KENANGAN SEDIH

KENANGAN SEDIH
BAGIAN 59 SESUATU YANG TIDAK PUNYA


__ADS_3

Setelah lama berbicara dengan staff pekerja yang ada di ruang latihan. David segera menuju ke arah Riana. Riana yang sedang duduk di kursi di tepi ruang latihan. Riana melihat David menuju ke arahnya. Riana lalu segera berdiri.


"Nah sekarang pergilah belajar sama orang itu," David lalu menunjuk staff pekerja yang berbicara dengan David tadi ke Riana.


"Ya Kak."


"Nah apa lagi. Kenapa masih diam. Pergi ke sana," ucap David sambil meletakkan telapak tangan ke keningnya.


Riana lalu segera menemui staff tersebut. Riana lalu diajarkan beberapa cara untuk pengaturan pernafasan.


David yang melihat mereka latihan, David pun segera menuju ke latihan Riana. Riana pun menjadi grogi melihat David berdiri di samping Riana.


Riana lalu mendapat jitak di kepalanya dari David. Riana lalu memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


"Apa-apaan itu, latihan dengan cara seperti itu. Serius Riana," ucap David yang mengarahkan tangannya ke mulut dirinya sendiri sambil membuang nafas ke gumpalan tangannya.


Riana yang melihat gumpalan tangan David. Riana berusaha untuk serius. Riana mencoba untuk serius namun selalu dapat jatah dari David.


Staff pekerja yang melatih Riana, hanya heran melihat reaksi Riana dan David. Setelah lama latihan, David lalu mengajak Riana untuk makan siang.


"Kita istirahat dulu. Nantik saya kabarin lewat ponsel," ucap David ke staff yang melatih Riana.


David pun mengajak Riana keluar latihan ruangan dan menuju ke mobilnya.


"Mau kemana kita Kak?" tanya Riana ke David setelah sampai di mobil David.


"Sudah, masuk saja. Jangan banyak tanya," David lalu masuk ke mobilnya.


Riana lalu masuk ke dalam mobil David. Lalu mereka pergi meninggalkan perusahaan. Dalam perjalanan, Riana tidak mengeluarkan sepatah kata pun ke David dan David hanya fokus mengemudi mobilnya.


David yang melihat restoran. David memutar mobilnya ke arah restoran tersebut.


"Kita sudah sampai. Kita makan siang dulu," David pun keluar dari mobil.


Riana pun keluar dari mobil dan mengikuti David menuju ke restoran. Setelah mereka berdua masuk. David lalu duduk di kursi beserta dengan Riana.


Seseorang lalu menuju ke meja makan Riana dan David.


"Kakak Davidkan?" ucap wanita yang tidak dikenali oleh David.


"Iya saya David. Ada hal apa?" tanya David dengan dinginnya.

__ADS_1


"Maaf Kak. Boleh mintak tanda tangannya?" pintak wanita itu.


Wanita itu mengeluarkan kertas dan pena dari dalam tasnya, lalu memberikan ke David. David lalu menulis tanda tangannya dan segera mengasih ke wanita itu.


"Kak. Boleh Foto tidak?" pintak wanita lagi ke David.


David lalu menolak dengan alasan menjaga privasi dirinya sendiri. Wanita itu pun sedikit kecewa, namun karena sudah mendapatkan tanda tangan David. Wanita itu pun berterima kasih ke David dan meninggalkan mereka.


"Kak David. Kenapa menolak untuk berfoto bersama dengan wanita itu. Bukankah dia pengemar Kak?" tanya Riana yang heran melihat David.


"Sudah, jangan dibahas," David lalu memanggil pelayan restoran.


Setelah pelayan restoran datang. David lalu memesan makanan dan David lalu memesan makanan untuk Riana. Riana yang melihat David yang memesan makanannya tidak begitu semangat dengan makanan yang dipesan untuknya.


David yang melihat ekpresi Riana dengan ekpresi yang kurang semangat dengan makanan yang di pesan oleh dirinya, David tidak memperdulikan.


David mengambil ponselnya dan David memainkan ponselnya tampa memperhatikan Riana. Riana hanya diam, Riana mau televon Vian tapi Riana mengurungkan niatnya karena David bersamanya.


Riana hanya diam membisu sambil merasa suntuk. Saat beberapa lama, pelayan restoran datang mengantarakan makanan mereka.


David pun segera meletakkan ponselnya di atas meja makan dan segera makan. David yang melihat Riana hanya menatap makanannya dengan lesu.


