KENANGAN SEDIH

KENANGAN SEDIH
BAGIAN 27 KECEMASAN


__ADS_3

Saat suasana masih tegang. Tiba-tiba Vian berdiri dari kursinya.


"Semuanya akan berjalan lancar Pak Hirka. Untuk semua dananya. Kalian semua tidak perlu khawatir. Karena itu urusan saya dan juga ke manajer bagian musik saya tugaskan ke padamu untuk mencari secara cepat pengisi suara untuk album seberkas cahaya karena waktu kita hanya sebulan," jawab Vian dengan tegas.


Sebenarnya Vian sudah mengetahui kondisi perusahaan. Sebelum Vian pulang dari Perancis. Vian sudah pulang 3 hari yang dulu dan sempat bertemu dengan Riana dengan bentuk penyamarannya. Dila dan Pak Hardianto tidak mengetahui penyamarannya dan mengira Vian masih di Perancis. Vian dulu menyamar sebagai tamu biasa untuk melihat situasi perusahaan.


"Bagus kalau begitu. Aku harap kamu tidak melupakan apa yang barusan kamu katakan. Direktur RMD..!!" setelah itu Pak Hardianto meninggalkan ruangan rapat.


"Maaf atas apa yang barusan terjadi..oh iya David aku berharap kamu sangup apa yang saya bilang tadi," jawab Vian sambil memandang kearah David.


David adalah manajer bagian musik. Segala urusan musik sampai ke vokalis adalah tanggung jawab pekerjaan David.


"Baik Pak Vian, saya sangup," jawab David sebagai manajer musik.


"Bagus. Saya harap semuanya berjalan dengan lancar," ucap Vian sambil duduk di kursinya.


Setelah lama membahas album seberkas cahaya. Vian pun mengakhiri rapat.


Vian yang keluar ruangan diikuti sama Dila dan ajudannya si Fano. Dila melihat muka Vian yang sedikit cemas.


Apakah Vian masih memikirkan soal dana untuk album itu. Aku bisa merasakan kecemasan Vian. Kalau seandainya Dio tidak buat kesalahan. Pasti dana perusahaan tidak kekurangan seperti ini. Tapi ku percaya kalau Vian pasti punya jalan keluar. Ucap Dila dalam hati.

__ADS_1


Saat Vian berjalan keruangan kantornya. Fano langsung membukakan pintuk untuk Vian. Setelah dalam ruangan, Vian melihat ke arah kaca dan memandangi suasana dari balik kaca.


Apa yang mesti kulakukan. Mencari dana sebanyak itu bukanlah hal yang mudah dan aku tidak boleh gegabah mengambil tindakan. Aku tidak mau kalau nama perusahaan menjadi buruk. Tapi apa yang mesti ku lakukan?. Ucap Vian dalam hatinya.


Lalu Vian melihat arah jam tanganya dan menunjuk jam 16.30. Vian yang merasa lelah langsung keluar ruangan dan bertemu dengan Fano.


"Fano, aku mau pulang ke rumah dulu," ucap Vian.


"Hati-hati Pak dijalan," kata Fano bernada sopan.


Vian hanya tersenyum kecil memandang Fano dan melanjutkan langkah pulangnya ke rumah.


Setelah sampai di rumah dan memakirkan mobilnya. Vian pun masuk. Vian langsung mencari ayahnya.


Di belakang rumah Vian mempunyai danau pribadi yang digunakan sama pak Hardianto untuk memancing ataupun menikmati suasana tenang.


Vian yang melihat ayahnya memancing langsung mendekati dan duduk di sampingnya.


"Vian. Gimana keadaan perusahaan. Apakah kamu sudah mengambarkan apa yang akan mu lakukan kedepan untuk album?" tanya ayahnya sambil memegang pancingannya.


"Kalau soal itu Vian masih mencari cara. Tetapi Ayah tenang saja. Pasti akan berjalan lancar," jawab Vian sambil memandang danau.

__ADS_1


"Bagus Vian. Ayah senang mendengarnya. Ayah yakin, mu pasti bisa mengatasinya," ucap Pak Hardianto.


"Kenapa Ayah begitu yakin sama Vian?" tanya Vian dengan memandang muka ayahnya.


"Karena kamu adalah Anakku," jawab Pak Hardianto sambil tersenyum yang tetap fokus sama memancingnya.


Vian yang mendengar perkataan ayahnya. Merasa tenang dan tersenyum kecil.


Vian lalu menemani ayahnya mancing. Vian lalu menuju ke rumah untuk mengambil alat pancingan.


Setelah menemukan alat pancingannya. Vian lalu menuju ke ayahnya.


"Kamu juga mau ikut mancing Vian?" tanya ayah Vian sambil melihat Vian yang sedang mengasih umpan ke pancingannya.


"Iya Yah. Ayahkan tidak lama lagi di sini karena Ayah mau berangkat ke luar negeri untuk mengurus cabang utama perusahaan RMD," ucap Vian mengayunkan mata pancing ke danau.


"Vian. Ayah percayakan anak perusahaan RMD keseluruhannya ke kamu. Meski kondisi keuangan bermasalah di anak perusahaan. Ayah tidak mau menggunakan uang perusahaan induk untukmu. Kamu harus pandai mencari solusinya sendiri," ucap Pak Hardianto dengan tegas.


"Siap Yah. Vian mengerti. Vian harus bisa menyelesaikan masalah ini tampa bantuan ayah sedikit pun. Karena Vian pasti bisa," ucap Vian sambil senyum kecil ke ayahnya.


Mereka pun melanjutkan memancing dengan fokus tampa bersuara agar ikan tidak terganggu dengan suara mereka.

__ADS_1


Tidak beberapa lama, Vian mendapatkan ikan. Sedangkan ayahnya hanya bisa bersabar menunggu umpan dimakan ikan.


Ayah Vian tidak ingin kalah dari Vian. Ayah Vian masih menunggu setia umpannya dimakan.


__ADS_2