KENANGAN SEDIH

KENANGAN SEDIH
BAGIAN 80 RUMAH HANTU


__ADS_3

Vian bersama Riana setelah merasa puas berada di tempat wisata Waikiki. Mereka pun menuju ke ruang ganti pakaian masing-masing dan berjumpa di tempat yang telah di sepakati.


Saat mereka telah bertemu. Mereka pun menuju ke tepi jalan untuk mencari taksi.


"Gimana hari ini. Kamu puas Riana?" tanya Vian sambil melihat muka kekasihnya.


"Riana sangat puas. Terima kasih ya Vian," jawab Riana tersenyum.


"Masih ada lagi tempat yang akan kita tuju."


"Kemana kita?" tanya Riana dengan penasaran dan senang kalau Vian akan membawanya ke suatu tempat lagi.


"Kita ke Walt Disney World Resort. Apa lagi sekarang masih sore. Masih ada waktu untuk bermain ke sana."


Riana hanya menganguk iya dan terlihat sangat bersemangat. Saat sebuah taksi berhenti di depan mereka. Vian dan Riana segera masuk ke dalam taksi.


Vian mengasih tau tujuan mereka ke Walt Disney World Resort ke supir taksi. Taksi pun segera berangkat. Dalam perjalan Vian meminta ke supir taksi untuk mengantar tas yang di pegang sama Vian dan Riana ke rumah sakit setelah mereka sampai di Walt Disney. Supir taksi setuju dengan bayaran double.


Vian lalu mengambil ponsel dari saku celananya dan menelvon Fano. Tidak beberapa lama, Fano mengangkat televon dari Vian.


"Halo Vian," ucap Fano lewat telvon.


"Fano. Nanti ada taksi yang akan mengantarkan barang aku dan Riana. Aku akan kasih nomor kamu ke supir taksi agar dia menelvon kamu setelah sampai di depan rumah sakit," jawab Vian menjelaskan ke Fano.


"Baiklah. Kalian di mana?"


"Rahasia. Ok Fano. Aku hanya menyampaikan itu saja," Vian lalu menutup pembicaraanya lewat ponsel.


Vian lalu mengasih nomor Fano ke supir taksi tersebut.


"Vian kita jangan terlalu lama perginya. Kasihan Kak Dila," pinta Riana ke Vian.


"Tenang saja. Aku dari awal sudah bilang ke Dila kalau aku akan mengajak Riana jalan-jalan. Ya Dila tidak mempermasalahkannya. Setidaknya angap saja refresing. Riana kan sudah dengan keras latihan, jadi kita jalan-jalan untuk menghilangkan rasa capek di tempat kerja."


Riana hanya tertawa kecil mendengar perkataan Vian.


Tidak beberapa lama. Mereka pun sampai di tempat tujuan. Mereka segera keluar dari taksi. Saat Riana keluar dari taksi, Riana lagi-lagi di buat merasa senang dan kagum dengan pemandangan keadaan Walt Disney World.


Sebelum mereka menuju ke dalam. Vian menjelaskan ke supir taksi tempat alamat yang akan ditujukan untuk mengantarkan barang mereka.


Setelah itu Vian membayar jasa taksi. Taksi itu pun segera berangkat untuk mengantarkan barang mereka.


Mereka pun segera masuk ke dalam. Vian melihat Riana tidak sabaran masuk ke sana.


"Cepat lah sayang jalannya," desak Riana yang tidak sabaran.


Vian hanya tersenyum melihat tingkah Riana. Vian lalu membeli tiket masuk dan mereka masuk ke dalam wahana.


Riana melihat berbagai mainan dan makanan yang di jual. Riana lalu merengek ke Vian untuk di belikan permen kapas.


"Riana jauh-jauh datang ke sini yang ujungnya minta di belikan permen kapas," ucap Vian sambil tertawa.


"Biarin," jawab Riana sambil mengejek Vian.


Mereka pun menuju ke tempat penjual permen kapas. Vian lalu memesan dua.


"Tu kan mau juga," ucap Riana sambil tertawa.


Vian hanya tertawa dan menekan hidung Riana. Riana hanya pasrah dan terlihat manja seakan dirinya sudah terbiasa di gitukan oleh Vian.


Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan memegang permen kapas. Riana melihat mainan Roller Coaster. Vian lalu melihat pandangan Riana ke mainan tersebut.


