KENANGAN SEDIH

KENANGAN SEDIH
BAGIAN 77 MERASA VIAN ADALAH REY


__ADS_3

Setelah lama mengobrol mereka bertiga segera menuju ke kamar Dila. Vian yang sedang melihat Riana mengeluarkan barangnya. Dirinya melihat salah satu boneka bintang, lalu mengambil boneka tersebut.


Riana lalu melihat Vian memegang boneka di sampingnya. Riana terdiam dan hanya memandang Vian yang memegangi boneka bintang tersebut.


Biasanya yang melihat bonekanya dipegang sama orang lain, Riana langsung marah atau merebut boneka tersebut dari orang. Kata David dalam batinnya yang melihat Vian memegang boneka Riana.


Vian melihat boneka itu secara serius. Sedangkan Riana hanya melihat dan bonekanya yang dipegang.


Kenapa aku merasakan kalau Vian yang memegang boneka itu seakan Rey. Kenapa aku tidak merebut boneka itu dari Vian. Apakah karena Vian pacarku sehingga aku diam bonekaku di pegang. Tidak, bukan itu tetapi aku merasakan kalau boneka itu memang wajar juga di pegang sama Vian. Vian, apakah kamu Rey?. Ucap Riana dalam batinnya yang melihat Vian memegang bonekanya.


Vian lalu berdiri sambil memegang boneka Riana.


"Yok. Ikut aku," pinta Vian sambil mengulurkan tangan ke Riana.


Riana lalu memegang tangan Vian dan segera berdiri. Mereka berdua pun keluar dari kamar Dila yang dirawat.


David hanya melihat mereka keluar, namun terlihat ekspresi muka David yang sedikit sedih.


Riana hanya mengikuti langkah Vian dan juga melihat bonekanya masih di pegang sama Vian.


Saat mereka sampai di atas lantai rumah sakit. Vian dan Riana berdiri di tepi rumah sakit sambil memegang besi pembatas.


"Riana," ucap Vian sambil melihat pemandangan kota.


"Iya Vian," jawab Riana juga ikut memandang suasana kota.


"Aku sangat rindu samamu," ucap Vian sambil memegang tangan Riana.


"Iya aku juga rindu," jawab Riana sambil senyum.


"Vian. Aku melihatmu memegang boneka itu. Biasanya aku marah siapa pun yang memegang boneka Riana," ucap Riana lalu memegang boneka yang masih ada di tangan Vian.


"Tapi kenapa di saat Vian memegang boneka ini. Aku merasa boneka ini seakan di pegang sama orang yang memberikan ke padaku," ucap Riana sambil melihat boneka tersebut.


"Aku juga merasa seperti mengenal boneka ini. Tapi aku tidak bisa mengigat. Apa ini karena ingatanku yang hilang," jawab Vian sambil melihat ke arah boneka.


Mendengar perkataan Vian. Riana menjadi terkejut karena perkataan Vian yang seakan mengigat boneka yang di pegangang oleh Vian yang merupakan pemberian Rey dan Riana berangapan kalau Vian adalah Rey.


"Rey," ucap Riana ke Vian dengan suara kecil.


"Apa Riana?" tanya Vian yang tidak mendengar suara Riana karena suara Riana terlalu kecil.


"Ah tidak Vian. Tidak kenapa-napa," Riana lalu mendekatkan kepalanya ke bahu Vian.

__ADS_1


Aku tidak bisa bilang kalau Vian adalah Rey. Tapi mereka sangat mirip. Sangat mirip sekali. Jika dia benar Rey aku tidak akan melepaskan Rey sekali lagi. ucap Riana dalam hatinya.


"Vian. Boleh aku bertanya?" tanya Riana sambil memandang muka Vian.


"Boleh Riana."


"Saat kamu kehilangan ingatan. Apakah kamu tidak mencari siapa dirimu sebelum kehilangan ingatan?" tanya Riana yang ingin mengetahui siapa dirinya Vian dulu.


"Aku dulu ingin mencari. Tapi kata Ayahku, tidak usah mencari tau. Itu bisa menambah lukanya."


"Luka?" Riana makin bingung.


"Dulu kata ayahku. Ibuku meninggal saat aku masih kecil. Makanya aku tidak tau siapa ibuku dan rupanya. Ayah juga tidak pernah kasih lihat foto ibuku. Terkadang aku ingin tau rupa ibuku seperti apa," jawab Vian sambil mengengam erat besi yang dia pegang.


