KENANGAN SEDIH

KENANGAN SEDIH
BAGIAN 73 DAVID YANG CEMAS


__ADS_3

Vian tentu saja sangat panik dan cemas. Vian lalu minta maaf ke clientnya dan menceritakan kenapa dirinya menjadi panik.


"Saya mengerti Pak Vian. Saya turut berduka cita atas apa yang terjadi sama Dila. Mudah-mudahan Dila tidak terluka terlalu parah," ucap client Vian sambil untuk menenangkan Vian.


"Ya terima kasih Pak. Kalau begitu pertemuan kita, saya sudahi dulu Pak. Saya mau pulang ke rumah untuk menyiapkan keperluan saya. Saya mau ke tempat Dila dulu," Vian lalu berdiri dari tempat duduknya.


"Ya Pak Vian. Saya mengerti. Kalau begitu saya pamit dulu," ucap client Vian sambil menjabat tangan ke Vian.


Vian pun membalas jabatan tangan dan setelah itu client Vian pun keluar dari ruangan.


Vian pun segera menemui Fano di depan ruangannya.


"Fano. Aku mau pergi dulu untuk beberapa hari. Jika ada client ingin bertemu denganku, katakan saja aku sedang di rumah sakit menemani Dila," ucap Vian ke Fano yang nasih terlihat cemas.


Fano lalu bertanya apa yang terjadi. Vian pun menceritakan apa yang terjadi sama Dila.


"Iya Pak. Saya turut prihatin atas apa yang terjadi sama Dila," ucap Fano setelah mendengar cerita Vina.


"Terima kasih Fano. Kalau begitu aku berangkat dulu," Vian pun meninggalkan Fano.


Saat Vian yang terburu-buru berjalan untuk menuju ke mobilnya. Vian terhenti karena ada orang yang memanggilnya.


Vian menoleh ke arah suara tersebut. Dirinya melihat Riana sedang menuju ke arahnya.


"Vian. Kenapa kelihatan cemas gitu sih?" tanya Riana yang heran lihat Vian.


"Dila tertembak dan sekarang berada di rumah sakit di luar negeri."


"Serius Vian. Riana mau ke sana tengok Kak Dila," Riana terlihat cemas setelah mendengar perkataan Vian.


"Dia sedang di luar negeri untuk di rawat, lagi pula Riana harus latihan."


"Kan cuma tengok bentar Vian. Riana mau tengok Kak Dila. Kak Dila selama ini sudah baik sama Riana. Setidaknya sebentar jadilah tengok Kak Dila," ucap Riana yang mintak mohon ke Vian.


"Soal itu Riana tanya sama David. Tergantung David izinin atau tidak. Ya sudah, aku mau lanjut dulu Riana. Maaf ya Riana. Aku mesti buru-buru."


"Ya Vian. Riana mengerti kok. Riana akan bujuk Kak David untuk mengajak ke sana."


"Ya sudah. Dadah Sayangku," ucap Vian sambil tersenyum.


"Dadah juga Sayang. Hati-hati ya Sayang."


Vian pun tersenyum dan membelai rambut Riana. Orang pekerja yang ada di sekeliling melihat Vian membelai rambut Riana, mereka hanya tersenyum. Vian lalu meninggalkan Riana.

__ADS_1


Vian lalu menelvon supirnya dan menyuruh untuk siap-siap pulang. Saat Vian telah sampai di mobilnya. Supir Vian membuka pintu mobil untuk Vian. Saat mereka telah di dalam mobil. Mereka pun menuju pulang.


"Tumben Pak Vian. Jam segini sudah pulang?" tanya supir Vian sambil mengemudi.


"Dila tertembak dan aku mesti cepat-cepat menemuinya."


"Apa Pak..!! serius Pak? terus gimana kondisi Dila?" tanya supir yang tidak menyangka soal Dila.


"Ya soal itu aku belum tau pasti. Nantik aku tanya ke kru Dila saat tiba di sana."


"Semoga Dila tidak kenapa-napa Pak Vian."


"Iya. Aku berharap seperti itu. Terima Kasih," ucap Vian sambil memandang jam tangannya.


