KENANGAN SEDIH

KENANGAN SEDIH
BAGIAN 74 KECEMASAN VIAN


__ADS_3

Selama perjalanan 7 Jam. Vian sampai ke luar negeri. Helicopter Vian memintak izin untuk mendarat di bandara. Mereka pun di izinkan untuk mendarat.


Setelah mendarat. Vian lalu berbicara ke salah satu polisi yang berada di bandara. Polisi pun mengerti dan karena Vian terburu-buru. Vian melanjutkan langkah kakinya berjalan untuk mencari taksi.


Setelah Vian telah berada di salah satu taksi yang sedang terparkir di tepi jalan yang tidak jauh dari bandara.


Vian lalu masuk ke dalam taksi dan memajukan sedikit badanya ke arah supir taksi.


"Take me a to hospital," ucap Vian sambil melihat jam tanganya.


"Ok sir..which hospital?" tanya supir taksi sambil mengarahkan pandangan ke Vian.


"Hmm. Sky hospital," jawab Vian.


Setelah memdengar perkataan Vian. Mobil taksi pun berangkat menuju tempat yang dikatakan oleh Vian.


Vian tidak sabar untuk ingin cepat-cepat sampai. Pikiriannya ke Dila sangat membuatnya syok. Dia tidak ingin Dila kenapa-napa.


Saat taksi telah sampai di depan rumah sakit. Vian lalu bergegas menuju ke lobby dan bertanya ke petugas.


"Sorry. I want to ask. Where is the room named dila mandasari?" tanya Vian ke salah satu petugas di lobby.


"Dila Mandasari," petugas pun mencari di buku pasien yang baru masuk. Setelah mencari, akhirnya petugas mendapatkan nama atas Dila Mandasari.


"Dila Mandasari. room number 203. On the 6th floor."


"Thank you."


Vian lalu meninggalkan petugas tersebut dan menuju ke tempat ruangan Dila yang sedang di rawat.


Vian menaiki lift dan menuju ke lantai 6. Saat telah tiba di lantai 6. Vian mencari ruangan 203. Saat Vian mengarah ke kamar tersebut. Vian melihat beberapa orang termasuk polisi sedang berjaga di luar ruangan. Vian merasa heran dengan polisi yang berjaga.


Saat Vian mendekati polisi tersebut. Vian melihat pintu ruangan nomor 203. Vian pun menuju ke salah satu polisi.


Vian bertanya dalam bahasa inggris untuk masuk. Pihak polisi yang mendengar perkataan Vian kalau dirinya kakaknya Dila. Polisi pun mempersilahkan Vian masuk.


Saat Vian membuka pintu. Orang yang berada dalam ruangan pun terkejut melihat Vian. Vian langsung mengarahkan pandanganny ke ke Dila tampa menghiraukan yang lainnya.

__ADS_1


Vian mendekati Dila dan memegang tangan Dila yang lagi pingsan. Vian pun kelihatan sangat sedih atas yang terjadi dengan adiknya.


Setelah beberapa menit, Vian melihat ke arah kru Dila. Tentu saja Kru Dila kelihatan takut dengan tatapan Vian.


"Ceritakan sebenarnya apa yang terjadi?" ucap Vian sambil duduk dan meletakkan koper di sampingnya.


Salah satu kru Dila pun mendekati Vian dan duduk dekat Vian.


Kru Dila yang mendekati Vian. Dia pun mengasih tau cerita mengenai Dila yang tertembak.


Setelah mendengar cerita apa yang di alami oleh Dila. Vian lalu menundukkan kepalanya.


"Ya sudah kalau begitu. Kalian pasti lelah, bagi yang merasa ingin istirahat silahkan mencari tempat ginap. Biar aku yang jaga Dila," ucap Vian sambil berdiri dan mendekati Dila lagi.


Vian melihat Dila dengan rasa penuh cemas. Vian lalu memegang tangan Dila yang tidak sadarkan diri.


"Maafkan kami Pak Vian," ucap salah satu kru yang mendekati ke arah Vian.


