KENANGAN SEDIH

KENANGAN SEDIH
BAGIAN 40 BERTEMU KEMBALI DENGAN DILA


__ADS_3

Riana dan Vian akhirnya sampai di kota Blinda. Vian mengarahkan mobil ke sebuah supermarket untuk membeli perlengkapan Riana.


"Riana kita ke supermarket dulu. Sepertinya perlu ditambah perlengkapan mu," ucap Vian yang memakirkan mobilnya di depan toko supermarket.


"Peralatan apa. Semuanya sudah lengkap kok Vian," tanya Riana dalam keadaan heran.


"Perlengkapan mandi. Sepertinya tas yang kamu bawak. Hanya pakaian saja," Vian pun keluar dari mobil.


Riana yang mendengar hal tersebut dari Vian. Baru ingat kalau dia memang ingin membeli perlengkapan mandi jika sudah sampai ke kota. Namun Vian lah yang pertama kali menyadari hal tersebut.


Vian bisa tau apa yang kubutuhkan sampai hal kecil seperti itu dia pun tau. Dia sangat memperhatikanku. Gumam Riana dalam hati sambil turun dari mobil.


Setelah Vian dan Riana turun dari mobil. Vian mengikuti Riana. Riana pun yang memilih perlengkapannya sendiri. Saat semuanya telah dipilih oleh Riana. Mereka pun menuju ke kasir. Vian lalu membayar semuanya. Riana awalnya menolak untuk dibayarkan karena ingin membayar pakai uangnya sendiri. Tapi Vian tidak memperdulikan tolakan Riana. Vian duluan mengeluarkan uangnya. Sehingga Riana hanya bisa diam saat kasir telah menerima uang Vian.


Saat mereka menuju ke mobil dengan memegang barang belanja. Setelah itu mereka pun melanjutkan perjalanan.


"Riana kamu untuk sementara menginap di rumahku dulu."


"Haaa..!! kamu bercanda Vian. Gak mungkin aku menginap di sana. Kamu laki-laki Vian. Ngak..Pokoknya ngak..!!" Riana pun melipatkan kedua tanganya ke bawah dadanya seakan tidak mau.


"Hey tukang tidur. Dengarkan dulu..Hahaha. Di sana ada saudara perempuanku. Kalian bisa tidur bersama," Vian mengarahkan pandangan ke Riana sebentar.


"Tapi Vian, apa kata orang tuamu kalau aku kesana?" tanya Riana yang sedikit canggung.


"Orang tuaku tinggal di luar negeri."


"Jadi kalian hanya tinggal berdua?" tanya Riana sambil membuka cemilan yang masih tersisa.


"Iya Riana."


"Tapi awas ya buat macam-macam ke Riana," ucap Riana dengan polosnya.


Vian yang mendengarkan hal tersebut dari Riana langsung tertawa. Riana yang melihat Vian tertawa langsung memukul bahu Vian. Tawa Vian pun semakin menjadi-jadi saat Riana memukul bahunya.


"Siapa juga yang mau ganguin Anak kecil yang tukang tidur," Vian pun mengejek Riana sambil sedikit tertawa.

__ADS_1


Riana pun lalu diam dan memalingkan mukanya ke kaca mobil di sebelahnya. Lalu Vian yang melihat Riana merajuk. Langsung Vian membelai kepala Riana untuk merayu Riana agar tidak mengambek.


Riana yang merasakan belaian tangan Vian di kepalanya. Riana memandang Vian dan tersenyum. Riana menjewer kuping Vian.


"Sudah dibuatnya orang kesal. Sudah itu pandai pula dia merayu," ucap Riana melepaskan tangannya yang menjewer Vian.


Vian hanya tertawa kecil sambil memegang telinganya. Vian mengusap kecil telinganya dengan tangannya dan tersenyum melihat Riana.


Setelah mereka sampai di pekarangan rumah Vian. Riana terkejut, kalau dia mengigat rumah ini adalah rumah Dila.


"Vian ini tempat tinggal rumahmu?" tanya Riana yang sedikit terkejut.


"Iya. Kenapa?" jawab Vian yang memberhentikan mobilnya di teras rumahnya.


"Ini kalau tidak salah rumah Dila," Riana keluar dari mobil Vian.


"Jadi Riana sudah tau." Vian lalu mengajak Riana masuk sambil memegang barang bawaan Riana.


