
Pagi hari yang masih di selimuti oleh embun pagi, Vian yang telah berdiri di depan mobilnya dengan pakaian jas hitam. Vian masuk ke mobil tampa ditemani oleh supirnya. Vian lalu pergi tampa ada yang tau kepergiannya.
Di dalam perjalanan. Vian lalu melihat hpnya dan menekan nomor yang ada di kontak ponselnya, lalu Vian mendekatkan ponselnya di telinga.
"Selamat pagi Pak Zur. Maaf saya menelvon pagi-pagi. Pak Zur, begini saya ada perlu dengan Bapak. Bisakah saya ke rumah Bapak sekarang?" tanya Vian sambil mengemudikan mobilnya.
"Iya boleh, silahkan."
"Terima kasih Pak," ucap Vian lewat hp.
Vian lalu menutup hpnya dan menuju kerumah pak Zur. Setelah beberapa lama, Vian telah sampai ke rumah pak Zur. Lalu Vian masuk dengan disambut oleh Pak Zur.
"Ada apa keperluan apa Vian. Sepertinya penting sekali?" tanya Pak Zur yang sambil mempersilahkan Vian duduk.
"Maaf Pak. begini Pak, perusahaan kami kekurangan dana untuk pembiayaan perilisan album seberkas cahaya. Jadi saya bermaksud menemui Bapak, untuk minta bantuan agar Bapak meminjamkan dana untuk perusahaan RMD."
"Memangnya butuh berapa banyak?" tanya Pak Zur sambil melipatkan tangannya di bawah dada.
"Kira-kira 7 Miliar Pak."
"Waduh Vian. Perusahaan saya tidak mempunyai dana sebesar itu, untuk memberi pinjaman. Saya mintak maaf," ucap Pak Zur sambil tertawa kecil.
"Begitu ya Pak. Ya tidak apa-apa kok Pak Zur," jawab Vian sambil senyum.
"Kalau begitu saya pamit dulu Pak," ucap Vian sambil berdiri dan menyalami Pak Zur.
"Ya Nak Vian. Hati-hati di jalan."
Vian menganguk iya dan segera menuju ke mobilnya dan meninggalkan rumah pak Zur. Vian merasa cemas karena waktu untuk perilisan hanya tinggal 27 hari lagi. Sedangkan dana yang ada di perusahaan hanya 3 miliar karena kerugian besar yang disebabkan oleh Dio yang dulu mengantikan posisi Vian saat Vian menyelesaikan pendidikannya di luar negeri.
Vian yang mengemudi mobilnya. Menelvon salah satu kenalannya untuk maksud meminjam dana. Setiap Vian menelvon dan menemui orang yang di telvonnya. Jawaban mereka masih sama, mereka tidak punya dana untuk meminjamkan dana ke perusahaan RMD.
Vian dari rumah terakhir untuk meminjam dana. Namun hasilnya pun nihil. Vian lalu melihat jam tangan. Vian lalu mengarahkan mobilnya ke kantor karena sudah menunjukkan jam 11.00 siang.
__ADS_1
Saat sampai di kantor. Vian turun dari mobil di depan teras perusahaan. Saat turun, seseorang berlari ke arah mobil Vian. Lalu orang tersebut memakirkan mobilnya Vian sedangkan Vian masuk ke dalam perusahaan.
Vian yang menuju ke ruangannya. Vian lalu di sambut oleh ajudannya. Vian lalu masuk dan duduk di kursi kerjanya. Vian melihat beberapa berkas dokumen di atas meja kerjanya. Vian lalu membaca dokumen tersebut.
Setelah membaca dokumen. Vian lalu menanda tangani dokumen, lalu Vian menyandarkan kepalanya ke kursi. Vian lalu mengarahkan kursinya ke arah jendela belakang meja kerjanya.
Vian melihat suasana gedung kota dan masih mencari ide untuk mendapatkan pinjaman uang sebanyak 7 Miliar.
Dila tiba-tiba masuk ke ruangan Vian. Vian lalu mengarahkan kursinya ke arah datangnya Dila.
"Vian, ini ada yang harus ditanda tangani," Dila lalu menyerahkan berkas yang dia bawak ke Vian.
Vian lalu membaca sedikit isi berkas tersebut dan segera menanda tangani lalu memberikan kembali ke Dila.