"Tidak apa-apa. Ini bukan salah kalian. Tidak usah merasa bersalah," ucap Vian dengan sambil tersenyum.


"Pak. Biar saya temanin di sini."


Polisi tiba-tiba masuk dan menghampiri Vian.


"sir vian. We from the police want permission to say goodbye because relatives from dila have come," ucap polisi sambil mengarahkan tangannya ke Vian untuk berjabat tangan.


"Yes sir. thank you for keeping dila," ucap Vian sambil mengarahkan tangannya untuk menjawab jabat tangan polisi.


Polisi lalu segera keluar dari ruangan Dila. Sekarang hanya tersisa Vian dan dan kru para Dila.


Sebagian kru Dila sudah pamit ke Vian karena mereka lelah dan pergi ke penginapan dan ada juga yang netap di ruangan untuk menemani Vian.


***


Di apartemen David.


Riana melihat David sedang mengemaskan barangnya untuk persiapan keberangkatan ke luar negeri. Riana yang melihat David jadi sedikit heran.

__ADS_1


"Kak David mau ke mana?" tanya Riana yang sedang duduk di kursi sofa.


"Sudah jelas mau tengok Dila," jawab David yang fokus memasukan barangnya ke koper.


"Aku mau ikut tapi aku tidak ada uang dan paspor untuk ke sana," ucap Riana dengan sedih.


"Memangnya siapa suruh kamu tinggal. Kamu juga ikut juga Riana," ucap David sambil melihat Riana.


"Benarkah Kak, terus uangnya pewasat dan paspor gimana kak?" tanya Riana yang masih terlihat lesu.


" Untuk paspord udah ku kirim data kamu ke tempat pembuatan paspord. Aku menyuruh mereka menyelesaikan cepat. Mungkin besok sudah bisa diambil sebelum ke bandara. Untuk uang, jangan di pikirkan. Aku akan membayarmu."


Riana langasung menuju ke tempat David yang sedang mengemaskan barangnya. Riana laku duduk di depan David.


"Terima kasih ya Kak," ucap Riana dengan senang.


David yang mendengar perkataan Riana hanya diam saja. David hanya sibuk memasukkan bajunya.


Melihat respon David. Riana sudah terbiasa. Riana lalu menuju ke tempat tasnya dan ikut mengemaskan barangnya juga untuk ke luar negeri.


Dalam hati Riana, dirinya merasa sangat senang sekaligus tidak sabar untuk menemui Dila.


Setelah mengemas barang. Riana lalu pergi ke dapur dan memasak dengan apa adanya sesuai dengan bahan masakan yang tersedia.


David yang menyadari Riana masak. David lalu pergi ke dapur.


"Masak apa kamu Riana? ingat untuk memasak yang benar. Jangan sampai masak yang ku larang untuk dirimu sendiri," ucap David sambil bersandar di dinding.


"Tidak Kak. Riana sudah tau apa yang mesti di jaga soal makan Riana," jawab Riana yang fokus masak.


Setelah David mendengar perkataan Riana. David lalu pergi meninggalkan Riana dan menuju ke tempat pianonya.


David lalu memainkan piano dengan memainkan nada sedih. Riana selalu mendengar David bermain piano dengan nada sedih yang seakan tau kalau David masih merindukan cinta lamanya.


Riana tau kalau David seakan ingin mencari cinta lamanya meski masih tersakiti. Setelah masak selesai. Riana lalu menyalin ke mangkuk dan menarok di meha makan.


Riana lalu menuju ke tempat David bermain piano. Riana berdiri di belakang David sambil memperhatikan David.

__ADS_1


David yang fokus bermain piano, tidak sadar kalau Riana sedang ada di belakangnya. Riana memperhatikan setiap alunan nada permainan piano.


David lalu berhenti bermain piano. David mengarahkan badannya ke belakang. David lalu melihat Riana sedangkan Riana melihat David yang terlihat jelas bekas air mata yang masih berbekas di pipi David.


__ADS_2