KENANGAN SEDIH

KENANGAN SEDIH
BAGIAN 64 BERTEMU


__ADS_3

Matahari yang baru muncul yang menyinari suasana rumah Vian. Vian yang lagi bersiap-siap untuk berangkat ke luar negeri. Vian lalu memegang koper dan membawak menuju ke mobil. Setelah di dekat mobil, Vian lalu membuka bagasi mobilnya dan memasukkan kopernya.


Vian lalu kembali masuk ke rumah dan menuju ke kamar Dila.


"Dila," ucap Vian sambil mengetuk pintuk kamar Dila.


Vian beberapa kali memangil Dila sambil terus mengetuk pintu. Tidak beberapa lama, pintu kamar Dila terbuka. Vian lalu melihat Dila yang masih dalam keadaan diri Dila yang masih acak-acak.


"Ada apa Kak Vian," ucap Dila sambil mengusap matanya.


Vian lalu tersenyum dan memeluk adik angkatnya itu.


"Lah. Kenapa Kakakku tersayang?" ucap Dila sambil tersenyum.


"Aku mau ke luar negeri. Mau jumpai Ayah dulu," ucap Vian sambil melepaskan pelukannya.


"Jadi Kak berangkat sekarang?" ucap Dila sambil melihat Vian yang sedang menganguk iya.


"Ya deh. Hati-hati ya Kak," ucap Dila sambil mencubit pipi Vian.


Vian hanya tertawa saat pipinya di cubit oleh Dila.


Sudah kebiasaan mereka berdua. Kalau Vian ke luar negeri. Vian selalu memeluk Dila sebelum berangkat karena sudah terbawak kebiasaan yang dulu saat Dila selalu menangis kalau Vian ke luar negeri, jadinya Vian selalu memeluk Dila sebelum berangkat ke luar negeri sampai sekarang.


"Ya sudah. Ku berangkat dulu. Dadah adikku tersayang," ucap Vian membelai rambut Dila.


"Ya Kak. Nantik kabarin kalau sudah sampai ya kak."


Vian menganguk iya setelah mendengar perkataan dari Dila. Vian pun keluar rumah yang di temanin oleh Dila.


Saat Vian di dekat mobil. Supir Vian telah siap-siap menunggu Vian di samping mobil.


Supir Vian pun membuka pintu untuk Vian. Vian pun segera masuk dan membuka jendela mobil. Vian lalu tersenyum dan melambaikan tangan ke Dila dari dalam mobil.


Saat supir Vian telah masuk ke dalam mobil. Mereka pun segera berangkat. Dila hanya tersenyum melihat ke pergian Vian.


Saat di perjalanan. Vian lalu menyuruh supirnya untuk menuju ke apartemen David. Supir Vian lalu mengarahkan mobil ke apartemen David.


Saat sampai di apartemen David. Vian lalu turun dari mobil dan menuju ke ruangan David. Setelah sampai di depan pintu ruangan apartemen David. Vian lalu menekan tombol di samping pintu.


***


Dari dalam ruangan David.


"Siapa itu pagi-pagi datang," ucap David sambil menunggu Riana siap-siap untuk lari pagi.


Riana tiba-tiba yang telah siap. Riana lalu mendengar bel yang berbunyi.

__ADS_1


Riana lalu mengarah ke pintu, namun David menyuruh Riana duduk. David lalu mengantikan Riana untuk membuka pintu.


Saat David membuka pintu. David terkejut kalau yang datang adalah Vian.


"Eh Vian. Tumben datang pagi-pagi. Ada keperluan apa?" tanya David yang heran melihat Vian datang ke apartemennya pagi-pagi sekali.


"Mau singah sambil melihat perkembangan Riana."


"Hmm tengok perkembangan Riana. Tumben kamu perhatian sama orang," ucap David yang makin merasa heran terhadap Vian.


"Ya sudah. Silahkan masuk," pintak David.


Vian pun masuk ke dalam ruangan David. Saat sampai di ruangan tengah. Vian melihat Riana sedang duduk sambil memakai sepatu olahraga.


"Eehmm," ucap Vian yang melihat ke arah Riana.


Vian kenapa ya. Apa mereka sudah saling kenal ke Riana?. Ucap David dari dalam hatinya.


Riana lalu menoleh mukanya ke samping. Riana terkejut melihat Vian dengan pakaian bebas yang bukannya baju kerja.


"Vian," Riana lalu terkejut melihat Vian.


"Hahaha. Apa kabarmu Riana?" tanya Vian sambil mendekati Riana.


