KENANGAN SEDIH

KENANGAN SEDIH
BAGIAN 49 YANG TIDAK DIMENGERTI


__ADS_3

Riana yang siap-siap untuk pulang kekampung halamannya. Vian yang sedang berdiri di samping mobilnya menunggu Riana. Vian yang menggunakan baju kemeja yang kancing kemejanya di buka sehinga terlihat baju kaos dalam dan celana jeans.


Vian yang melihat Riana datang ke arahnya. Lalu Vian memakai kacama hitam, lalu masuk ke mobil. Riana juga ikut masuk ke mobil Vian.


Saat mereka mau berangkat. Dila tiba-tiba datang menuju ke arah pintu, tempat Vian duduk didalam mobilnya. Vian lalu membuka kaca jendela mobil.


"Vian, Hati-hati ya," ucap Dila menundukkan kepalanya agar terlihat oleh Vian dan Riana dari dalam mobil.


"Iya. Kuserahkan urusan perusahaan ke kamu Dila," ucap Vian yang mengeluarkan kepalanya sedikit keluar dari kaca jendela mobil.


"Kak Dila. Makasih ya udah mau jaga Riana dan menerima Riana di rumah Kakak," ucap Riana ke Dila dari dalam mobil.


"Iya. Sama-sama adek Riana. Jaga kesehatanmu ya Riana."


"Kak juga jaga kesehatan," ucap Riana sambil tersenyum ke Dila.


"Ya udah. Kami berangkat dulu," Vian lalu menutup jendela kaca mobil dan menghidupkan mesin mobil.


Mobil Vian pun berangkat pergi meninggalkan Dila. Di dalam perjalanan, Vian melihat supermarket. Vian lalu memutarkan mobilnya ke arah supermarket.


Setelah mereka memakirkan mobil. Vian dan Riana masuk ke dalam supermarket. Para wanita pelayan supermarket dan orang di sekitar, pada memandang kearah Vian. Mereka memandang karena ketampanan Vian.


Begitu juga dengan para laki-laki yang melihat Riana. Mereka melihat kecantikan Riana. Riana yang memakai topi dengan rambut yang dikeluarkan dari celah belakang topi, menambah cantik dan manis Riana.


Vian dan Riana tidak memperhatikan orang di sekitarnya. Mereka fokus dengan makanan snack yang akan dibeli untuk dimakan dalam perjalanan.


Setelah mereka selesai memilih makanan. Vian lalu menuju ke meja kasir dan mereka pun antri. Para orang pengunjung masih diam-diam memperhatikan mereka berdua. Setelah Vian dan Riana di depan meja kasir, Vian membayar semua makanan snack dan minuman yang dibelinya.


Lalu mereka menuju ke mobil. Vian dan Riana masuk ke mobil. Vian lalu memasang kaca mata hitamnya lagi. Vian menghidupkan lagu di tape mobilnya. Lagu yang diputar oleh Vian adalah "Bad Liar".


Riana yang melihat suasana pemandangan di balik jendela kaca mobil dan tiba-tiba mendengar lagu tersebut. Lalu bertanya ke Vian.

__ADS_1


"Vian kamu suka lagu itu?" tanya Riana sambil memandang ke arah Vian.


"Ya aku suka. Artinya pembohong yang buruk."


"Jadi apa yang Vian rasakan dengan lagu itu?" tanya Riana.


"Hmm rasanya aku pernah melakukan sesuatu yang salah. Tapi aku tidak tau kenapa. Salah apa yang aku lakukan. Aku mencoba mengigat tapi semuanya terasa pemandangan hitam yang kulihat. Seorang anak kecil yang memanggil nama aku, tapi anak kecil yang pandang itu samar-samar. Siapa dia dan kenapa dia memanggilku. Aku merasa seorang pembohong yang buruk ke anak itu tapi meskipun begitu, aku mencoba menjelaskan semuanya dari dalam mimpiku. Tapi dia tidak mendengarkannku. Tapi aku berkata percayalah dengan apa yang aku katakan. Namun dia tetap pergi. Aku ingin terlepas, tapi semakinku melupakan. Semakin ada memori yang membuatku kembali ke pilar-pilar yang tidak ku mengerti. Semua itu membuat kepalaku sakit, dan bertanya-tanya dengan soal mimpi itu" ucap Vian dengan nada kata yang seakan bimbang dan tidak mengerti.


