KENANGAN SEDIH

KENANGAN SEDIH
BAGIAN 41 HARAPAN YANG HANCUR


__ADS_3

Pagi pun tiba. Riana terbangun dari tidurnya lalu melihat jam dinding. Riana melihat jam 5.30 lalu membangunkan Dila.


"Kak bangun. Udah pagi loh Kak," Riana mengoncang tubuh Dila.


Dila pun terbangun dari tidurnya. Dila yang melihat Riana setengah sadar dari tidurnya, berusaha untuk bangkit.


"Kak. Udah pagi ini. Bangun."


"Iya Riana. Kak bangun ini," Dila berusaha untuk membuka matanya.


"Kak. Riana ingin mandi dulu," tanya Riana sambil turun dari tempat tidur.


"Iya Riana. Lanjut aja."


Setelah Riana selesai mandi. Dila pun siap-siap untuk mandi. Riana mandi segera memasang pakaian dan menunggu Dila selesai mandi.


Saat Dila selesai mandi dan berpakaian. Dila dan Riana segera turun untuk sarapan pagi. Riana yang melihat sekelilingnya tidak melihat Vian di tempat ruang makan.


"Kak Dila. Kak Vian kemana?" tanya Riana sambil melihat sekelilingnya.


"Vian kalau jam segini. Dia sedang menikmati minuman susu panas di teras depan rumah."


Riana hanya menganguk. Lalu mereka berdua duduk di meja makan dan segera makan.


"Riana. Audisinya akan di mulai pagi ini. Mungkin jam 10 pagi udah pembukaan," ucap dila sambil menyantap makanannya.


"Gitu Kak. Berarti Riana harus buruh-buruh ni Kak."


"Ya sih. Jadi kamu harus siap-siap juga untuk persiapan. Riana meski kita berkawan. Kak tidak bisa membantumu untuk meluluskan audisi. Kamu harus berjuang sendiri ya Riana. Kak hanya bisa membantu dalam memberi dukungan aja," ucap Dila sambil tersenyum ke Riana.


"Terima kasih Kak sudah memberi semangatnya. Kalau soal itu, Riana tidak ingin dibantu diluluskan Kak. Riana ingin lulus dengan hasil jerih payah Riana sendiri Kak," Riana yang memandang Dila dengan senyum.


Setelah mereka berdua telah selesai makan. Mereka berdua pergi ke teras depan. Riana lalu melihat Vian sudah menggunakan pakaian jas hitam kerja.

__ADS_1


"Pagi Kak Vian," sapa Riana dengan senyuman.


"Ehh Riana dan Dila. Pagi juga Riana," Vian lalu meletakkan ponselnya di meja.


"Riana sama Kak Vian aja ya. Kak ada urusan penting di kantor sekarang. Dadah Kak Vian dan Riana," Dila pun segera menuju ke tempat garasi mobil.


"Siap Kak. Kak hati-hati ya di jalan," Riana lalu melambaikan tangan ke Dila.


Setelah Vian dan Riana melihat mobil Dila telah pergi. Vian lalu mengarahkan mukanya ke Riana yang sedang duduk.


"Riana. Mau minum?" tanya Vian sambil mengangkat minumannya.


"Tidak Vian. Riana sudah kenyang."


"Jadi. Gimana denganmu Riana. Apa siap untuk audisinya?" tanya Vian sambil menghabiskan minumannya.


"Siap lah Vian."


"Ingat Riana. Jangan kecewakan pengemarmu ini," ucap Vian sambil tertawa.


Setelah mereka lama mengobrol. Vian lalu menyuruh supirnya untuk memparkirkan mobilnya di depan mereka duduk. Setelah mobilnya telah di parkirkan depan mereka. Vian lalu memberi perintah, kalau dia ingin menyetir sendiri.


Vian dan Riana masuk ke mobil, lalu mereka pun berangkat menuju ke perusahaan RMD. Supir Vian tidak lagi mengingat Riana. Kalau Riana adalah kawan masa kecil Rey.


Vian dan Riana pun sampai ke perusahaan RMD. Vian lalu mengarahkan mobilnya di depan teras perusahaan. Setelah Riana turun dari mobil. Riana lalu menutup pintu mobil. Vian lalu membuka jendela kaca.