Setelah mendengar perkataan David. Riana lalu mengambil sendok dan memakan makannya.


Gak enak. Sabar Riana, Sabar. Pertahankan kesabaranmu. Ini tidak akan lama. Ucap Riana dalam batinnya sambil makan makannya dengan terpaksa.


David yang telah selesai makan. Namun Riana yang masih dalam setengah menghabiskan makannya.


"Lama kali kamu menghabiskan makannya. Cepat lah Riana, kita mau melanjutkan latihan," ucap David dengan melihat jam tangannya.


Riana lalu mencoba mempercepat makan makannya. Sedangkan David melihat ponselnya selagi menunggu Riana selesai makan.


Setelah Riana selesai makan. David segera menuju ke tempat pembayaran dan membayar semua makanannya. Setelah selesai bayar. Mereka pun segera pergi dan menuju ke perusahaan RMD.


Setelah mereka sampai ke perkarangan perusahaan RMD. David lalu memakirkan mobilnya. Mereka berdua turun dari mobil.


"Kita langsung menuju ke ruang latihan saja," ucap David sambil berjalan.


David lalu mengambil ponselnya dari saku celananya dan menelvon staff kerja ruang latihan Riana. David memberi tau kalau mereka sudah mau menuju ke ruang latihan.


Saat mereka telah sampai di ruangan latihan. David melihat staff yang akan melatih Riana telah menunggu mereka di tempat alat musik piano.

__ADS_1


Riana pun segera memulai latihannya, sedangkan David memperhatikan Riana latihan dari jarak dekat.


***


Di pintu masuk perusahaan RMD.


Lisa yang baru sampai di pintu perusahaan RMD. Lisa segera menuju ke ruang Vian. Setelah sampai di depan ruang Vian.


Ajudan Vian yang melihat Lisa. Segera berdiri dan bertanya.


"Ada keperluan apa Lisa?" tanya Fano sambil melihat ke arah Lisa.


"Bukan urusanmu Fano. Aku mau bertemu sama Vian," ucap Lisa dengan angkuh.


"Lisa tolong jaga ucapanmu," Fano lalu masuk kedalam ruang Vian.


Saat Fano baru masuk. Lisa lalu menyerobos masuk. Fano lalu terkejut melihat Lisa masuk tiba-tiba. Lisa lalu segera duduk di depan meja kerja Vian. Tentu saja Fano dan Vian terkejut melihat kelakuan Lisa.


"Maaf Pak Vian," ucap Fano sambil melihat ke arah Vian.


"Ya Fano. Tidak apa-apa."


Lalu Fano segera keluar dari ruangan Vian. Vian segera melihat Lisa dengan heran, yang menengok sifat Lisa.


"Ada apa Lisa?" tanya Vian melihat ke arah Lisa.


"Vian. Aku hanya mau bilang. Persoalan Riana. Riana tidak ada apa-apa bagiku. Dia hanya gadis biasa. Kenapa kamu masih mempertahankannya? aku saja sudah cukup untuk mengisi suara album itu. Sudah, jangan dipaksa lagi soal Riana," ucap Lisa dengan sombongnya.


"Lisa. Dengarkan aku. Soal itu, aku percaya sama Riana. Lagi pula Riana mempunyai sesuatu yang tidak kamu punya."


"Sesuatu yang tidak aku punya. Jangan bercandamu Vian. Apa yang gadis kampung itu punya yang tidak aku punya?" tanya Lisa dengan sedikit marah ke Vian.


"Dia tidak sombong. Dia selalu tersenyum dengan apa yang dia punya. Aku rasa dia bisa membuat keajaiban untuk menyelesaikan proyek album berkas cahaya. Dia memiliki suara yang bagus. Riana hanya perlu latihan sedikit," ucap Vian yang memandang ke Lisa.


"Jangan terlalu berlebihan Vian dan terlalu berharap. Mending kamu hentikan saja dia dari pengisi suara. Aku bisa mengantikannya, bahkan lebih baik dari dia ketimbang gadis desa yang tidak jelas."


"Lisa jika hanya itu yang mau kamu sampaikan. Maaf aku tidak punya waktu untuk berdebat denganmu," jawab Vian dengan sedikit kesal.


"Emang benar apa yang aku katakan. Tengok saja kedepannya. Kalau dia pasti gagal dan kamu akan memyesal Vian," Lisa lalu berdiri dan meninggalkan ruagan Vian.


Vian yang melihat Lisa pergi, merasa sedikit tenang. Vian lalu melanjutkan pekerjaannya di depan komputer.

__ADS_1


__ADS_2