
Saat malam hari tiba. Riana dan Vian sampai di rumah Vian. Setelah Vian memakirkan mobil di perkarangan rumahnya. Riana dan Vian keluar dari mobil dan mereka masuk ke rumah. Dila pun menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang Vian dan Riana. Kalian udah makan?" tanya Dila ke Riana dan Vian.
"Kami sudah makan di luar. Gimana keadaan perusahaan?" tanya Vian balik ke Dila.
"Tidak ada masalah apa-apa. Cuman tadi Lisa datang mencarimu Vian. Sepertinya ada keperluan penting."
"Keperluan. Mau buat apa lagi itu Lisa," ucap Vian sambil duduk di kursi ruang tamu.
"Tidak tau. Tanya sendiri saja ke dia."
"Malas lah. Aku capek berurusan dengan dia."
"Tapi sepertinya dia menghubungi Ayah," ucap Dila yang duduk di samping Vian.
"Menghubungi Ayah. Untuk apa?" tanya Vian yang langsung terkejut dengan perkataan Dila.
"Tidak tau. Coba tanya saja sama Lisa."
"Dari mana Dila tau, kalau dia menghubungi Ayah?" tanya Vian seakan tidak senang.
"Dia sendiri bilang ke Dila. Cuman Dila tanya kenapa dia menghubungi Ayah tapi dia tidak menjawab."
"Mau dia apa sih. Ya sudah aku mau istirahat dulu di kamar. Dila lanjut sama Riana ya. Aku pergi istirahat dulu Riana," Vian lalu berdiri dan menuju ke kamarnya.
"Ya vian," ucap Riana yang dari tadi memperhatikan Vian dan Dila bercerita.
"Riana yok ke kamar Kakak. Mandi dan ganti pakaianmu," ucap Dila sambil memegang tangan Riana menuju ke kamarnya.
***
Di dalam kamar Vian.
"Mau Lisa itu apa. Kenapa dia menelvon Ayah," ucap Vian berbicara sendiri yang kesal ke Lisa.
Vian lalu mengambil televon kabel yang ada di kamarnya. Vian mengambil buku nomor clientnya di bawah televon tersebut. Vian tidak mau mengasih nomor pribadinya ke orang yang tidak terlalu penting baginya.
Vian mencari nomor ponsel Lisa. Setelah menemukan nomor Lisa, Vian pun menelvon Lisa.
Tidak terlalu lama menunggu. Televon Vian tersambung Lisa.
"Halo," ucap Lisa dari ponselnya.
"Halo. Ini Lisakan. Ini Vian."
"Vian. Kenapa menelvon lewat televon kabel?" tanya Lisa.
"Tidak usah tanya begituan. Besok pagi temui aku di ruangan kerjaku."
"Ok Vian. Besok pagi aku akan menemuimu."
Setelah Lisa selesai berbicara. Vian lalu tiba-tiba menutup televonnya. Vian lalu bergegas mandi dan langsung tidur.
Pagi pun tiba. Vian yang telah berpakaian menggunakan jas hitam. Vian seperti biasa sedang menikmati minuman susu di teras depan rumahnya. Vian menunggu supirnya untuk memanaskan mesin mobil.
__ADS_1
Riana tiba-tiba menghampiri Vian dan duduk di kursi satu lagi. Riana melihat Vian sedang menggunakan ponselnya.
"Vian mau pergi sekarang?" tanya Riana sambil melihat muka Vian.
"Iya. Ku ada janjian sama Lisa di kantor."
"Janjian. Janjian apa. Pasti mau makan pagi bersama-sama," ucap Riana memalingkan mukanya.
Vian yang mendengar perkataan Riana, langsung tertawa kecil.
"Tidak Riana. Kamu cemburu ya?" tanya Vian yang mengoda Riana.
"Siapa yang cemburu. Tidak tuh."
"Jadi tidak cemburu, kalau Vian pergi sama Lisa?" Vian pun tersenyum ke Riana.
"Ntah. Coba aja kalau pergi."
"Haha. Tidak Riana. Kekasihku kan cuma kamu seorang. Aku sama dia mau membahas soal dia menelvon Ayah."
"Hmm karena itu. Sangka apa pula. Oh iya. Ayah Vian kayak apa sih. Riana jadi penasaran. Lagi pula tidak ada foto dinding," ucap Riana dengan penasaran.
"Ayah memang melarang memasang foto di dinding. Ayah sekarang di luar negeri. Dia sedang di kantor induk perusahaan RMD."
"Jadi perusahaam RMD ini bukan pusatnya ya Vian?" tanya Riana dengan serius ke Vian.
"Tidak. Ini hanya anak perusahaan."
"Gitu. Kapan Ayah Vian pulang?" tanya Riana dengan penasaran dengan ayah Vian.
"Jadi ibu Vian telah meninggal. Maafkan Riana menanyakan hal begitu," ucap Riana dengan perasaan bersalah.
"Tidak apa-apa Riana," ucap Vian sambil senyum.
"Ya udah. Ku berangkat dulu ya Riana. Kalau ada perlu. Hubungi saja," Vian lalu mengusap kepala Riana.