"Riana kamu duluan saja. Setelah kamu masuk. Langsung saja menuju ke lantai paling atas. Lantai 18. Di sana sudah dipasang petunjuk arah ke ruangan audisi," ucap Vian yang masih dalam mobil.


"Ya Vian. Makasih ya Vian sudah beri tumpangan."


"Riana bisa pakai ponselkan?" tanya Vian sambil mengarahkan badannya ke pintu tempat Riana berdiri di luar mobil.


"Kalau ponsel cangih. Riana tidak bisa Vian. Kalau ponsel biasa dulu bisa cuman sudah hancur," ucap Riana sambil tertawa.

__ADS_1


"Ini kamu pegang," Vian lalu memberikan ponsel biasa ke Riana yang bukan smartphone. Karena Riana dulu mengasih tau kalau dia dulu pernah pakai ponsel biasa ke Vian.


"Kenapa Vian meminjamkan ke Riana?" tanya Riana dengan bingung melihat Vian.


"Sudah, pakai saja. Nantik kasih kabar ya, gimana hasilnya."


Lalu Riana menerima ponsel tersebut. Vian mengambil kertas dan pena dalam laci mobilnya. Lalu Vian menulis sesuatu di kertas tersebut. Riana hanya melihat Vian dari pintu jendela mobil yang telah dibuka Vian.


"Ini nomor kartuku. Kabarin nantik ya. Aku menunggu kabar darimu Riana. Aku berangkat dulu. Ada urusan penting. Dah Riana," ucap Vian sambil memberikan kertas ke Riana.


"Dah Vian. Hati-hati ya Vian," ucap Riana sambil menerima hp dari Vian dan kertas yang ditulis oleh Vian.


Setelah itu Vian melanjutkan pergi dengan mobilnya menuju ke jalan. Riana lalu masuk ke dalam perusahaan.


Saat Riana baru saja masuk. Riana berlarian karena tidak sabar menuju ruang audisi. Tiba-tiba Riana tidak melihat orang yang di depannya. Riana menabrak bahu pria tersebut. Riana terjatuh dan pemuda itu hanya melihat Riana terjatuh. Lalu pria itu mengusap bahu bajunya yang tersengol oleh Riana dengan tangannya.


Riana hanya melihat pemuda itu dan langsung berdiri.


"Hei..!! Aku bukan penyebar penyakit. Gak usah terlalu seperti itu," Riana melihat pria itu dengan tatapan marah.


Pria itu tidak mengeluarkan kata-kata, bahkan tidak melihat ke arah Riana sedikit pun. Lalu pria itu segera pergi meninggalkan Riana.


"Hei..katakan sesuatu atau mintak maaf," Riana mengucapkan dengan suara keras yang melihat pria itu pergi.


Pria itu tetap melanjutkan jalannya tampa memandang Riana. Riana lalu melanjutkan langkah kakinya ke lantai 18. Setelah sampai ke lantai 18. Riana melihat banyak orang berdiri, lalu Riana mengambil nomor antrian yang terakhir.


Beberapa jam telah berlalu. Riana duduk sambil menunggu namanya dipanggil. Akhirnya nama Riana dipanggil.


Riana lalu masuk ke ruangan. Riana melihat satu juri yang duduk ternyata pria yang ditabrak oleh Riana tadi. Pria itu tidak merespone Riana. Laki-laki itu pun bilang kalau audisi udah tutup.


Riana lalu terkejut seakan tidak percaya apa yang dikatakan laki-laki itu. Pria itu pun segera keluar dari ruangan melewati Riana begitu saja.


Riana yang masih dalam ruangan. Langsung jongkok sambil melilitkan tangannya ke badannya. Lalu air mata Riana keluar. Riana tidak menyangka akan jadi seperti ini. Riana yang masih menangis dalam ruangan dengan sendirinya.

__ADS_1


Riana masih dalam kesedihannya. Harapan satu-satunya yang ingin dia wujudkan untuk menolong ibunya dan hutang ibunya telah hancur. Riana mengusap air matanya dan segera berdiri dan meninggalkan ruangan tersebut dengan tangan yang masih dililitkan ke badannya.


Riana lalu membuka pintu ruang audisi dan keluar. Riana lalu melihat tangga yang mengarah ke atas gedung. Riana lalu berjalan menelusuri melewati tangga tersebut yang masih dalam keadaan air mata yang keluar.


__ADS_2