
Malam pun tiba. Vian yang baru turun dari bandara. Posisinya telah berada di luar negeri. Vian lalu segera menuju ke luar bandara dan mencari taxi.
Setelah dirinya mendapatkan taxi dan langsung masuk ke dalam taxi. Vian dengan bahasa Inggrisnya berbicara ke supir taxi dan setelah selesai berbicara. Supir taxi itu pun mulai menghidupkan mobil dan mereka pun berangkat.
Vian hanya melihat kondisi ramainya suasana perkotaan. Vian lalu menghidupkan ponselnya. Vian mencoba cek email melalui ponselnya.
Setelah beberapa lama perjalanan yang di tempuh. Taxi itu pun berhenti di depan rumah besar. Vian lalu mengkasih uang ke jasa ke supir taxi tersebut.
Vian pun keluar dari taxi sambil memegang kopernya. Saat Vian keluar, taxi itu pun pergi. Satpam rumah yang melihat Vian. Satpam itu pun membukan pintu gerbang pagar rumah.
"Welcome Sir," ucap satpam itu dalam bahasa Inggris.
"Thanks. Is my dad there?" tanya Vian ke satpam.
"Yes Sir. there is, sir. just returned home."
Vian lalu menuju untuk masuk ke rumah. Tapi sebelum masuk. Satpam itu mendatangi Vian.
"Sorry, Sir. let me carry the luggage," pintak satpam tersebut.
"Ok. Thank you," Vian lalu menyerahkan kopernya ke satpam tersebut.
Lalu Vian melanjutkan langkahnya masuk ke rumah yang pintu rumah sedang terbuka. Vian lalu duduk di kursi ruang tamu. Tidak beberapa lama. Vian menuju ke ruang dapur.
Vian lalu melihat ayahnya sedang makan. Ayahnya terkejut melihat Vian sedang mendatangi dirinya yang sedang makan. Vian pun menyapa ayahnya dan mencium tangan ayahnya.
"Vian. Ada apa tiba-tiba ke rumah. Kenapa tidak kasih kabar ke Ayah kalau mau ke sini," ucap ayahnya sambil makan.
"Karena ada pertanyaan yang mesti Vian jawab ke Ayah secara langsung," Vian pun duduk dan mengambil segelas air putih.
"Ya sudah nantik sudah makan, kita berbicara maksud Vian datang menemui Ayah."
Vian hanya menganguk iya dan ikut makan bersama ayahnya. Setelah selesai makan. Vian lalu di suruh oleh ayahnya untuk mandi sebelum berbicara permasalahan.
Vian lalu menuju kamar tidurnya dan segera untuk mandi. Setelah dirinya selesai mandi dan berpakaian. Vian segera menuju ke ruang pribadi kerja ayahnya di rumah.
Setelah Vian sampai di depan pintu ruangan pribadi kerja ayahnya. Vian mengetuk pintu dan masuk ke dalam.
Vian melihat ayahnya sedang duduk di kursi mejanya. Lalu Vian segera duduk di depan meja kerja ayahnya.
__ADS_1
"Jadi apa yang mau dibicarakan itu Vian?" ucap ayahnya dengan serius.
"Begini Yah. Lisa dulu satang ke Vian. Dia bilang kalau dia akan mengisi suara vocal album seberkas cahaya. Dia juga bilang kalau dia sudah dapat izin dari Ayah," ucap Vian menjelaskan ke ayahnya.
"Soal itu. Ayah sudah kasih izin. Menurut Ayah. Mungkin dia bisa membuat sukses. Jadi fokus ke Lisa dari pada mencari yang lain."
"Yah. Soal Lisa. Vian tidak setuju. Ayah tau sendiri masalah perusahaan yang dulu, yang di sebabkan oleh Dio dan dirinya," ucap Vian dengan sedikit kesal soal bahas Lisa.
"Lagi pula Ayahnya Lisa mendatangi Ayah. Dia memintak Lisa untuk menjadi penyanyi album seberkas cahaya. Vian taukan jasa orang tua Lisa ke kita dulu. Ayah jadi segan menolak permintaan orang tuanya Lisa."
"Tapi Ayah. Kami sudah menemukan orang yang cocok soal pengisi suara album. Dia memiliki bakat yang tidak dimiliki oleh Lisa," Vian mencoba meyakinkan ayahnya.
