
Riana segera menuju ke lantai satu menggunakan lift. Setelah Riana keluar dari lift lantai satu. Riana melihat Vian di luar pintu perusahaan RMD sedang berdiri dengan ajudannya. Riana yang melihat Vian, segera segera berlari ke Vian.
"Viaann," teriak Riana yang berlari ke arah Vian.
Vian pun menoleh ke arah teriakan yang memanggil namanya. Vian yang melihat Riana, langsung tersenyum.
"Vian, aku ada berita bagus," ucap Riana setelah sampai di depan Vian.
"Apa itu Riana?" jawab Vian dengan senyum kecilnya.
"Gini. Saat Vian suruhku bernyanyi. Juri itu datang dan memberikan ini," Riana melihatkan kertas brosur yang memperlihatkan tulisan lulus bagi peserta audisi.
"dua hari lagi. Riana akan disuruh datang ke perusahaan yang ini. Untuk melanjutkan audisi yang kedua loh Vian," Riana menunjuk nama perusahaan yang ada tertera di kertas tersebut.
"Hmm perusahaan ini. Vian tau kok. Lokasi perusahaan ini," jawab Vian sambil menyerahkan kertas tersebut ke Riana.
"Jadi gimana Pak? apa mesti kita adakan pertemuan dengan mereka?" tiba-tiba ajudan Vian berbicara ke Vian.
"Nantik saya pikirkan. Riana ayok kita pergi makan dulu untuk merayakan keberhasilanmu," Rey pun memegang tangan Riana dan pergi dari tempat tersebut.
"Pak Vian. Ini bagaimana?" ucap ajudan Vian yang sambil memegang dokumen di tangannya.
Vian yang tidak menghiraukan perkataan ajudannya, langsung menuju ke tempat parkiran mobilnya bersama Riana.
Setelah mereka sampai ke mobil. Vian dan Riana pun pergi meninggalkan perusahaan RMD.
Di dalam mobil Vian. Vian melihat Riana tersenyum sendiri dari tadi.
"Hay tukang tidur. Ku harap mu tidak tidur saat audisi besok," ucap Vian yang mengeledek Riana sambil menyetir mobil.
__ADS_1
"Tidaklah. Dasar pria jelek," ucap Riana dengan tertawa.
"Jelek-jelek begini banyak yang suka loh," Vian lalu tertawa.
"Eleh. Ke pedean," Riana pun ikut tertawa.
Vian lalu menuju ke tepi jalan dan memberhentikan mobilnya. Lalu Vian mendekatkan mukanya ke muka Riana.
"Kalau Vian jelek. Ngak mungkin Riana mau di cium saat kemarenkan?" goda Vian ke Riana.
Riana terdiam malu mendengar perkataan Vian. Lalu Vian melanjutkan menyetir mobil sambil tertawa.
"Apalah kamu Vian," Riana lalu menekak kepala Vian dari arah belakang kepalanya karena malu.
"Aduh. Dasar Riana sigadis ratu tidur," ucap Vian mengarahkan mukan ke Riana dan mengejek Riana.
"Gimana. Masih mau jatah lagi?" ucap Riana sambil mengumpalkan tangannya dan melihatkan ke Vian.
"Ngak Nyoya. Ampun," ucap Vian sambil tertawa.
Hari pun mulai sore. Saat mobil Vian melewati di tempat tepian laut. Vian memberhentikan mobilnya di tepi jalan.
"Riana yok turun," ucap Vian sambil membuka pintu mobilnya.
Riana pun segera turun. Suasana yang tenang dan sepi. Hanya suara ombak dan Suara camar yang mereka dengar.
Vian lalu memegang tangan Riana dan Vian. Mereka berdua berjalan menelusuri tepi laut. Saat Vian dan Riana sampai di tempat sebuah pohon yang telah dimakan usia. Vian lalu berhenti di bawah pohon tersebut.
Riana yang melihat dahan yang rendah. Riana pun duduk di atas dahan pohon tersebut dan Vian berdiri sambil menyandarkan badannya ke dahan pohon tempat Riana duduk.
__ADS_1
Vian?" tanya Riana yang lalu mendekatkan kepalanya ke bahu Vian sambil melihat ke arah laut.
"Ya Riana," Vian pun juga mengarahkan kepalanya ke samping kepala Riana yang menempel di bahu Vian.
"Apa aku ini manja ya, ke kamu Vian?"
"Iya. Kamu sangat manja Riana."
"Kamu tidak marah Vian?" tanya Riana dengan suara pelan.
"Tidak Riana. Aku tidak marah dengan hal tersebut," Vian lalu memeluk bahu Riana dengan sebelah tangannya.
"Vian. Jangan pergi dari Riana. Riana tidak mau, kalau suatu saat Vian akan menghindari Riana."
"Tidak Riana. Ku tidak akan meninggalkanmu. Riana, aku akan selalu berada disisimu."
"Janji ya Vian? Riana tidak mau dikhianati janji untuk kedua kalinya," Riana ingat janji pertama dia bersama Rey dulu.
"Janji. Riana bisa pegang janji ini untuk selamanya," Vian lalu memegang lembut pipi Riana dengan sebelah tangannya.
Saat pipi Riana di pegang lembut sama Vian. Riana lalu mengarahkan mukanya ke muka Vian. Vian pun memandang ke arah muka Riana. Vian lalu secara perlahan mengarahkan mukanya ke muka Riana. Riana pun juga mendekatkan mukanya ke muka Vian. Lalu mereka pun berciuman.
Saat berciuman. Tangan Vian lalu memegang erat tangan Riana.
Vian. Jangan tinggalkan aku. Karenaku merasa, bahwa aku jatuh cinta kepadamu. Vian. Ucap Riana dalam hatinya yang masih berciuman dengan Vian.
Riana. Bahwa kamu perlu tau. Aku tidak pernah merasakan kenyamanan ini yang begitu besar jika aku bersamamu. Aku mungkin merasa ini aneh dalam hidupku, apakah ini namanya cinta. Jika iya, itu karena aku telah cinta ke dirimu Riana. Gumam Vian dalam hatinya yang dalam keadaan mencium Riana.
Kelarutan mesra mereka tidak ada satu pun yang menganggu. Hanya pohon yang menjadi saksi bisu Vian dan Riana. Suasana kenyamanan yang membuat mereka semakin dekat.
__ADS_1