Saat mereka baru tiba. Vian lalu memanggil Dila. Dila yang mendengar Vian memanggil namanya. Langsung Dila menghampiri Vian dari tingkat atas. Dila yang melihat Vian bersama Riana menjadi terkejut.


"Iya Kak Dila," Riana pun menyapa Dila dengan pelukan.


"Dila. Riana akan menginap di sini. Dia akan ikut audisi lomba mencari vocalis album seberkas cahaya," ucap Vian ke Dila.


"Benarkah itu Riana? kamu mau ikut audisi?" tanya Dila ke Riana.


"Benar Kak. Riana baca di brosur. Hadiah menangnya sangat besar. Riana mau membantu Ibu dengan uang itu Kak."


"Ya udah. Kak mendukungmu," ucap Dila yang tersenyum ke arah Riana.


"Yok ke kamar Dila. Kita mengobrol di sana," Dila pun menarik tangan Riana.


Vian di tinggalkan begitu saja oleh mereka berdua.


"Aku dilupakan," ucap Vian dengan tatapan kosong.

__ADS_1


Vian lalu memanggil asisten rumah tangga dan menyuruh mengantar tas Riana ke kamar Dila. Setelah itu Vian pergi ke kamarnya untuk beristirahat.


***


Di dalam kamar Dila.


Riana duduk di tempat tidur Dila. Sedangkan Dila baring di tempat tidur.


"Ehh Kak Dila. Jadi Vian itu Kakaknya Ka Dila ya?" tanya Riana lalu membaringkan tubuhnya di kasur.


"Iya Riana. Lagi pula kok bisa kenal sama Vian. Gimana caritanya?" Dila lalu mengarah badannya ke Riana.


Riana lalu menceritakan saat pertama kali Riana bertemu dengan Vian. Dila dengan fokus mendengarkan cerita Riana. Dila sesekali tertawa mendengar cerita Riana. Begitu juga Riana sesekali tertawa menceritkan kisah dia dengan Vian.


Tiba-tiba Riana dan Dila mendengar suara pintuk Dila di ketuk. Dila pun menyuruh masuk. Ternyata seorang asisten rumah tangga di rumah mereka membawakan tas Riana. Dila pun menyuruh meletakkan di samping lemari Dila dan mengucapkan terima kasih ke bibik tersebut.


Setelah asisten rumah tangga keluar dari kamar Dila dan menutup pintu. Mereka lalu melanjutkan cerita.


Saat menjelang sore. Riana minta izin ke Dila untuk mandi. Dila yang mendengar minta izin. Dila pun tertawa.


"Tidak usah minta izin segala. Anggap saja rumah sendiri. Riana," lalu Dila menunjuk dengan tanganya, letak kamar mandi yang ada di dalam kamar Dila.


Riana menganguk iya mendengar kata Dila. Riana lalu menunju ke tasnya dan mengambil barang perlengkapan mandi. Lalu menuju ke kamar mandi.


Saat malam hari tiba. Dila mengajak Riana untuk makan malam. Mereka pun keluar dari kamar bersama Dila.


Dila dan Riana setelah sampai keruangan tempat makan. Dila dan Riana melihat Vian sedang makan sendiri.


Vian yang melihat Dila dan Riana, mengajak mereka berdua makan. Lalu mereka berdua pun duduk dan mengambil makanan yang telah terhidang di atas meja makan.


Mereka bertiga pun makan sambil mengobrol. Setelah selesai makan. Vian lalu menuju ke depan rumahnya. Dila dan Riana mengikuti Vian dari belakang. Vian yang melihat mereka, cuman diam. Setelah Vian duduk. Dila dan Riana duduk juga. Mereka pun mengobrol bersama.


Di suasana yang tenang dan terdengar suara air kolam ikan yang mengalir membuat suasana semakin tenang. Vian setiap malam selalu duduk di samping kolam ikannya untuk menghilangkan beban masalah dalam kerjanya.


Riana yang melihat kolam ikan yang begitu bagus dan tenang. Riana lalu berdiri dari duduknya dan menuju ke kolam ikan. Vian dan Dila hanya melihat Riana. Lalu Dila dan Vian mengobrol membahas soal audisi yang diadakan besok pagi.

__ADS_1


__ADS_2