KENANGAN SEDIH

KENANGAN SEDIH
BAGIAN 76 KEDATANGAN YANG TIDAK TERDUGA


__ADS_3

Setelah mereka bersiap-siap untuk berangkat. David membuka aplikasi di ponselnya untuk memesan taksi secara online.


David dan Riana segera keluar dari apartemen dan menunggu taksi di kursi teras luar apartemen. David sibuk dengan ponselnya sedangkan Riana memegang boneka pemberian Rey.


Setelah menunggu lama. Taksi yang di pesan online pun datang. David dan Riana segera berdiri dan menuju ke taksi tersebut.


Supir taksi pun membuka bagasi belakang mobil dan menarok barang David dan Riana. Setelah itu, mereka berangkat.


David melihat jam tangannya dan menyuruh supir taksi segera cepat karena waktu penerbangannya tinggal 30 menit lagi.


Saat mereka telah sampai di depan bandara. Supir taksi mengeluarkan barang bawaan David dan Riana. David pun membayar jasa ke supir taksi dan mereka masuk ke dalam bandara.


Mereka tepat waktu sehingga David dan Riana langsung menuju ke pesawat. Mereka pun masuk ke dalam pesawat dan siap-siap untuk lepas landas.


***


Kediaman rumah sakit tempat Dila di rawat.


Vian dan beberapa kru lainnya sedang berbicara dalam ruangan. Saat mereka sedang mengobrol, Dila tiba-tiba terbangun dan tentu saja membuat Vian terkejut dan mendekati Dila.


"Dil. Kamu tidak apa-apa?" tanya Vian sambil memegang tangan Dila.


"Kak Vian. Kakak di sini?" tanya balik Dila yang memandang wajah Vian.


"Tentu saja aku di sini untuk menjagamu Dil. Kamu membuatku sangat takut dan cemas," jawab Vian sambil mengelus rambut Dila.


"Maaf Kak sudah membuat Kak cemas."


"Sudah, jangan memintak maaf. Yang penting gimana kondisi kamu Dil, apa masih ada yang sakit?" tanya Vian sambil senyum.


"Aku baik-baik saja. Tidak ada yang sakit. Cuma hanya membuatku tidak nyaman dengan kondisi seperti ini," Dila melihat tangannya yang terpasang infus.


"Namanya juga di rumah sakit. Pasti tidak senyaman rumah sendiri Dil."


"Kak tidak kerja?" tanya Dila dengan heran.


"Soal kerjaan Kak jangan di pikirkan. Lebih penting kondisi dirimu lagi Dil."

__ADS_1


Dila lalu tersenyum setelah mendengar perkataan Vian. Dila lalu merasa sedikit perih ke arah perutnya.


Vian yang melihat Dila seperti kesakitan. Vian lalu menekan tombol di dinding. Tidak lama dokter pun tiba. Dokter lalu memeriksa Dila.


"dila not why. Naturally, if you feel pain. That's because the wound hasn't dried yet. Try not to move too much so the wound dries quickly," ucap dokter menjelaskan ke Vian setelah memeriksa kondisi Dila.


"Oke doctor. thanks for the information," jawab Vian ke dokter.


Setelah menjelaskan ke Vian. Dokter itu pun meninggalkan ruangan. Vian segera duduk di samping Dila. Kru Dila juga mendekati ke Dila.


Mereka meminta maaf atas kejadian kemarin. Dila hanya tersenyum dan memintak melupakan kejadian tersebut ke para kru Dila.


Kru Dila pun mengobrol sama Dila sedangkan Vian melihat email di ponselnya. Sesaat Vian teringat ke Riana dan merasa rindu. Vian mau menelvon Riana tetapi Vian mengurungkan niatnya karena Riana pasti sedang latihan.


Oh iya aku lupa mau untuk menyewakan apartemen di tempat David untuk Riana. Padahal aku sudah berjanji ke Riana. Ya sudahlah saat pulang nantik aku akan sewakan apartemen untuk Riana. Ucap Vian dalam batinnya.