Riana ingin tau sekali kisah Vian sebelum dia hilang ingatan. Dirinya ingin memastikan apakah Vian adalah Rey atau bukan.


Terlalu banyak kesamaan diantara mereka. Ditambah kali ini soal boneka. Apa aku yakin Vian adalah Rey?. Tanya Riana dalam hati.


Riana lalu melihat Vian dengan tajam. Sehingga Vian heran melihat kekasihnya itu. Vian lalu memeluk Riana. Dirinya pun mencium kening Riana.


"Apa yang kamu pikirkan sayangku?" tanya Vian sambil melepaskan pelukan.


"Aku berangap Vian adalah Rey," ucap Riana yang menundukkan kepala.


"Entahlah. Cuma berangapan saja."


Vian tidak tau mau menjawab apa. Dalam pikirinnya mencoba menenangkan Riana. Mereka pun kembali ke ruangan Dila.


David melihat Riana dan Vian baru masuk. David masih terlihat murung karena dirinya merasa sedikit cemburu.


"Dari mana kalian?" tanya Fano sambil duduk di tepi dinding.


"Mencari angin sejuk saja," jawab Vian sambil tertawa.


"Oh iya. Ini ada makanan ringan. Apa kamu sudah makan Vian?" tanya Fano sambil meletakkan makanan snack di hadapannya.


"Wah. Boleh juga. Aku juga pingin makan sesuatu. Kamu tau aja makanan snack yang aku suka Fano," Vian mengambil makanan snack rasa keju.


Riana yang melihat makanan snack. Riana juga duduk diantara Fano dan Vian. David yang melihat mereka, dirinya juga ikutan.


"Jadi waktu kita tinggal 20 hari lagi. Gimana perkembangan Riana?" tanya Vian ke David.


"Lancar. Tidak ada kendala."

__ADS_1


"Riana. Gimana rasanya bersama pria coverboy?" tanya Fano sambil tertawa.


"Tidak buruk juga Kak," jawab Riana sambil membuka makanan.


"Oh iya David. Aku mau menyewakan apartemen untuk Riana. Masih satu gedung apartemen sih sama kamu. Ya aku tidak tega melihat Riana tidur sofa," pinta Vian ke David.


"Terserah Vian saja," David tidak terlalu ambil pusing dari perkataan Vian.


"Gimana Riana. Maukan aku sewa apartemen untukmu?" tanya David sambil melihat ke arah Riana.


"Ya Riana tidak tau Vian. Kalau menurut Vian bagus. Ya Riana ikut saja."


"Saat aku pulang. Aku akan menyewakan apartemen untukmu."


David sebenarnya tidak ingin Riana pindah dari apartemennya tapi jika dia melarang. Vian dan yang lain pasti mikir yang tidak-tidak ke dirinya.


"Kalian ada hubungan apa?" tanya David ke Vian.


Riana dan Vian mengarahkan pandangan ke David. Mereka berdua pun tertawa.


"Apa-apa pertanyaanmu itu David?" tanya Vian sambil tertawa.


"Iya ini Kak David. Ada-ada saja pertanyaannya," Riana pun ikut tertawa.


David yang melihat Riana dan Vian tertawa. Dirinya tidak merespon.


"David. Vian. Sudah lama kita tidak main game. Selagi masih santai yok kita main game. Kita main game di ponsel saja," pinta Fano sambil mengeluarkan ponselnya.


"Ayok. Gimana dirimu Vid?" tanya Vian ke David.


David lalu mengeluarkan ponselnya dan ikut bergabung. Riana hanya mengelengkan kepalanya melihat Vian, David dan Fano. Dirinya lalu berdiri dan mengarah ke Dila.


"Kak Dila ada butuh sesuatu?" tanya Riana sambil duduk di samping tempat tidur Dila.


"Tidak Riana. Cuma sudah lama sekali tidak melihat Vian, David dan Fano bermain game bersama," ucap Dila melihat mereka bermain.


Para kru Dila pun pamit ke Dila dan ke mereka bertiga yang sedang bermain game.


Saat para kru telah pergi dari ruangan. Riana lalu ingin menanyakan sesuatu ke Dila yang yang membuat Dila terkejut.


****Ingin tau apa yang di bilang Riana ke Dila? nantikan kisah selanjutnya.


Bersambung**.

__ADS_1


__ADS_2