
Riana dan Dila tiba di perusahaan RMD. Riana lalu mengajak Riana ke ruangan David. Setelah Riana dan Dila sampai di ruangan David. Mereka melihat David sedang menikmati kopi di meja kerjanya.
"Dila. Ada apa Dil kesini?" tanya David sambil meletakkan kopi di atas meja.
"Tidak ada apa-apa. Hanya mengantar Riana," ucap Dila sambil memandang ke arah Riana.
"Oh iya. Soal Riana. Jadi gimana Riana, Apa kamu setuju soal kontrak yang saya bilang kemarin?" tanya David yang memandang Riana.
"Riana setuju, Kak."
"Kalau begitu saya tinggal pergi ya Riana. Kak masih banyak kerjaan."
"Ya kak. Makasih sudah mau menemanin Riana Kak."
Dila pun tersenyum ke arah Riana. Lalu pergi meninggalkan ruangan David.
"Jadi Riana. Seperti yang saya bilang. Kamu menjadi tanggung jawab saya. Waktu kita tidak banyak. Kamu akan tinggal di apartemen saya."
"Apa..!! tinggal di apartemen sama Kak berdua?" tanya Riana yang sangat terkejut dengan perkataan David.
"Iya. Dengan begitu saya bisa mengatur jadwalmu. Mengatur makananmu dan bisa melatihmu sesuai jadwal tampa ada telat waktu."
"Tapi Kak. Apa tidak ada cara lain. Selain cara tidak tinggal berdua?" pintak Riana ke David.
"Tidak ada. Kamu sangka melatih suara itu gampang. Belum tentu dalam waktu yg tinggal 25 hari. Kamu bisa menguasai suara yang bagus. Sudah jangan banyak omong, kamu tanda tangan aja di sini," David lalu memberikan pena dan kertas kontrak ke Riana.
Riana lalu menanda tangani kontrak tersebut. Riana terpaksa mengikuti perkataan David demi janjinya ke ayahnya untuk menjadi penyanyi terkenal.
"Ok Riana. Mulai saat ini. Kamu tetap di ruangan saya. Kalau begitu ayok ikut saya," David lalu berdiri dan mengajak Riana ke ruangan depan.
Setelah mereka berdua sampai ke ruangan depan ruangan pribadi David. David lalu memanggil para staff kerja pribadinya.
"Kalian semua dengarkan saya. Ini Riana. Dia akan menjadi dari grup kita. Dia akan menjadi pengisi suara album seberkas cahaya. Kalian bekerja samalah dengan Riana," ucap David yang memperkenalkan Riana ke staff kerja pribadi David.
Setelah memperkenalkan Riana. David lalu masuk ke ruangannya kembali. Riana hanya tinggal bersama staff kerja David.
"Perkenalkan. Saya Riana," ucap Riana ke Tiga staff David.
"Saya Bima," ucap bima sambil tersenyum ke Riana.
__ADS_1
"Saya Yuni," Yuni memperkenalkan dirinya ke Riana.
"Saya Siva," Siva pun mendekati Riana sambil berbicara bisik ke Riana.
"Eh eh. Hati-hati ke David ya. Dia itu orangnya dingin. Tidak ada perasaan," ucap Siva sambil tertawa kecil ke Riana.
"Benarkah itu Siva," tanya Riana sambil berbicara pelan.
"Benar. Oh iya jangan cangung ke kami ya Riana. Kami orangnya santai kok. Ngomong-ngomong ada gosip tidak?" Siva lalu tertawa.
"Gosip. Tidak ada Siva," ucap Riana yang merasa keheranan.
Tiba-tiba David yang mendengar suara keras di depan ruangannya. David lalu keluar dari ruangan dan mendekati Riana, Bima, Yuni dan Siva.
"Kalian sedang apa. Kerja sana. Malah ribut-ribut. Yuni?" David lalu memanggil Yuni.
"Ya Pak David?" tanya balik Yuni.
"Ajarkan Riana soal penggunaan tulisan do re mi," pintak David ke Yuni.
"Siap Pak. Riana coba ke sini."