"Riana mau mencoba permainan itu?" tanya Vian sambil menunjuk Roller Coaster tersebut.


Riana seakan ragu tapi dia ingin mencoba. Riana hanya bisa tersenyum.


"Kalau berani ayok."


"Hmmm. Ya deh. Tapi amankan Vian?" tanya Riana seakan cemas.


"Aman. Asal jangan mual saja nanti," jawab Vian sambil tertawa.


Riana menganguk iya dan mereka pun menuju ke tempat permainan tersebut. Saat giliran mereka tiba untuk naik ke wahana tersebut. Riana terlihat tegang sedangkan Vian terlihat santai.


Vian dan Riana duduk di depan dan mereka memasang sabuk pengaman.


Saat Roller Coaster mulai bergerak. Vian melihat muka Riana agak tegang. Dirinya mau tertawa tetapi takut kalau Riana marah ke dirinya.


Roller Coaster secara perlahan menanjak ke atas dengan perlahan. Saat mau turun, Roller Coaster itu pun dengan cepat bergerak turun dan semakin cepat. Riana semakin tegang namun menikmatinya. Ada sebagian orang yang berteriak menikmatinya. Riana dan Vian hanya diam sambil ke duanya memegang erat sabuk pengaman. Hempasan angin yang kuat membuat Riana semakin menikmatinya.


Setelah mainan tersebut berakhir. Mereka segera turun. Vian melihat Riana tidak merasa takut dan mual.

__ADS_1


"Hebat kamu Riana untuk pertama kali mencoba mainan Roller Coaster tidak merasa takut," ucap Vian sambil memegang kepala Riana.


"Pasti dong. Riana kan tidak penakut," jawab Riana dengan penuh percaya diri.


"Oh begitu. Kalau pemberani. Ayo kita menuju ke tempat mainan yang lebih menantang."


"Kemana?"


"Ikut saja," pinta Vian sambil memegang tangan Riana.


Mereka pun pergi ke tempat permainan lain. Riana hanya mengikuti langkah Vian.


"Vian. Sepertinya Vian sudah hafal letak tempat mainan," ucap Riana sambil melihat sekelilingnya.


"Sudah. Dulu waktu kecil sering diajak ayah ke sini dan waktu liburan kuliah juga ke sini."


"Pantasan saja."


Mereka berdua akhirnya sampai di tempat wahana rumah hantu. Vian melihat muka Riana seperti agak cemas.


"Gimana. Beranikah?" tanya Vian mengejek Riana.


"Siapa yang tidak berani. Riana merasa tidak takut," jawab Riana membalas ejekan Vian.


"Ya Sudah ayo masuk," pinta Vian.


Sebelum mereka masuk. Pihak keamanan pintu masuk rumah hantu memeriksa kondisi Vian dan Riana untuk mengecek jantung dan kesehatan mereka yang bertujuan untuk melarang pengunjung yang masuk bagi yang punya jantung lemah. Mereka pun lulus dalam cek jantung dan di persilahkan masuk.


Riana dan Vian segera masuk. Saat awal masuk. Suasana merasa mengancam. Asap yang mulai berterbangan di kaki mereka.


Aneh. Kok situasinya tidak seperti dulu. Apa sudah berubah. Aku harus berhati-hati. ucap Vian dalam hatinya.


Baru 10 langkah. Riana memeluk tangan Vian dengan ke dua tanganya. Vian hanya diam karena dirinya pun merasa sedikit tegang. Saat mereka. Mereka menelusuri ruangan berlorong dan atraksi pun di mulai.


Riana melihat seperti mayat hidup dan ada yang di gantung. Mayat yang di gantung itu bergerak seakan mau memegang badan Riana. Riana lalu menutup matanya dan hanya mengikut tubuh badan Vian. Vian merasakan gengaman tangan Riana yang sangat keras.


Mereka pun menuju ke lorong ruangan berikutnya. Awalnya Vian masih terlihat biasa saja yang bisa mengatasi rasa takutnya. Saat sedang jalan, Vian dan Riana melihat sesosok manusia yang berjalan menuju ke mereka.



Vian merasa panik. Saat pria itu telah dekat. Riana dan Vian menempelkan badannya ke dinding. Pria itu pun berjalan sambil menatap ke arah Vian dan Riana.