Riana yang mendengarkan perkataan Vian. Memegang bahu Vian dan mencium pipi Vian dari samping.


"Vian. Ada aku di sini yang akan selalu menemanimu. Segala bimbang dan yang tidakmu mengerti, pasti suatu saat akan terjawab apa itu. Jika dirimu tidak membuang kenangan yang masihmu cari jawabannya," Riana lalu kembali ke kursi duduknya.


"Terima kasih Riana. Kamu memang yang terbaik yang pernahku temui. Ku merasa nyaman bersamamu," ucap Vian yang memandang Riana dengan senyuman kecilnya.


"Aku juga merasa nyaman bersamamu Vian," ucap Riana sambil membalas senyuman Vian.


Vian lalu memegang tangan Riana dengan sebelah tangannya dan mengengam erat tangan Riana sambil mengemudi mobil.


Riana dengan senyum menyuapin Vian. Vian yang sekarang udah terbiasa di suapin oleh Riana, sehingga tidak merasa cangung dan malu.


Saat suasana malam tiba. Vian lalu melihat-lihat suasana jalan yang dilaluinya. Vian lalu melihat sebuah warung nasi sederhana. Vian lalu memberhentikan mobilnya.


Vian melihat suasana warung yang penuh dengan orang-orang oleh para supir travel dan supir para mobil truck-truck besar yang parkir di sepanjang tepi jalan. Mereka pun masuk dan memesan nasi untuknya dan untuk Riana.


Mereka pun makan dengan suasana suara para bapak-bapak yang mengisi ramainya warung tersebut.


"Mau kemana Dek?" tanya salah satu bapak yang memandang kearah Vian dan Riana yang sedang makan.


"Mau ke desa Teluk Bintang Pak," ucap Riana yang menghentikan makannya.


"Memangnya dari mana Dek?" tanya balik bapak tersebut.

__ADS_1


"Dari kota Blinda Pak," ucap Riana sambil senyum.


"Wah jauh juga ya. Semoga kalian selamat sampai tujuan."


"Iya Pak. Makasih ya Pak," ucap Riana lalu melanjutkan makannya.


Setelah mereka selesai makan. Vian dan Riana menuju ke tempat pembayaran makanan mereka. Lalu Vian dan Riana pamit ke bapak tadi yang berbicara ke Riana.


Setelah mereka pamit. Mereka pun menuju ke mobil dan menghidupkan mobil. Lalu mereka pun pergi meninggalkan rumah makan tersebut.


Vian melihat jam tangan yang sudah menunjukkan jam 20.56 malam. Vian lalu mengambil minuman kaleng kopi lalu membuka dan meminumnya.


"Riana mau temanin Vian aja," ucap Riana sambil tertawa.


"Eleh. Tidak usah berlagak Riana. Kemarin mau temanin Vian. Tapi dua belas menit udah tertidur," ucap Vian menyindir Riana.


"Eh jadi Vian tidak percaya ke Riana. Kalau malam ini Riana akan temanin Vian sampai pagi?" ucap Riana dengan tatapan muka serius ke arah Vian.


"Hmm apa benar dengan perkataan Riana itu?" ucap Vian sambil tertawa.


"Benar kok. Riana akan buktikan ke Vian. Kalau Riana akan menemanin Vian."


"Haha. Iya-iya, kalau benar-benar mau temanin Vian. Jadi Vian tidak merasa kesepian seperti dulu."


"Tidak akan kesepian deh," ucap Riana sambil tertawa.


Riana dan Vian mengobrol dan menjelang tiga belas menit. Riana tertidur. Vian yang melihat Riana tertidur, merasa cemberut dan sedikit jengkel.


"Benarkan. Pasti tertidur. Kemarin dua belas menit dan sekarang tiga belas menit. Lebih lama dari kemarin. Record baru ya Riana," ucap Vian berbicara sendiri sambil tertawa melihat Riana yang tertidur.


Vian lalu menfokuskan membawa mobil dan sedikit menambah kecepatan agar cepat sampai ke desa Teluk Bintang.

__ADS_1


__ADS_2