Aku tidak tau apa yang mesti aku lakukan. Dila kelihatannya sudah ada yang menemani oleh krunya. Ya sudah lah mending aku main game. Ucap Vian dalam hati.


Vian lalu mengambil leptop dalam kopernya. Vian memasang jaringan di leptop dan menghidupkan game kesukaannya yaitu 'Dota 2' Setelah login dan Vian terkejut melihat update dota sebesar 10 giga byte.


Vian pun mau tidak mau mesti merelakan 10 gb paket datanya. Selama menunggu dan akhirnya selesai update. Dirinya lalu mulai bermain game.


"Biarkan saja Vian main game. Kalau sudah menyentuh game, dia tidak akan memperdulikan di sekitar sekelilingnya," ucap Dila ke krunya sambil tertawa kecil.


"Jadi kalau di rumah, Vian selalu bermain game?" tanya kru Dila yang memandang Vian di depan leptopnya.


"Iya hampir terusan. Kalau dia lagi santai atau lagi stres."


Beberapa kru Dila ada yang tertawa dan ada yang mengelengkan kepala melihat Vian.


Sudah 2 jam kru Dila menemani Dila mengobrol dan sudah 2 jam Vian masih bermain game. Vian bermain game seakan lupa waktu dan sekitarnya.


Malam pun tiba. Dila yang tadi di rawat oleh krunya sedangkan Vian baru menutup leptopnya.


Vian lalu menuju ke Dila. Dan melihat Dila sambil senyum.


"Sudah makan siang kamu Dila?" tanya Vian sambil tertawa.

__ADS_1


"Makan siang apanya Kak. Makan malam yang harus di tanya," ucap Dila sedikit kesal.


"Malam?" Vian lalu melihat jam dinding dan terkejut kalau sudah jam 9 malam.


Vian lalu tertawa ke Dila. Dila hanya diam dan memandang Vian dengan tatapan masam.


Tiba-tiba pintu di ketuk dan seseorang masuk. Vian terkejut kalau yang masuk itu adalah Riana dan David.


"Riana. David," ucap Vian dengan sedikit terkejut.


"Halo Vian dan halo Kak Dila," sapa Riana sambil mendekati Dila di tempat tidur.


"Hay Vian," sapa David sambil meletakkan barangnya ke tepi dinding.


"Hay juga David. Kalian ke sini. Dari mana kalian tau kalau aku di rumah sakit ini?" tanya Vian dengan heran ke David.


"Dari Fano. Itu masih ada lagi orang di luar," jawab David sambil melihat pintu keluar ruangan.


Tiba-tiba Fano masuk sambil kelelahan. Fano pun melihat semua suasana ramai di ruangan.


"Lah. Kok ada Fano juga?" Vian semakin heran.


"Tadi saat kami di pesawat. Ternyata Fano juga di pesawat yang sama dengan tujuan yang sama. Kami di sini menjenguk Dila," David menjelaskan ke Vian.


David dan Fano mendekati Dila dan melihat kondisinya.


"Bagaimana kondisi kamu Dila?" tanya David.


"Iya Dil. Gimana kondisimu?" tanya Fano juga ke Dila.


"Aku baik-baik saja Kak David dan Kak Fano meski sedikit perih di bagian luka," jawab Dila.


"Itu hal wajar karena luka kamu belum sembuh Dila," jawab Fano.


Vian, Dila, David dan Fano kalau sudah di luar perusahaan. Mereka seperti berteman biasa karena Vian, Fano dan David satu sekolah dan satu ruangan sedangkan Dila ruangan belajar yang lain.


Mereka semuanya saling mengobrol sehingga membuat suasana semakin ramai. Dila mengobrol sama kru dan Riana sedangkan Vian, David dan Fano. Mereka pergi keluar ruangan dan berdiri di samping tepi gedung rumah sakit dan memegang besi pembatas.

__ADS_1


Mereka bertiga bercerita soal masa sekolah dan sesekali mereka tertawa. Orang-orang yang melintas di belakang mereka tidak begitu mengerti bahasa mereka sehingga mereka hanya diam saja.


__ADS_2