
Vian dan Riana telah sampai di rumahnya Vian. Saat mereka berdua telah masuk. Vian lalu duduk di ruang tamu karena badannya yang terasa sangat lelah. Riana pun duduk berseberangan bersama Vian.
"Vian. Rumahmu sepertinya sepi," ucap Riana sambil melihat sekelilingnya.
"Dila masih ada kerjaan di kantornya. Mungkin yang lain pada di belakang mungkin," jawab Vian lalu membaringkan tubuhnya ke tempat kursi yang dia duduki.
"Oh iya. Dari siang kita pergi. Kalau gitu pergi mandi sana."
"Bentar lagilah Riana. Masih capek," jawab Vian sambil menutup matanya.
"Vian. Gak baik gitu. Cium tu ha, badanmu bau."
"Bentar Riana," jawab Vian yang masih memeramkan matanya.
Riana lalu berdiri dan mendekati Vian yang lagi tidur sambil menutup muka dengan pegelangan tangannya, lalu duduk di kursi tempat Vian tidur. Riana lalu memegang tangan Vian dan menarik Vian untuk berdiri. Vian pun berdiri karena ditarik oleh Riana.
"Iya, ya. Ku mandi dulu ya Riana. Riana kalau mau mandi. Mandi aja, ruang mandi ada di belakang dekat ruang dapur. Kalau perlu apa-apa, minta saja bantuan ke asisten rumah ini."
"Siap Vian. Makasih ya Vian," jawab Riana sambil senyum.
Vian pun segera menuju ke kamar mandi yang ada di kamar tidurnya. Riana menuju tempat tas perlengkapannya dan siap-siap untuk mandi.
Saat Vian selesai dari mandinya. Vian lalu seperti biasa menuju ke tempat kolam ikannya untuk merasakan ketenangan. Saat Vian telah sampai ke kolam ikan. Vian lalu memandang kolam ikam dengan perasaan cemas.
Tiba-tiba Vian terkejut dengan bahunya yang di pegang seseorang. Vian lalu melihat ke belakang, ternyata yang memegang bahu Vian adalah Riana.
"Rupanya kamu Riana. Udah selesai mandi?" tanya Vian yang lalu memandang ke kolam ikan.
"Sudah Vian. Kamu ternyata tiap hari ke kolam ya Vian?" Riana lalu juga ikut melihat ke kolam ikan.
"Tidak. Hanya sesekali saja kok Riana. Kalau ada yang membuatku cemas atau stres karena kerja. Ya aku kesini."
"Jadi sekarang mu ada masalah ya?" tanya Riana.
"Tidak usah dipikirkan Riana," jawab Vian sambil memainkan air kolam.
__ADS_1
"Vian. Jangan gitu. Ceritalah, Rianakan juga sesekali mau menghibur Vian. Masak cuman Vian aja yang menghibur Riana. Rianakan juga mau menghibur Vian."
"Dasar si tukang tidur. Hahaha. Ya gini. Aku masih teringat soal Lisa tadi. Dia selalu mengancam dengan sebuah foto. Sehingga aku selalu ikutin perkataan dia. Selama saat masa kuliah. Dia selalu saja membuat keonaran dan akhirnya aku jadi ikutan masalah dia. Kalau aku tidak turutin kemauan dia. Ya dia bakal mengancam. Sejak kuliahku selesai, Aku berharap tidak menemuinya lagi. Tapi tidak kusangka kami bertemu lagi. Pasti bakal terjadi hal-hal aneh lagi," ucap Vian dengan muka yang cemas.
"Jadi Vian dan Lisa kuliah satu tempat?" tanya Riana dengan penasaran.
"Tidak. Kami kuliah berbeda. hanya saja selagi foto itu masih ada. Aku tidak tau harus berbuat apa," jawab Vian dengan mata yang masih mengarah ke kolam ikannya.
"Vian takut foto itu disebarkan ya Vian?"
"Iya. Aku tidak ingin keluargaku tau. Hanya itu saja."
"Foto seperti apa si Vian? sampai Vian takut kali?" tanya Riana yang penasaran.
