KENANGAN SEDIH

KENANGAN SEDIH
BAGIAN 48 SOAL LISA


__ADS_3

Saat di dalam mobil Dila. Riana masih memikirkan perkataan Lisa.


Kenapa sih Lisa seperti itu. Kalau mau sama Vian, ya udah ungkapkan saja. Tidak usah mengaku-mengaku pacar segala dan melibatkan soal audisi. Ucap Riana dalam batin yang seakan kesal.


"Kak Dila?" tanya Riana yang bernada seakan kesal.


"Ya Riana. Kenapa? sepertinya sedang kesal," jawab Dila yang sambil mengemudi.


"Lisa itu siapa sih Kak?" tanya Riana sambil melihat ke arah Dila.


"Hmm Lisa itu. Dia itu vocalis juga. Dia mau mengisi suara album seberkas cahaya. Tapi Vian tidak menyetujuinya. Vian bilang ke semua perusahaan RMD untuk mencari vocalis baru agar penonton dapat sesuatu yang baru. Namun rasa kak sih, bukan karena alasan itu. Tapi pasti ada sesuatu yang lain yang tidak Vian sukai. Vian kalau tidak menyukai seseorang. Vian tidak pernah menegur atau bilang langsung. Tapi Vian melakukan sesuatu dengan caranya agar orang itu sadar. Tapi Kak tidak tau kali lah Riana. Intinya seperti itu. Lisa vocalis yang dilarang sama Vian untuk mengisi album tersebut."


"Seperti itu ya Kak. Riana sudah mengerti Kak."


Lisa dilarang sama Vian. Apa karena sering diancam. Tapi jika karena foto. Kenapa Lisa tidak mengancam foto ke Vian agar bisa menjadi vocalis. Ucap Riana yang bertanya-tanya dalam hatinya.


Setelah beberapa lama, saat itu hari masih siang. Dila dan Riana sampai di perusahaan RMD. Riana yang merasa lapar ingin mengajak Dila makan siang, namun Dila menyuruh Riana makan duluan karena Dila ada beberapa yang harus dilakukan. Riana pun mengerti dan Riana menuju ke tempat makan di seberang perusahaan RMD.


Dila lalu masuk ke perusahaan dan langsung menuju ke ruang Vian. Saat Dila melihat ajudan Vian di depan ruang Vian.


"Viannya ada?" tanya Dila ke ajudan Vian yang sedang duduk di mejanya.


"Ada Buk. Silahkan masuk," ucap ajudan Vian sambil membukakan pintu ruangan Vian untuk Dila.


Saat Dila masuk ke ruangan Vian. Dila melihat Vian sedang menelvon. Dila lalu duduk dan menunggu Vian selesai menelvon.


"Ada apa Dila?" tanya Vian yang selesai dari menelvon orang.


"Begini. Saat audisi Riana tadi. Juri yang di tempat Riana adalah David. Kenapa David tidak mengasih tau ke Dila dan tempat audisi kedua diselengarakan di sana," ucap Dila seakan heran dengan David.


"Soal itu. Aku sudah tau kalau juri itu David. Karena saat Riana sedang bernyanyi di ruang rekaman dulu. Yang mendatangi Riana dan memberi kelulusan itu David. Soal tempat audisi yang kedua yang diadakan di tempat lain itu, David sudah memberi tau lewat telvon. Alasannya, agar tidak menganggu proses audisi jika di selengarakan di sini. Makanya aku setuju. Dia mau mengasih tau ke Dila. Namunku bilang tidak usah, kalau saya setuju pasti Dila setuju," jawab Vian sambil melipatkan tangannya di atas meja.


"Hmm jadi Vian sudah tau. Ya sudah kalau begitu. Gimana dengan Lisa. Sepertinya Lisa ingin menjadi vocal untuk album baru," ucap Dila mengarahkan pembicaraan ke Lisa.


"Kalau soal dia. Tidak usah dipikirkan. Lisa orangnya egois. Tidak mau mendengarkan perkataan orang. Aku cemas kalau dia jadi vocalis, nantik dia tidak mau mengikuti prosedur kita. Cukuplah sekali, waktu dulu dia membuat kekacauan sehingga merugikan perusahaan RMD. Jangan sampai terulang lagi."

__ADS_1


"Oh iya. Vian tidak kasih tau ke Riana kalau direktur perusahaan RMD itu kamu Vian?" tanya Dila sedikit heran.


"Tidak usah, biarkan aja dia tau sendiri. Aku tidak mau dia jadi canggung nantiknya, saat ngomong sama aku."