Jantung mereka berdetak kencang. Riana memeluk tangan Vian dengan keras. Setelah pria itu sudah menjauh. Vian dan Riana melanjutkan langkah kaki mereka.


Mereka melanjutkan langkah kakinya. Mereka sampai di ruangan yang penuh boneka. Riana melihat seorang kakek tua yang mengukir boneka. Kakek tua itu mukanya sangat hancur. Kakek itu pun tertawa sehingga suara tawanya mengeluarkan suara yang sangat menyeramkan.


Boneka yang lain mulai bergerak dan menyentuh kaki Riana. Riana lalu berteriak keras. Seluruh boneka yang ada di dalam ruangan ikut tertawa dengan suara khas masing-masing yang menyeramkan.


Vian lalu menutup telinganya karena Riana berteriak di dekat telinga Vian. Riana dan Vian mundur perlahan seketika melihat salah satu boneka membawa pisau yang sedang menuju ke arah mereka.


Mereka juga melihat boneka lainnya sedang melihat mereka dengan tatapan tajam seakan mau menyerang. Vian tidak memperdulikan boneka yang lain. Vian hanya terfokus pada boneka yang membawak pisau yang hampir mendekati mereka.


Semakin dekat. Boneka itu pun menutup matanya dan berkata dalam bahasa inggris. Vian mengerti ucapannya langsung menyuruh Riana untuk melewatinya. Mereka mempercepat langkah kaki.


"Apa kata boneka tadi?" tanya Riana dengan penasaran.


"Dia menyuruh kita untuk segera meninggalkan ruangan tersebut dalam hitungan 10 detik," jawab Vian yang masih terlihat pucat.


Saat mereka tiba di salah satu boneka. Vian makin terlihat pucat. Vian melihat 3 boneka yang tidak asing.



"Annabelle. Ini bahaya. Riana kita harus segera meninggalkan ruangan ini. Cepat Riana," Vian lalu mempercepat langkah kakinya.


Riana hanya mengikuti saran Vian. Saat mereka melewati boneka tersebut. Boneka yang di kenal sebagai nama annabelle memandang mereka dengan suara tertawa. Vian semakin mempercepat langkah kakinya sehingga Riana menjadi susah melangkah kakinya yang harus mengikuti langkah Vian yang begitu cepat.


"Kenapa Vian terlihat takut sekali" Riana tertawa mengejek Vian.


"Aku malas berurusan dengan boneka annabelle itu," jawab Vian yang memalingkan pandangannya ke arah lain.


Vian dan Riana melanjutkan petualangan mereka. Saat mereka sampai di ruangan, namun yang mereka temui bukan seperti ruangan tetapi seperti hutan.



Awalnya tidak ada yang aneh. Saat 20 langkah kaki mereka. Mereka di kejutkan oleh mayat yang keluar dari tanah. Vian melihat dari jauh seperti seseorang memakan mayat manusia.


"Z z zombie," ucap Vian sambil gemetar.


Riana tertawa melihat Vian yang gemetaran.


"Lari !" ucap Vian sambil memegang Riana.

__ADS_1


Zombie itu pun mengejar mereka berdua. Vian dan Riana berlari ke arah ruangan yang terlihat oleh cahaya terang.


Zombie itu hampir dekat dengan mereka berdua. Setelah mereka sampai di tempat cahaya itu. Vian segera menutup dengan pintu besi seperti pintu di penjara dan mengunci pintu tersebut yang memang di rancang untuk para orang masuk.


Saat pintu tertutup para zombie itu menekan pintu yang seakan mau menghancurkan pintu besi tersebut.


Vian yang melihat zombie tersebut perlahan mundur bersamaan dengan Riana. Vian menghela nafas dan mereka melanjutkan ruangan berikutnya.


Mereka sampai di ruangan yang tidak terawat. Mereka melihat banyak darah dan beberapa mayat yang tergeletak.



Tiba-tiba Riana dan Vian mendengar suara orang yang berteriak seakan merasakan kesakitan luar biasa. Vian melihat kain yang bergerak-gerak dalam bak mandi. Vian yang merasa penasaran lalu membuka kain putih tersebut. Tiba-tiba tubuh setengah badan bergerak dan memandang ke arah Vian.


Riana dan Vian melihat tersebut. Mereka langsung berlari namun mereka di kejutkan dengan kayak bayangan putih melintasi mereka berdua.


