permasalahan pun di mulai.
Dila hanya memegang sebuah kertas kecil, sedangkan kru Dila menyalakan kamera dengan sistem tayangan langsung.
Saat ke dua Presiden sedang berbincang-bincang, tiba-tiba suasana menjadi ricuh sesaat ada seorang pria dari belakang menyodongkan senjata ke punggung Presiden.
Dila dan para kru terkejut. Pria yang berdiri di samping Dila ternyata bagian dari te*oris. Ada sepuluh te*oris yang di dalam ruangan. Mereka menyandera beberapa orang termasuk Dila.
Para te*oris membawak para sandera ke tempat Presiden di sandera termasuk Dila. Tentu saja para kru Dila menjadi panik dan juga ketakutan.
Ternyata para te*oris sudah mempersiapkan rencana dalam melakukan aksinya. Polisi pun datang untuk mengamankan, namun karena ke dua Presiden di sandera, polisi menjadi berhati-hati.
Semua unit polisi dan agen sudah memenuhi ruangan dan gedung tersebut, namun mereka belum bertindak.
Dengan ilmu bela diri. Dila dapat memberi kesempatan polisi melancarkan serangan tembakan. Saat Dila mau menyerang salah te*oris. Te*oris itu melancarkan sebuah tembakan ke perut Dila. Dila pun terhenti dan merasakan kesakitan di perutnya serta rasa panas dari peluru yang menancap di dalam perutnya.
Sebelum te*oris menembaki Dila untuk ke dua kali. Polisi menembak duluan ke arah te*oris lebih duluan.
Semua te*oris terbunuh. Para kru Dila dan polisi langsung berlari ke arah Dila. Polisi pun memanggil unit pihak rumah sakit. Beruntung mobil ambulance sudah terparkir di depan gedung untuk berjaga-jaga.
Saat para dokter dan perawat datang. Mereka mengangkat Dila dan membawak ke mobil ambulan.
Pihak yang ada sangkut paut sama Dila. Mereka langsung mengikut ambulan tersebut.
Sesaat sampai di rumah sakit. Dila langsung dapat pengobatan pertama. Dila langsung di larikan ke ruang operasi untuk mengambil serpihan peluru di dalam perutnya, sedangkan Dila masih pingsan.
__ADS_1
Para Kru Dila sangat ketakutan tentang apa yang terjadi sama Dila. Mereka pun beserta beberapa polisi sedang menunggu di ruang tunggu.
"Gimana ini?" tanya salah satu kru ke kru lainnya.
"Sabar saja. Kita tunggu hasilnya. Kita coba berdoa agar Dila selamat."
Setelah lama menunggu. Dokter pun keluar dari ruangan operasi dan menuju ke arah mereka.
Dokter pun berbicara dalam bahasa asing. Sehingga para kru Dila tidak mengerti. Polisi pun mendatangi dokter dan berbicara. Dokter pun menganguk dan membawak Dila ke ruangan perawatan.
Polisi hanya tersenyum ke arah kru Dila. Mereka pun membalas senyuman polisi karena tidak umtuk berbicara percuma saja karena mereka tidak mengerti bahasa yang dipakai.
Saat mereka sampai di ruangan perawatan. Polisi pun segera pergi dan meninggalkan kru Dila.
Yang tersisa di ruangan hanya Dila dan beberapa kru Dila. Mereka terlihat lega dengan Dila berhasil di selamatkan namun masih merasa cemas. Mereka takut kalau Vian sampai marah ke mereka dan memecat mereka.
Para kru Dila saling melontarkan ke yang lain untuk memberi tau ke perusahaan atas apa yang terjadi sama Dila. Namun mereka tidak ada yang berani.
Tapi karena waktu yang berjalan. Salah satu kru pun memberanikan untuk menyampaikan apa yang terjadi sama Dila.
Setelah mereka mengkasih tau ke perusahaan, pihak perusahaan pun segera memberi tau ke Vian.
***
Suasana di perusahaan RMD
Salah satu orang berlari ke arah ruangan Vian. Saat orang tersebut sampai di depan meja Fano yang merupakan ajudan Vian. Orang tersebut memberi tau ke Fano. Tentu saja Fano terkejut setelah mendengar penjelasan dari orang tersebut.
Fano pun meski dalam keadaan panik, namun Fano tetap berhati-hati mengetuk pintu ruangan Vian. Fano tau kalau Vian sedang berbicara penting dengan client, akan tetapi karena kondisi Dila sangat mencemaskan yang membuat Fano harus menyampaikan ke Vian. Fano lalu membisikkan ke telingan Vian.
__ADS_1
Vian lalu terkejut dan syok setelah mendengar perkataan dari Fano. Melihat Vian syok. Clientnya merasa heran