KENANGAN SEDIH

KENANGAN SEDIH
BAGIAN 71 KEMARAHAN DAVID


__ADS_3

Pagi pun tiba. Seperti biasa, David menggunakan jas kerjanya. David duduk di depan teras rumahnya sambil meminum segelas susu dan roti.


David yang melihat ponselnya untuk mencek beberapa email masuk. Tiba-tiba Dila datang dari dalam rumah yang telah berada di samping Vian.


"Pagi Kak," sapa Dila.


"Pagi juga Dil."


"Jadi apa kegiatan sekarang Kak Vian?" tanya Dila untuk memastikan kalau Vian baik-baik saja.


"Hmm. Mungkin seperti biasa. Bertemu client. Ada pesan dari Fano kalau hari ini ada client mau bertemu denganku," ucap Vian sambil meletakkan ponselnya di atas meja.


"Ya sudah. Kalau begitu. Oh iya Vian. Ada beberapa berita yang sangat heboh di luar negeri. Rencananya aku mau pergi untuk memastikan langsung bersama beberapa orang di kantor. Aku izin mau pakai pesawat pribadi perusahaan."


"Ya pakai saja. Bilang kalau aku sudah mengizinkannya. Tapi berita apa sampai Dila langsung turun tangan?" tanya Vian sambil minum.


"Ya Dila belum tau pasti. Namun aku dapat info dari staff kantor. Makanya nantik aku tanya di ruang kerjaku."


"Ya sudah. Tapi untuk berjaga-jaga. Bawak beberapa security untuk menjaga kalian. Aku tidak mau kamu kenapa-napa Dila," ucap Vian sedikit cemas.


"Ya Kakakku. Terima kasih ya Kak," Dila lalu tersenyum.


Vian lalu menganguk dan melihat Dila masuk ke dalam rumah.


Vian segera menghabiskan makanannya dan segera berdiri untuk menuju ke mobil.


Vian pun berangkat menuju ke perusahaan dengan supirnya. Saat mereka sampai di perusahaan. Vian langsung ke tempat Fano.


Vian yang melihat Fano belum datang. Dirinya pun langsung masuk ke ruangan sambil melihat jam tangan yang menunjukkan jam 8 pagi.

__ADS_1


Vian tiba-tiba baru 5 menit duduk. Seseorang masuk sehingga membuat Vian terkejut.


"Ada apa pagi-pagi datang ke kantor dan menemuiku?" ucap Vian dengan kesal ke Lisa.


"Kamu pasti sudah tau kan Vian. Ayahku sudah memberi tau ke padaku. Kalau kita akan bertunangan. Aku sangat senang mendengarnya. Aku rasa kamu pasti senang mendengarnya bukan?" ucap Lisa dengan rasa percaya dirinya.


"Kamu salah. Aku tidak begitu bahagia dan aku tidak akan mau di jodohkan. Apa lagi bersamamu. Aku tidak akan menerima..!!" ucap Dian dengan memandang sinis ke Lisa.


"Meskipun kamu berkata demikian. Kita akan tetap di jodohkan. Aku tidak sabar menantikan hari itu."


"Lisa, bilang ke Ayahmu. Berhentilah untuk menganggu kehidupanku dan terutama kamu. Tolong menjauh dariku," pintak Vian dengan marah.


"Vian. Jika kamu seperti itu. Aku akan mintak ke Ayahku untuk menyampaikan ke Ayahmu agar memberhentikan Riana sebagai vocalis," Lisa mengucapkan sambil tersenyum sinis.


"Lisa..Kamu.!!" Vian membentak Lisa.


"Aku tidak mau bersamamu. Apa susahnya bilang ke kamu ini. Aku tidak mau. Kamu bisa cari pria yang lain," ucap Vian dengan sangat marah.


"Jika kamu kamu melakukan itu Lisa. Aku akan ikut turun tangan. Jangan sangkut pautkan Riana dengan ancaman busukmu itu," ucap David yang baru masuk ke ruangan Vian.


"David," ucap Vian dengan terkejut yang melihat David yang tiba-tiba masuk ke ruangan Vian.


"Ini bukan urusanmu David. Jangan ikut campur," ucap Lisa dengan marah ke David.