Vian lalu memanggil supirnya. Supir Vian mendengar kalau dia dipanggil sama Vian langsung memakirkan mobil Vian di depan teras rumahnya dan Vian lalu masuk ke dalam mobil dan memandangi Riana dengan senyum. Setelah itu Vian pun berangkat menuju kekantor.
Setelah beberapa lama. Vian pun tiba di kantor. Vian langsung menuju ke ruangannya. Saat Vian masuk keruangannya. Vian melihat ajudannya sedang merapikan dokumen diatas meja.
"Pagi Pak Vian," ucap Fano ajudannya Vian.
"Pagi Fano. Oh iya kalau Lisa datang mencari, langsung saja suruh masuk," ucap Vian dan langsung duduk di kursi kerjanya.
"Siap Pak. Oh iya Pak Vian. Ini ada beberapa dokumen penting yang mungkin Pak Vian mesti baca," ucap Fano sambil menyerahkan dokumen ke Vian.
Vian lalu membaca dokumen yang di bilang sama Fano. Saat Vian membaca, Fano berdiri di samping Vian.
"Fano. Jadi kekurangan dana kita sebesar 6 miliyar lagi yah untuk album seberkas cahaya?" tanya Vian sambil melanjutkan membaca dokumen.
"Iya Pak Vian. Kemarin kita mengalami pendapat hasil dari menanam saham. Buk Dila yang kemarin yang mengurusnya."
"Jadi begitu. Ya sudah kalau begitu. Masih ada yang penting lagi Fano. Mungkin kamu perlu menyampaikan ke saya."
"Ada client yang ingin bertemu sama Pak Vian. Katanya, mungkin sore dia akan menemui bapak di kantor."
__ADS_1
"Siapa Fano? client yang mau menemui saya?" tanya Vian sambil meletakkan dokumen diatas meja.
"Dari perusahaan Gemilang Pak," jawab Fano yang masih berdiri di samping Vian.
"Ya sudah. Ingatkan saja saya nantik."
Tiba-tiba seseorang membuka pintu. Vian dan Fano memandang seseorang yang membuka pintu ruangan Vian. Ternyata yang masuk ke ruangan Vian adalah Lisa.
"Lisa. Bisa tidak, kalau kamu masuk, mengetuk pintu dulu?" tanya Vian dengan nada tegas.
"Buat apa. Kamukan kekasihku," Lisa lalu menutup pintu dan duduk di depan meja kerja Vian.
"Lisa apa-apan perkataan kamu itu. Jangan membuat cerita yang tidak benar. Kalau wartawan dengar. Mereka akan membahas sesuatu yang tidak benar ini ke media."
"Bagus dong Vian. Kalau perlu tentang pernikahan kita di masa depan," ucap Lisa sambil tersenyum ke Vian.
"Jangan berharaplah Lisa."
Fano yang hanya mendengar, lalu mintak izin ke Vian untuk keluar dari ruangan Vian. Vian hanya mengangukkan iya ke Fano.
"Jadi Lisa. Apa maksudmu menelvon Ayahku. Dila mengasih tau."
"Aku hanya mintak izin untuk mengisi suara album baru perusahaan RMD dan Ayahmu tidak mempermasalahkan. Itu tandanya Ayahmu setuju."
"Kamu gila ya Lisa. Pengisi albumkan sudah ada orangnya dan kamu juga sudah tau siapa orang yang akan mengisi suara album baru."
"Riana maksudmu. Dia masih pemula Vian. Nantik pasti gagal. Mending aku saja yang jadi pengisi suara," ucap Lisa dengan sedikit kesal mendengar nama Riana.
"Lisa, tolong jangan mengacaukan rencanaku. Jangan berbuat masalah."
"Buat masalah. Kamu lucu Vian. Justru aku mau menyelamatkan perusahaan. Suaraku kan sudah terkenal. Kenapa bukan aku saja?" tanya Lisa dengan ekpresi muka sombongnya.
"Lisa. Jangan membuat aku marah," ucap Vian dengan nada tinggi.
"Kamu tidak mau dengan foto itu tersebar bukan?" tanya Lisa dengan mengancam.
"Kerjamu hanya mengancam dan mengancam. Jujur saja, aku sudah lelah Lisa dengan ancaman kamu itu."
"Kalau begitu mundurkan Riana. Biar aku saja yang menjadi pengisi suara album itu," ucap Lisa kesal.
"Soal ini aku tidak mau diancam. Ini menyangkut perusahaan. Lebih baik kamu keluar. Aku hanya membahas soal kamu menghubungi Ayahku saja. Tidak ada yang lain."
"Aku belum puas untuk mengobrol denganmu Vian."
"Aku masih ada keperluan lain," Vian lalu menekan tombol di meja kerjanya.
Tidak beberapa lama. Fano pun masuk keruangan Vian dan langsung menuju ke Vian.
"Ada apa Pak Vian?" tanya Fano ke Vian.
"Tolong tunjukkan pintu keluar ke Lisa," ucap Vian memandang Fano.
"Aku bisa keluar sendiri kok Vian," Lisa lalu berdiri dan keluar dari ruangan Vian.
Vian yang melihat Lisa sudah pergi. Vian lalu menyuruh Fano duduk dan mengajak Fano untuk mengobrol dengannya.
__ADS_1