Setelah mereka sampai di rumah. Vian langsung menuju ke kamarnya dan memasukkan beberapa keperluan barangnya yang akan di bawak.


Setelah semuanya siap. Vian lalu melihat ponselnya. Vian mencek beberapa jadwal penerbangan, namun jadwal penerbangan yang di tengok sama Vian tidak ada jadwal sekarang untuk lepas landas.


"Sial. Jadwalnya semua besok pagi. Aku harus gimana. Apa harus menggunakan helikopter perusahaan. Tidak ada pilihan lain," ucap Vian berbicara pada dirinya sendiri.


Vian lalu menelvon sekretarisnya dan memintak pilot helikopter untuk siap-siap lepas landas dan untuk mendarat di belakang rumah Vian.


Di belakang rumah Vian yang terdapat danau buatan. Terdapat juga lapangan yang luas yang bisa mendaratkan helikopter.


Setelah mendarat. Vian lalu mendekati helikopter tersebut dan dirinya masuk beserta dengan kopernya.


Vian langsung duduk dengan memasang headset helikopter dan mereka langsung lepas landas.


***


Lokasi p****erusahaan RMD ruangan latihan Riana.


Riana yang sedang di latih sama Siva. Riana terlihat tidak fokus. Tentu saja membuat David yang dari tadi memperhatikan Riana latihan, David langsung mendatangi Riana.


"Riana. Kamu kenapa tidak fokus. Ada yang salah?" tanya David sambil mendekati Riana.


"Maaf Kak. Riana hanya kepikiran soal Kak Dila," jawab Riana yang menghentikan latihannya.


"Dila. Dila adeknya Vian?" tanya David lagi.


"Ya Kak. Tadi Riana berpapasan dengan Vian. Kak Vian bilang kalau Kak Dila tertembak."


"Apa ! Dila tertembak?" David terkejut dan sontak mengeluarkan suara yang agak keras.

__ADS_1


Karena suara David yang keras, satu ruangan pun menjadi kaget dan terkejut mendengar Dila tertembak.


Seluruh orang yang mendengar pun mendekati ke arah David.


"Pak David. Apakah benar dengan ucapan Pak David barusan?" tanya salah satu staff kerja pelatih.


"Aku tidak tau kali. Aku mendengar dari Riana. Riana ceritakan apa yang terjadi?" pintak David dengan cemas.


"Maaf Kak David. Riana tidak tau jelas karena Kak Vian kelihatannya terburu-buru kali. Yang pasti Kak Vian kelihatan sangat cemas dan ketakutan saat Riana lihat mukanya."


"Ya sudah, untuk latihan hari ini sampai di sini dulu. Besok kita lanjutkan lagi," ucap David memandang ke arah Riana.


"Siva. Aku duluan. Besok kita lanjut," setelah David memandang ke arah Siva, David lalu menuju ke pintu keluar ruangan.


"Kak Siva. Riana pamit dulu. Makasih Kak untuk hari ini."


Siva lalu menganguk dan melihat Riana mengikuti David menuju pintu keluar ruangan.


Setelah mereka keluar ruangan. David dan Riana beriringan jalan. Riana hanya mengikuti langkah David.


David yang mengarah ke tempat Fano. David semakin melajukan langkah kakinya. Mereka pun sampai di tempat Fano. Fano yang melihat David sedang menuju ke arahnya. Fano pun berdiri.


"Ada apa Pak David?" tanya Fano yang melihat muka David yang lagi cemas.


"Benarkah Dila tertembak?" tanya David sambil terlihat tegang.


"Benar Pak."


"Di mana Vian sekarang?" tanya David ke Fano.


"Dia sudah berangkat ke luar negeri. Dia sedang menuju ke rumah sakit tempat Dila berada."


"Rumah sakit di mana?" tanya David lagi.


"Rumah sakit terbesar yang ada di amerika Pak."


"Terima kasih atas informasinya."


"Sama-sama Pak David."


Setelah itu, David lalu meninggalkan Fano. David dan Riana menuju ke mobil David untuk pulang ke apartemen.


Selama di perjalanan, David mencoba mengemudikan mobilnya secara cepat menuju ke apartemen.

__ADS_1


__ADS_2