"Baiklah Vian. Apa keputusan Kakakku yang sok keren ini. Dila pasti ikutin," ucap Dila sambil tertawa.


Vian yang mendengarkan perkataan Dila, juga ikut tertawa.


"Vian yang pendingin yang Dila ingat waktu kecil dulu. Sekarang udah jadi laki-laki sok keren," ejek Dila ke Vian.


"Haha. Kamu masih ingat ya Dila. Dulukan belum kenal," jawab Vian yang tersenyum kecil.


"Oh iya. Riana kemana? bukankah samamu Dil?" tanya Vian.


"Dia lagi makan, di seberang perusahaan."


"Sedang makan ya, ya sudah kalau begitu, Dila udah makan?" tanya Vian mengeluarkan hpnya, lalu membuka aplikasi order makan online.


"Tidak. Dila masih kenyang. Duluan aja Vian kalau mau makan," ucap Dila yang menolak.


Setelah beberapa lama mengobrol. Ajudan Vian masuk keruangan untuk membagi tau kalau pesanan Vian sudah datang. Dila dan Vian yang mendengar perkataan ajudan Vian. Vian lalu keluar ruangan untuk menemui orang yang mengantarkan pesanannya.


Setelah membayar. Vian membuka pintu ruangannya dan mengasih tau ke Dila dan ajudannya, kalau Vian mau makan siang dulu di atas gedung perusahaan.


Dila yang mendengarkan perkataan Vian, lalu menuju keruangannya sendiri, sedangkan ajudannya Vian pergi keluar perusahaan untuk makan siang.


Vian yang yang telah sampai di atas gedung perusahaan, lalu membuka bungkusan makan siangnya. Vian lalu menikmati makan siangnya sambil menikmati angin yang berhembus ke badannya.


Lalu saat menikmati gigitan pertama makanannya. Ponsel Vian berbunyi. Vian lalu meletakkan makannya dan melihat ponselnya, ternyata yang menelvonnya adalah Riana.


"Halo Riana," ucap Vian melalui ponselnya.


"Halo Vian. Di manamu Vian?" tanya Riana.


"Di atas gedung perusahaan."

__ADS_1


"Kalau begitu aku kesana ya?"


"Ok Riana. Aku tunggu," jawab Vian sambil menutup ponselnya dan lanjut menikmati makanannya.


Setelah beberapa lama. Vian dikejutkan oleh tangan yang memegang bahunya. Sontak saja Vian memalingkan mukanya ke arah belakang.


"Riana. Sudah sampai rupanya. Mau nyoba?" ucap Vian sambil mengarahkan makanan yang masih ada terbungkus ke Riana.


"Tidak Vian. Riana udah kenyang," jawab Riana sambil duduk di samping Vian.


"Vian selalu ke sini ya?" tanya Riana.


"Iya. Sering ke sini. Anginnya yang berhembus terasa nyaman. Oh iya gimana hasil audisi tadi?" Vian yang bertanya sambil mengarahkan makanan yang ada ditangannya ke mulut Riana.


"Hasilnya. Hmmm," Ucap Riana sambil memakan makanan yang disupain oleh Vian.


"Hmm gimana Riana. Jangan buat penasaran."


"Riana terpilih Vian," ucap Riana yang kegirangan.


"Benarkah itu. Bagus itu Riana," Vian juga ikut girang mendengarnya.


"Tapi Vian. Kata jurinya itu namanya David, kalau dia mesti dalam pengawasan dia, termasuk soal makan Riana. Dia yang mengaturnya."


"Begitu. Ya tidak masalah. selama Riana msnuju ke suksesan. Aku akan kasih semangat dan selalu ada di saatmu butuh bantuan," ucap Vian dengan tersenyum ke arah Riana.


"Tapi kita bakal jarang ketemu." kata Riana yang sedikit kurang semangat mengkasih tau ke Vian.


"Tidak apa-apa. Jurinya itu kerja di perusahaan ini kok Riana. Jadi kita masih tetap jumpa."


"Kerja di sini juga. Jadi kita bisa jumpa donk Vian?" tanya Riana yang merasa senang mendengarkan perkataan Vian.


"Benar. Kalau aku rindu. Aku akan mintak izin ke David untuk menemuimu."


Riana lalu tersenyum ke Vian dan merasa sangat senang. Dia merasa sangat bahagia jika di samping Vian. Mereka pun melanjutkan mengobrol sambil menikmati suasana angin yang berhembus.

__ADS_1


__ADS_2