"Jujur Vian tidak setuju kalau Lisa yang mengisi soal album itu," ucap Vian sambil menundukkan kepalanya.
"Begini saja. Saat hari yang di tentukan, ayah akan datang ke anak perusahaan RMD. Ayah ingin mendengar suara mereka berdua. Di mana di antara mereka berdua yang suaranya bagus. Ayah akan menunjukkan sebagai vocalis yang cocok secara langsung," Ayah Vian berdiri dari duduknya.
"Kapan ayah pulang ke Indonesia?" ucap Vian dengan memandang ayahnya yang berdiri.
"Sekitar dua minggu lagi. Ayah akan pulang dan di saat itu, ayah akan mendengar suara nyanyian mereka berdua."
"Baik Ayah. kalau begitu Vian kembali ke kamar Yah," Vian lalu berdiri.
Vian segera menuju ke luar ruangan dan menuju ke kamar tidurnya. Dalam hati Vian masih kesal soal Lisa.
Setelah sampai dalam kamarnya. Vian lalu langsung membaringkan badannya ke tempat tidur.
Vian lalu mengambil ponselnya dan langsung menelvon Riana. Setelah tidak beberapa lama. Ponselnya tersambung ke Riana.
"Hay gadis kecilku yang manja," ucap Vian melalui ponselnya.
"Hay juga Vian. Ehh mana Riana manja ya," jawab Riana sambil tertawa lewat televon.
"Aku sudah sampai dari tadi."
"Kalau dari tadi. Vian sekarang di mana?" tanya Riana.
"Ini lagi di kamar. Riana sudah makan?" Vian lalu segera duduk ditepi tempat tidur.
"Sudah kok Vian. Kalau Vian sendiri sudah makan?" tanya balik Riana ke Vian.
__ADS_1
"Sudah juga kok Riana."
"Jadi bagaimana harinya tadi Riana?"
"Semuanya berjalan seperti biasa Vian. Hariku akan spesial jika dirimu ada di samping diriku," ucap Riana sambil tertawa.
"Dasar sayangku ini," Vian pun tertawa mendengar perkataan Riana.
"Eh David ke mana? kok suara dia tidak kedengaran?" tanya Vian dengan penasaran.
"Dia sudah tidur."
"Riana tidur di mana. Tidak berduakan sekamar?" tanya Vian cemas.
"Enak saja menuduh. Tidaklah sayang. Riana tidur di sofa," ucap Riana dengan sedikit sedih.
"Apa. Di sofa. Benar-benarlah David. Nantik aku akan gomong ke David."
"Jangan Vian. Riana sudah nyaman kok. Lagi pula menjadi orang sukseskan mesti butuh perjuangan. Viankan yang dulu bilang ke Riana."
"Benar sih Riana. Tapi apa tidak kedinginan atau merasa kurang nyaman tidur di sana."
"Sudah, jangan dipikirkan Vian. Jangan kesal-kesal. Riana mau di manjain loh. Tapi kalau kesal begini. Tidak jadilah," ucap Riana dengan sedikit kesal.
"Maaf sayang. Iya deh tidak bahas itu."
"Nah gitu donk Sayangku," Riana sedikit tertawa mendengar perkataan Vian.
"Vian. Aku merasa rindu ke Ibu," ucap Riana.
"Hmm saat Aku pulang. Kita temui ibu Riana. Hari minggukan libur. Jadi kita ke sana."
"Benarkah Vian. Makasih ya sayangku," ucap Riana dengan senang.
"Iya sayangku."
Vian lalu berdiri dan keluar dari ruangan kamarnya. Vian masih berbicara lewat ponselnya. Vian menuju ke dapur untuk melihat isi kulkas.
Vian melihat botol jus mangga yang masih utuh. Vian lalu mengambil botol tersebut dan kembali menuju ke kamar tidurnya.
__ADS_1
Di dalam kamarnya. Vian lalu duduk sambil menelvon dan minum jus mangga tersebut. Mereka pun menghabiskan waktu berdua lewat televon. Vian dan Riana saling bercanda dan bermanja. Mereka terlarut dalam bercanda di televon sehingga mereka tidak sadar kalau waktu sudah tengah malam.