
Dalam perjalanan. Matahari yang sudah muncul dari sembunyiannya, mulai menerangi jalanan yang di lalui oleh Vian. Muka Riana yang disapa oleh sinar matahari dari balik jendela mobil Vian, membuat Riana terbangun dari tidurnya.
Riana dengan setengah sadar, melihat sekelilingnya dan terasa olehnya getaran mobil yang masih berjalan. Riana melihat ke arah Vian.
"Udah di mana ini Vian?" tanya Riana mencoba untuk sadar sepenuhnya.
"Udah mau sampai. Palingan tujuh menit lagi akan sampai. Tengok sekeliling di luar mobil, udah ramai suasana pasar," jawab Vian yang mengemudikan mobilnya secara pelan.
"Oh iya Vian. Vian belum tidur semalaman?" tanya Riana yang memandang muka Vian yang terlihat sangat letih.
Vian hanya tersenyum melihat ke arah Riana. Setelah mereka sampai di depan rumah Riana. Vian lalu turun dari mobil dan begitu juga Riana. Vian mengambil barang tas Riana dari bagasi mobilnya.
Riana lalu mengajak Vian masuk. Tapi Vian sepertinya mau cari penginapan untuk istirahat. Karena Riana mengerti dengan kondisi letih Vian. Riana lalu tersenyum sambil mengambil tasnya dari pegangan Vian.
"Ya deh Vian. Makasih ya Vian. Nantik siang aku ke penginapan. Hmm penginapan masih yang dulukan Vian?" tanya Riana yang masih melihat muka letihnya Vian.
"Iya. Aku menginap disana. Karena di sana yang aku tau. Ya udah, aku berangkat dulu. Udah tidak tahan ini mata," ucap Vian sambil meninggalkan Riana dan menuju ke mobil.
"Dadah Vian. Sampai jumpa nantik siang. Tunggu kedatanganku ya Vian?" Riana lalu melambaikan tangannya saat Vian menyalakan mobilnya.
"Ok Riana. Aku akan menunggumu," ucap Vian membalas lambaian tangan Riana.
Vian pun pergi dengan mobilnya. Riana lalu masuk kedalam rumahnya dengan menggunakan kunci rumah cadangan yang dibawaknya. Riana siap-siap untuk mandi dan pergi ketempat ibunya berjualan.
***
Di dalam perjalanan Vian.
Vian yang mengemudikan mobilnya dan berusaha mengingat arah jalan menuju ke penginapan. Setelah Vian melihat penginapan tersebut. Vian lalu memakirkan mobilnya dan mengambil beberapa barangnya di kursi belakang mobil. Vian mengambil baju, celana ganti.
Vian lalu masuk kedalam penginapan dan memesan kamar. Setelah Vian memesan kamar, Vian bergegas menuju ke kamar. Vian lalu mencoba untuk tidur, namun karena Vian kebanyakan minum kopi saat perjalanan di dalam mobil. Vian tidak bisa tidur. Vian segera mandi. Setelah Vian selesai mandi dan berpakaian. Vian teringat kalau sepeda Riana hancur olehnya. Vian pun segera bergegas menuju ke pasar, mencari sepeda untuk Riana.
__ADS_1
***
Dalam Suasana Di rumah Riana.
Riana yang telah selesai mandi dan berpakaian. Riana lalu mengunci pintu rumah dengan kunci cadangan. Lalu Riana segera menuju ke tempat ibunya.
Saat Riana mau sampai ke tempat warung ibunya. Riana terkejut mendengar teriakan ibunya. Riana lalu berlari. Setelah melihat apa yang terjadi. Riana terkejut melihat para rentenir mengobrak abrik warung ibunya. Bongkahan piring yang pecah yang berserakan di mana-mana dan Meja yang patah diakibatkan oleh rentenir tersebut. Ibu Riana yang melihat Riana dari depan warung, segera berlari ke arah Riana.
"Ibu. Mereka kenapa?" tanya Riana yang badannya di peluk sama ibunya yang sedang menangis.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Riana dengan nada tinggi ke para rentenir.
"Apa yang kami lakukan. Kami hanya memintak uang kami yang di pinjam sama Ibumu itu..!!" jawab rentenir itu sambil mendatangi Riana.