Beberapa kali mereka dikejutkan dengan bayangan-bayangan yang melintasi di depan dan di belakang mereka.


Mereka pun melajukan langkah kaki mereka. Riana dan Vian mencoba untuk berani meski sudah ketakutan.


"Kali ini apa," ucap Vian yang gemetaran saat melewati ujung lorong.


"Vian. Apakah aman kali ini?" Riana juga ikut mengigil.


"Ada cahaya merah di sana Riana," Vian berjalan pelan-pelan menuju cahaya merah tersebut.


Saat mereka sampai di ruangan tersebut. Mereka melihat bekas darah telapak tangan di dinding dan pintu besi.



Vian dan Riana berhenti saat melihat seseorang duduk di depan cermin. Vian lalu menelan air ludahnya. Vian dan Riana mencoba menuju pintu yang ada di samping pria tersebut.


"Permisi Kak," ucap Riana ke pria yang sedang duduk.


Pria itu menoleh mukanya ke Vian dan Riana.


"Tuh kan Riana. Kenapa di sapa. Tengok tu ha dia melihat ke arah kita," ucap Vian gemetaran.


"Maaf Vian," jawab Riana yang seakan suaranya mau hilang saking takutnya.


Pria itu berdiri dan masih terjulai usus di mulutnya bekas dia makan di atas mejanya. Vian dan Riana mundur perlahan.


Pria itu mendekat ke arah mereka. Pria itu pun mencoba mengendus bau Riana dan Vian. Lalu pria itu berteriak sehingga membuat Riana dan Vian ikut berteriak.


Secara reflek Vian mendorong pria tersebut dan mereka kabur lewat pintu.


Setelah mereka keluar dari ruangan tersebut. Mereka sampai di dalam ruangan yang agak sempit.



Vian dan Riana menghentikan langkahnya. Mereka melihat sosok wanita yang menjaga pintu di sampingnya.


Wanita itu seperti kejang-kejang dan dari mulutnya mengeluarkan seperti busa. Riana merasa jijik dan seakan mau mual.


Tiba-tiba sosok yang lain datang dari arah belakang mereka dengan gergaji mesin. Dinding tiba-tiba mengeluarkan darah dan suara menyeramkan muncul.


Karena Vian cemas melihat seseorang dengan gergaji mesin tersebut yang mendekati mereka. Vian tidak memperdulikan wanita yang menjaga pintu tersebut. Vian langsung mendorong wanita itu dan membuka pintu sebelum pria dengan gergaji mesin makin mendekati mereka.


Riana hanya mencoba tidak berpaling ke arah lain agar rasa takutnya tidak sampai ke puncak.


Mereka pun saat keluar dari ruangan itu. Mereka melihat lorong dan ujung lorong itu bercahaya.


Saat mereka sampai di cahaya tersebut. Mereka akhirnya keluar dari tempat rumah hantu tersebut.


Vian melihat bangku dan mengajak Riana duduk. Seluruh tubuh Vian masih mengeluarkan keringat dingin sedangkan Riana masih gemetaran.


"Sudah Vian. Riana tidak mau masuk lagi ke sana. Cukup ini terakhir," ucap Riana dengan suara yang kecil.


"Ya Riana. Kita tidak akan ke tempat itu lagi," Vian lalu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.


Tidak beberapa lama setelah mereka berdua kembali normal. Vian lalu mengajak Riana ke tempat restoran kecil.


Saat mereka masuk. Mereka segera duduk dan memesan makanan. Riana masih melihat muka Vian yang sedikit pucat.


Riana lalu mengambil tisu dari dompetnya dan menlap muka Vian. Vian lalu tersenyum manja karena mukanya di lap sama Riana.


"Tempat tadi seperti asli ya Vian. Kayak mayat dan bentuk kostumnya," ucap Riana sambil tertawa.


"Iya. Sangat mirip sekali. Aku tidak sangka ada boneka Annabelle di sana. Untung tidak ada boneka Chucky," jawab Vian sambil membuang nafas panjang dari mulutnya.


Setelah beberapa lama. Pesanan mereka datang. Vian dan Riana segera menyantap makanan mereka masing-masing.

__ADS_1


*** Hay kakak. Di episode selanjutnya masih ada kisah momen mereka di wahana Disney. Ikuti terus kisahnya di novel 'Kenangan Sedih'. Jangan lupa Like dan Vote ya para pembaca setia ***


__ADS_2