"Baik kok Vian. Kok tiba-tiba ke sini Vian?" tanya Riana sambil heran melihat Vian.


"Serius Vian? emang kapan perginya?" tanya Riana yang langsung berdiri.


Vian lalu melihat ke arah David. Vian memintak waktu untuk bercerita sebentar di luar apartemen. Tentu saja David memberikan izin.


Riana melihat David yang tidak biasa. Baiasany David tidak memberikan izin atau menerima perintah orang lain, namun David tidak melarang perkataan Vian. Riana merasa heran kalau David bisa mengiyakan perkataan Vian.


Vian lalu mengajak Riana keluar apartemen David. Saat mereka sampai di luar. David lalu berjalan kaki sama Riana sambil menuju ke taman belakang apartemen.


Saat mereka sampai di taman. Vian lalu mengajak Riana untuk duduk di kursi taman. Saat mereka duduk, Vian lalu memegang tangan Riana dan melihat ke arah Riana.


"Mulai lagi itu manjanya," ucap Riana sambil tertawa kecil ke Vian.


"Biarkan saja. Kan kamu kekasihku," ucap Vian sambil membelai rambut Riana.


Riana saat di belai rambutnya oleh Vian. Riana tersenyum dan menutup matanya saat Vian mulai membelai pipinya. Riana lalu memegang tangan Vian yang berada di pipinya dan merasakan rasa manja.


Riana lalu membuka matanya dan teringat perkataan kalau Vian akan ke luar negeri.


"Kapan Vian berangkat?" tanya Riana dengan penasara.


"Hari ini."

__ADS_1


"Vian. Emangnya berapa hari di sana?" tanya Riana seakan merasakan kesepian.


"Belum tau. Kalau urusan sudah selesai. Aku akan pulang," ucap Vian yang tangannya masih berada di pipi Riana.


"Jangan lama-lama di sana ya sayang," ucap Riana merasa sedih.


"Iya sayang. Aku akan cepat pulang," ucap Vian dengan lembut.


"Gimana latihan selama ini Riana?" tanya Vian.


"Ya seperti biasa. Riana bisa mempelajarinya dengan cepat. Kak Siva juga mengajari Riana dengan bagus, sehinga Riana bisa cepat menangkap apa yang di ajarinya ke Riana.


"Benarkah. Berarti Aku tidak akan cemas kalau begitu. Vian pasti percaya kalau kekasihku ini pasti berhasil," Vian lalu tersenyum.


"Ya Riana tidak mau mengecewakan orang-orang yang telah mendukung Riana. Apa lagi untuk kekasih Riana. Riana paling tidak mau mengkecewakan dia."


"Hmm siapa ya kekasih Riana. Jadi penasaran," ucap Vian sambil tertawa.


"Siapa lagi kalau bukan di hadapanku ini," ucap Riana sambil tertawa.


"Riana betapa bahagianya aku bisa memilikimu Riana."


"Eleh. Dasar rayuan laki-laki," Riana makin tertawa mendengar perkataan Vian.


"Serius loh Riana. Selama ini aku tidak pernah suka ke wanita mana pun. Kamu adalah cinta pertamaku Riana."


Riana lalu terdiam dari tertawanya.


"Benarkah itu Vian?" tanya Riana yang melihat ekpresi serius melihat ke arah Vian.


"Benar sayangku," ucap Vian sambil senyum ke Riana.


"Sama Vian. Riana juga belum pernah pacaran. Vian juga cinta pertamaku," ucap Riana sambil tersipu malu.


Vian yang mendengar perkataan Riana. Vian menjadi sangat senang. Saat Vian melihat jam tangannya. Vian lalu berkata ke Riana untuk segera pergi. Riana lalu tersenyum dan menganguk iya.


Mereka berdua lalu berjalan beriringan menuju ke mobil Vian. Saat setelah sampai di samping mobil Vian. Supir Vian membuka pintu untuk Vian.


Vian lalu masuk dan memandang Riana dengan senyum


"Hati-hati Vian. Jangan sampai tidak kasih kabar. Awas kalau lupa," ucap Riana sambil senyum ke Vian.


"Tentu saja aku tidak akan lupa. Jaga dirimu baik-baik ya Riana."


"Ya Vian. Kamu juga ya."


Setelah mendengar perkataan Riana. Vian menganguk iya dan menutup jendela mobilnya. Mobil Vian lalu mulai bergerak dan meninggalkan Riana.

__ADS_1


__ADS_2