"Gimana kami mau bayar, kalau kalian mengacaukan dagangan kami," ucap Riana yang semakin marah ke rentenir tersebut.
"Hey anak kecil. Ibumu itu telah lewat jatuh tempo dalam membayar semua hutangnya. Janji hanya 1 tahun. Tapi ini sudah lewat jadwal tempo. Ibumu telah lewat jatuh tempo 3 bulan. Kau tau itu..!!" bentak rentenir itu ke Riana.
"Aku akan membayar semuanya. Berapa hutang Ibuku?" tanya Riana dengan tegas.
"Hmm hutangnya tidak banyak, hanya 6 juta dan ditambah bunganya dan denda. Hmm semuanya bertotal 10 juta," ucap rentenir sambil melihat buku catatan miliknya.
Riana yang terkejut mendengar hutang ibunya sebanyak itu. Riana lalu terdiam. Rentenir yang melihat Riana hanya diam. Lalu rentenir itu mendekati Riana.
"Kenapa. Katanya kamu mau membayar. Ayok bayar segera," ucap rentenir sambil menghancurkan piring yang dipegangnya ke tanah.
Ibu Riana hanya bisa menangis dan syok dengan barang dagangan yang dihancurkan sama rentenir. Saat Rentenir itu mengarahkan tangannya Ke muka Riana untuk menampar Riana karena kesal.
Riana yang melihat tangan rentenir itu. Riana menutup matanya dan memeluk erat tubuh ibunya. Saat tangan rentenir itu mau mengarah ke muka Riana. Tiba-tiba tangan rentenir itu terhenti, akibat tanganya yang ditahan oleh tangan seseorang dari belakangnya.
Rentenir itu terkejut dan membalikkan badannya ke arah belakang. Rentenir itu melihat pemuda gagah yang memandangnya dengan muka marah.
__ADS_1
Riana lalu membuka matanya. Riana terkejut melihat Vian yang berdiri di hadapan rentenir tersebut.
"Mau apa kau?" tanya rentenir ke Vian.
Lalu rentenir itu mengarahkan sebuah pukulan ke arah Vian. Vian lalu menangkisnya dan membalas pukulan ke rentenir tersebut. Rentenir yang menerima pukulan Vian, langsung terjatuh.
"Ada apa ribut-ribut seperti ini?" tanya Vian sambil memandang dengan muka yang murka ke rentenir tersebut.
"Mereka telat membayar hutangnya," jawab rentenir itu yang takut melihat muka Vian yang marah.
"Berapa hutangnya?" jawab Vian dengan suara tegas.
"Hutangnya masih ada 10 juta," rentenir itu segera berdiri sambil memegang pipinya yang terkenak pukulan Vian.
Vian lalu menuju ke mobilnya yang tidak jauh diparkirkan di lokasi tersebut. Vian lalu membuka pintu mobil dan mengambil sebuah cek dan pena dari dalam laci mobilnya, lalu Vian segera kembali ke tempat warung Riana.
Setelah Vian telah sampai di depan warung Riana. Vian lalu menulis cek tersebut di atas meja lalu memberikan ke rentenir tersebut.
"Apa ini asli?" tanya rentenir yang menerima cek dari Vian.
"Sudah. Jangan banyak omong. Pergilah dari sini dan jangan mengacau lagi di sini," ucap Vian dengan tegas.
Ibu Riana dan Riana yang melihat rentenir itu pergi. Riana lalu menenangkan ibunya yang masih syok. Riana lalu membawak ibunya untuk duduk.
Setelah ibunya tidak syok lagi. Riana lalu memandangi Vian.
"Kenapa dia pergi. Vian lakukan apa?" tanya Riana heran.
"Tidak ada apa-apa. Jangan dipikirkan soal itu."
"Kamu siapa? dan kenapa kamu membantu kami dengan memberikan cek ke rentenir. Kamu mau apa?" tanya ibu Riana dengan ekpresi marah ke Vian.
__ADS_1
Riana terkejut melihat ibunya yang tiba-tiba marah ke Vian. Vian hanya diam melihat ibunya Riana yang marah ke dirinya.