"Jika ini bukan urusanku, maka Riana juga bukan urusanmu. Namun kenapa dia selalu kamu sangkut pautkan. Dia tidak pernah sekalipun menggangu kehidupanmu. Sejak dari awal asal kamu tau, aku tidak mau melatih kamu bernyanyi karena kamu itu tidak aku sukai. Baik dari segi sifat maupun komitmen dalam hidupmu aku tidak suka," ucap David dengan marah.


"Tengok saja. Kamu akan menyesal," ucap Lisa yang seakan mengancam David.


"Silahkan kamu lakukan apa yang kamu senang dengan permainanmu untuk mengancamku," David lalu mendekati Lisa.

__ADS_1


"Ingat satu hal. Jika kamu berani mengusik Riana meski sehelai rambut pun. Kau akan berhadapan denganku," David mengucap dengan pelan ke arah telinga Lisa.


Lisa yang tidak bisa berkata apa-apa. Lisa pun keluar dari ruangan Vian dengan perasaan malu. David dan Vian setelah melihat Lisa keluar dari ruangan. Mereka pun duduk di kursi saling berhadapan di meja kerja Vian.


"Maaf David. Kalau terjadi seperti ini. Namun kenapa kamu tiba-tiba masuk dan marah," ucap Vian dengan heran ke David.


"Maaf. Aku tadi mau menemuimu Vian. Saatku di depan pintu ruanganmu. Suara Lisa sampai kedengaran di ruangamu, Aku mendengar soal dia mengancam Riana. Aku tidak mau orang yang aku latih, di ancam seperti itu," jawab David menjelaskan.


"Ya sebenarnya bukan salahmu David. Aku juga sebenarnya mau keluarkan kata marah soal Riana ke Lisa. Tapi karena kamu yang duluan bilang. Makanya aku diam."


"Maaf Vian. Apakah benar kamu akan dijodohkan sama Lisa?" tanya David yang memandang Riana dengan serius.


"Jadi kamu mendengar soal itu juga Vid," ucap Vian yang menjadi lesu.


"Iya. Aku mendengar semuanya. Maaf Vian, bukannya aku menguping, tapi suara Lisa yang terdengar agak keras di luar runganmu."


"Soal dijodohkan. Itu benar Vid, namun jangan sampai tau yang lain soal ini. Aku secara pribadi tidak menerima soal perjodohan ini," ucap Vian seakan kesal.


"Vian. Kamu harus berhati-hati dengan Lisa. Lagi pula aku tidak bisa membantu soal yang menyangkut perjodohanmu, itu urusan keluargamu Vian. Aku hanya bertindak jika mereka mengusik pekerjaanku. Ya kayak Lisa menyebutkan soal Riana."


"Ya sudah Vid, kita bahas yang lain saja. Jadi maksud kedatanganmu apa Vid?"


"Begini. Aku tadi datang mau menanyakan soal yang kemarin. Soal Lisa yang kasih tau ke Presiden RMD kalau dia mau jadi vocali album baru. Jadi saat Vian menemui Presiden RMD, apa katanya soal Lisa?"


"Ya katanya, dia ingin menilai suara antara Riana dan Lisa. Dia akan datang ke Indonesia. Saat itulah dia akan menilai ke duanya. Jadi David, buatlah Riana sebaik mungkin. Jangan sampai Lisa menjadi vocalis album baru perusahaan," ucap Vian sambil melipatkan lengan tangan ke meja kerjanya.


"Jadi seperti itu. Baiklah aku akan buat Riana sebaik mungkin. Akhir-akhir ini, dia sudah berkembang. Banyak pesan positif soal Riana yang disampaikan orang ke aku."


"Bagus lah Vid. Kita jangan sampai terulang lagi kisah seperti tahun yang lalu yang membuat rugi besar pada perusahaan."

__ADS_1


"Serahkan padaku. Vian, Aku mau melatih Riana dulu. Masih banyak yang mestiku lakukan. Aku duluan Vian," David pun berdiri dan langsung keluar dari ruangan Vian.


Setelah David keluar. Vian lalu mengambil ponselnya di atas meja kerja dan menelvon client yang akan mau bertemu denganya. Setelah selesai menelvon, Vian menghidupkan komputernya sambil menunggu Fano.


__ADS_2