Siang pun tiba. David lalu mengajak Riana ke Kantin makanan yang ada di perusahaan. Riana hanya menurut karena bos Riana adalah David. Saat sampai di kantin, mereka pun duduk dan memesan makanan.
"Kak. Pesan makanan yang sedikit pedas," pintak Riana ke pelayan kantin.
"Apa-apaan kamu ini Riana..!! siapa yang menyuruh kamu makan makanan pedas. Sini aku pesankan makan untukmu," David lalu memesankan makanan untuk Riana.
Riana yang mendengar makanan yang dipesan oleh David, tentu saja membuat Riana tidak suka dengan pesanan David untuk dirinya, namun Riana hanya bisa menahan kesal dalam hatinya.
Setelah menunggu lama. Pesanan mereka pun selesai. Pelayan kantin itu pun mengantarkan makanan mereka.
David lalu menyantap hamburgernya, sedangkan Riana memakan makanan yang dipilih oleh David. Riana makan dengan sedikit terpaksa sambil muka masam.
"Ada apa? kamu harus makan makanan itu agar suaramu bagus. Mau tidak mau, kamu harus makan," ucap David sambil makan hamburgernya.
Ini pasti mimpi burukku sudah dimulai. Aku mesti bertahan demi impianku. Aku tidak boleh menyerah, apapun yang terjadi. Aku harus bisa. Dasar David menyebalkan. Ucap Riana dalam batinnya yang sedang menahan rasa kesal.
"Kenapa memasang muka seperti itu?" tanya David dengan melihat muka masam Riana.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa Kak David. Makanannya enak Kak," ucap Riana yang berbohong ke David.
"Hmm begitu. Kalau gitu itu menjadi makanan pokok utama kamu Riana."
Riana lalu kaget mendengar perkataan David. Riana tidak percaya kalau makanan yang dia makan sekarang menjadi makanan pokok untuknya.
David gila. Kalau bukan karena dia yang membimbingku. Sudahku ***** dia hidup-hidup. Riana lalu memasang muka jengkel.
"Ada apa memandang seperti itu?" tanya David yang melihat Riana yang memandang mukanya.
Riana lalu menganti muka ekpresi jengkel ke muka senyum saat David melihat dirinya. David lalu memalingkan mukanya yang tidak terlalu memperdulikan Riana.
Riana lalu mencoba menghabiskan makanan yang ada dihadapannya dengan terpaksa. Saat makanan Riana telah habis. David lalu mengasih tau alamat apartemennya. David menyuruh Riana untuk menginap di rumahnya.
"Tapi Kak tidak akan melakukan hal yang aneh-anehkan ke Riana?" tanya Riana dengan perasaan takut.
"Bicara apa mu Riana. Aku tidak tertarik dengan wanita yang masih Anak-anak."
"Aku Anak-anak?" tanya Riana sedikit jengkel.
"Ya anak-anak yang masih dibawah umur. Ya sudah, yok lanjut latihan."
"Latihan di mana Kak?" tanya Riana sambil berdiri.
"Sudah, jangan banyak omong," David lalu segera berjalan ke kasir dan membayar. Lalu David meninggalkan kantin.
Riana hanya mengikuti dari belakang langkah David. David yang berjalan cepat, sehingga Riana menambah langkah cepat jalannya.
Setelah mereka sampai ke salah satu ruangan. Riana belum pernah ke ruangan ini. David membuka pintu, saat mereka masuk. Riana tercengang dengan alat musik yang lengkap di ruangan tersebut. Ruangan yang besar sehingga seakan Riana berdiri di panggung.
David lalu membawak Riana ke salah satu staff kerja disana.
"Hei ajarkan Riana ini dalam mengatur nafas suara," ucap David ke salah satu staff tersebut.
"Siap Pak David. Jadi namamu Riana?" tanya staff pekerja.
"Iya Kak. Mohon bimbingannya," pintak Riana dengan sopan.
Lalu mereka berdua pergi ke salah satu alat piano. Riana hanya berdiri di samping piano. David hanya duduk di bangku tepi ruangan tersebut. David hanya memperhatikan Riana latihan dari jarak jauh.
__ADS_1