"Vian kamu kelihatan cemas. Kamu kenapa?" tanya Dila dengan keheranan melihat Vian.
"Tidak ada apa-apa Dila."
"Iya tidak ada apa-apa," jawab Vian yang segera mengubah ekpresi wajahnya dengan terlihat baik-baik saja.
"Riana ada di mana dia?" tanya Vian.
"Dia lagi di rumah. Dia berlatih bernyanyi untuk persiapan audisi besok," ucap Dila yang sedikit tertawa.
"Hmm begitu. Ya sudah kamu urus perusahaan. Aku mau pulang untuk menganggu Riana dulu," ucap Vian sambil tertawa dan berdiri dari kursinya.
"Cari rusuh aja dehmu Vian..haha..Ya deh biarku handle semuanya. Kalau begituku pergi dulu," ucap Dila sambil meninggalkan ruangan Vian.
Setelah Dila pergi, Vian menekan televon dan menghubungi sekuriti kantor untuk memakirkan mobilnya di depan pintu masuk perusahaan. Lalu Vian siap-siap merapikan meja kerjanya dan segera mengasih tau ke ajudannya, kalau ada client yang penting. Vian mintak untuk menghubunginya lewat televon.
Saat Vian sampai di depan mobilnya, Vian lalu masuk dan meninggalkan perusahaan menuju pulang kerumah.
Vian lalu singah ke sebuah toko roti coklat dan membeli banyak roti dan segera melanjutkan pulang kerumah.
__ADS_1
Saat sampai di rumah, Vian lalu turun di depan teras rumah dan menyuruh supirnya untuk memakirkan mobil di garasi. Lalu Vian masuk ke dalam rumah untuk mencari Riana sambil memegang barang belanjanya.
Saat Vian mencari Riana di dalam rumah, tapi Vian tidak melihat Riana. Vian lalu bertanya ke asisten rumah untuk bertanya soal Riana. Asisten rumah Vian mengasih tau kalau Riana ada di kolam ikan.
Vian lalu menuju ke kolam ikan dan melihat Riana sedang berlatih bernyanyi. Vian lalu duduk di kursi dan mendengarkan Riana bernyanyi. Riana tidak menyadari kalau Vian sedang menyaksikannya bernyanyi.
Setelah Riana selesai bernyanyi. Riana lalu membalikkan badannya dan terkejut melihat Vian duduk sedang memandang ke arahnya.
"Vian. Sejak kapan duduk di situ?" tanya Riana dengan muka malu.
"Sejak saatmu bernyanyi dari tadi," ucap Vian sambil tertawa.
Riana merasa lalu dan segera mendekati Vian. Riana lalu duduk di samping Vian. Saat Riana duduk, Vian lalu membagikan barang belanjanya ke Riana.
Riana memegang barang belanja Vian dan membukannya. Riana lalu terkesima dengan banyaknya berbagai roti coklat dan roti campuran lainnya.
"Makanlah. Ku membelikannya untukmu," ucap Vian yang melihat Riana mengambil beberapa roti dari dalam bungkusan plastik.
"Makasih ya Vian," Lalu Riana membuka bungkusan roti dan memakan roti coklat tersebut.
"Jadi gimana besok. Siapkan untuk audisi tahap kedua besok?" tanya Vian sambil melihat Riana makan roti.
"Siap lah. Sangat siap," jawab Riana yang memandang Vian.
Riana melihat Vian senyum kearahnya, lalu Riana mengarahkan roti yang dipegangnya ke arah mulut Vian. Vian yang melihat tangan Riana yang memegang roti tersebut kearah mulutnya menjadi malu.
"Aaahhh," ucap Riana sambil memberi isyarat agar Vian membuka mulutnya.
Vian dengan muka sedikit merah membuka mulutnya dan mengigit roti yang disuapin oleh Riana. Riana lalu senyum dan sedikit tertawa melihat ekpresi malu Vian.
Vian lalu mengambil roti isi keju dan membuka bungkusan. Lalu Vian mengarahkan Roti yang ada ditangannya ke mulut Riana. Riana jadi tertawa, namun Vian hanya senyum sambil menunggu Riana membuka mulutnya.
Riana lalu membuka mulutnya dan mengigit roti yang ada ditangan Vian. Mereka berdua menjadi malu sendiri dengan disertai tawa. Mereka pun bercanda sambil makan roti.
__ADS_1