Vian hanya diam pertanyaan Riana. Riana yang melihat Vian tidak menjawab pertanyaan dari Vian. Riana tidak memaksa dan mengerti kalau itu mungkin bersifat rahasia.
"Vian. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Karena pintu masalah datang, pasti ada juga pintu keluar dari masalah. Bagaimana pun Vian tidak boleh mengikuti saran Lisa itu. Ntar makin bahaya untuk kedepannya," Riana lalu memegang tangan Vian untuk memberi semangat.
"Iya. Mungkin dulu aku hanya mengalah, agar perkuliahanku tidak berantakan. Sekarang tidak ada lagi untuk aku akan mengikuti perintahnya," jawab Vian dengan penuh keyakinan.
"Bantu. Aku senang mendengarnya. Bantu apa itu Riana?" tanya Vian dengan senyum.
"Bantu doa," Riana lalu tertawa setelah berbicara.
"Dasarmu Riana," Vian lalu menjetik kening Riana.
Riana yang di jentik oleh Vian. Semakin tertawa dan Vian pun tersenyum melihat Riana yang tertawa.
Lalu saat mereka berdua sedang memandang kolam ikan. Dila tiba-tiba datang dan menyapa mereka. Vian dan Riana memandang Dila.
"Eh Kak udah pulang," ucap Riana sesambil senyum ke Dila.
"Udah, eh gimana audisi tadi. Menang kah?" Dila memandang ke arah Riana.
"Berhasil Kak, meskipun dengan cara aneh Kak?" Riana pun tertawa.
__ADS_1
"Aneh gimana. Cerita donk?"
Riana pun menceritakan saat mau ikut audisi. Dila yang mendengar pun dengan serius. Setelah Ruana mereka selesai menceritakan. Dila lalu tertawa.
"Ceritamu emang sungguh aneh. Menang dengan cara seperti itu. Kayak di film-film saja Riana," ucap Dila yang masih tertawa.
"Iya memang gitu Kak ceritanya. Kalau diingat-ingat lagi memang aneh juga Kak. Kenapa bisa ya juru audisi itu mendengar Riana bernyanyi," Riana merasa heran.
Dila lalu melihat ke arah Vian. Vian lalu mengkedipkan sebelah matanya ke Dila, untuk mengkasih kode agar Dila tidak tau siapa yang menyalakan suara ke speaker seluruh perusahaan. Saat Vian mengkasih kode. Dila tau kalau itu perbuatan Vian.
"Beruntung ya Riana. hmm besok pas audisi kedua. Dila akan melihat penampilan Riana deh."
"Benarkah itu Kak Dila?" tanya Riana seakan mau senang.
"Benar. Kak pasti akan datang. Kak mau kasih semangat ke Riana. hmm, ngomong-ngomong. Riana udah makan malam?" tanya Dila sambil memegang perutnya yang kelaparan.
"Udah Kak. Memangnya Kak belum makan?"
"Belum sih. Karena banyak kerjaan di kantor. Malah lupa mesan makanan."
"Ya udah Kak. Riana kawanin deh. Biar ada teman ngobrol kakak saat Kak makan."
"Wah. Kalau begitu ayok Riana. Kak udah lapar sekali."
"Vian. Riana masuk ke rumah dulu. Gak apa-apakan ditinggal?" tanya Riana sambil memandang ke arah Vian.
"Iya lanjut saja." jawab Vian sambil senyum ke Riana.
"Ok vian. dah," Riana pun menuju ke rumah bersama Dila.
Saat Dila dan Riana telah masuk ke rumah. Vian masuh saja menatap kolam ikannya. Vian berfikir bagaimana cara untuk menghapus foto tersebut dari Lisa.
Namun karena teringat perkataan dari Riana. Vian jadi sedikit tenang karena permasalahan pasti ada jalan keluar. Vian lalu mengambil makanan ikan dari tempat samping kolam ikan yang tertutup oleh sebuah plastik.
Vian lalu memberi makanan ikan dan melihat ikan yang berhamburan yang memakan makanan yang dilempari oleh Vian. Dengan cepat makanan tersebut habis tidak tersisa di permukaan air.
__ADS_1
Setelah beberapa lama Vian menyaksikan ikan di kolamnya. Vian lalu masuk kerumah untuk beristirahat.