
Vian yang sedang mengemudi mobilnya yang mau mengarah ke penginapan. Vian masih penasaran dengan tempat saat dirinya bersama Riana bersandar di pohon kelapa di siang hari.
Vian yang penasaran, lalu memutar balik mobilnya menuju tempat tersebut. Setelah lama mengemudi. Vian melihat dari jauh, tempat saat dia bersama Riana. Vian memakirkan mobil di tepi jalan dan segera turun dari mobil.
Vian yang mengarah ke tepi laut dan memandang tempat dia bersama Riana bersandar di pohon kelapa.
Mata Vian yang sedang melihat laut, seakan-akan dirinya merindukan sosok tempat ini. Air mata Vian mengalir dengan sendirinya
Ada apa dengan tempat ini. Kenapa aku merindukan tempat ini. Apa aku pernah ke sini sebelumnya. Tapi aku tidak ingat apapun yang terjadi di sini. Ucap Vian dalam hati sambil melihat kelaut lepas.
Tiba-tiba kepala Vian terasa sakit, sehingga membuat Vian memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
Vian merasakan samar-samar ingatan wanita kecil dalam ingatannya. Kilatan ingatan yang dirasakan Vian begitu cepat, namun Vian tidak bisa mengigat jelas kilatan ingatan tersebut.
Setelah kilatan ingatan itu hilang dari pikiran Vian. Rasa sakit di kepalanya pun hilang. Vian pun melepaskan tanganya dari kepalanya.
Vian pun menjadi sangat heran dengan dirinya sendiri, seakan ada sesuatu yang membuat dirinya penasaran.
Setelah sekian lama Vian berdiri di tepi laut. Vian lalu menuju ke mobilnya dan sebelum masuk ke mobil. Vian memalingkan pandanganny ke tempat tersebut dan Vian lanjut masuk ke dalam mobil. Vian pun segera meninggalkan tempat tersebut.
Vian menuju ke tempat penginapan dengan perasaan gundah dengan kesedihan yang pernah dia rasa, namun Vian masih tidak tau apa yang dia rasakan.
Vian lalu melihat jam tangannya yang menujukkan jam 23.30 Wib. Vian lalu menambah kecepatan mobilnya menuju ke penginapan.
Setelah Vian sampai ke penginapan. Vian menuju ke kamarnya. Vian lalu membuka baju kemejanya dan hanya menggunakan baju kaos dan celana training yang dia simpan di mobil. Sebelum Vian tidur. Vian duduk di tepi tempat tidurnya. Vian masih memegang kepala keduanya sambil tertunduk.
Hari ini terlalu banyak misteri yang tidak bisa kupahami. Aku merasa mimpi itu terasa nyata sekali. Ucap Vian dalam batinnya.
Vian lalu menyandarkan tubuhnya ke tempat tidur dan mulai memejamkan matanya.
Pagi pun tiba. Tiba-tiba ponsel Vian berdering. Vian pun terjaga dari tidurnya. Vian mengambil ponselnya. Ternyata yang menelvonnya adalah Riana.
"Halo Riana. Ada apa?" tanya Vian melalui ponselnya.
"Udah bangun kamu Vian?" tanya balik Riana.
"Baru terjaga karena ponsel berdering."
__ADS_1
"Udah jam sembilan pagi loh Vian. Jam berapa kita ke kota Blinda?" tanya Riana sambil tertawa melalui ponsel.
"Hmm. Ya udah. Ku segera mandi dan ke sana. Riana tunggu di mana?" tanya Vian sambil berdiri dari tempat tidur.
"Di rumah saja. Soalnya ibu tidak jualan hari ini."
"Ya sudah. Tunggu di sana ya."
"Ok Vian. Dadah Vian."
"Dadah Kekasihku," Vian lalu mematikan ponselnya.
Vian lalu menuju menuju ke mobil. Vian mengambil baju ganti yang digantung di belakang kursi belakang mobil. Setelah itu Vian menuju ke kamarnya untuk mandi.
Setelah selesai mandi dan ganti pakaian. Vian lalu merapikan barang pribadinya yang ada di kamar tersebut. Vian lalu menuju ke Resepsionis dan mengasih kunci kamar.
Setelah itu Vian menuju ke tempat mobilnya. Sebelum ke rumah Riana. Vian menuju ke tempat pengisian bahan bensin untuk mobilnya.
Vian pun tiba di rumah Riana. Vian turun dari mobil dan menuju ke pintu masuk rumah Riana. Vian mengucapkan salam. Tidak lama kemudian, Riana tiba di depan pintu.
Vian pun masuk dan melihat ibu Riana sedang duduk sambil menonton berita.
"Pagi Bu," Vian mendatangi ibu Riana dan menyalaminya.
"Pagi juga Nak Vian. Jadi kalian berangkat jam berapa?" tanya ibunya Riana yang memandang Vian.
"Bentar lagi Bu."
"Kalau begitu ibu titip Riana ya Vian."
"Ya Bu. Vian akan menjaga Riana," jawab Vian sambil tersenyum ke ibu Riana.
Riana lalu membawak tas dari dalam kamarnya. Vian yang melihat Riana membawak tas. Vian lalu menuju ke arah Riana dan mengambil tas Riana, lalu Vian memasukkan tas Riana ke mobilnya.
Setelah itu Vian masuk ke rumah Riana untuk mengobrol bersama ibu Riana.
"Riana jaga diri baik-baik di sana," pintak ibu Riana ke Riana.
__ADS_1
"Ya Bu. Ibu kalau ada apa-apa, hubungi Riana ya Bu. Riana pakai ponsel yang dipinjamin Vian kok Bu," Riana melihat ponselnya ke ibunya.
"Jangan terlalu banyak merepotkan Vian, Riana."
"Tidak apa-apa kok Bu. Riana tidak merepotkan kok di sana Bu," ucap Vian yang menjawab perkataan ibunya Riana.
"Riana. Beri yang terbaik ya untuk nyanyi dan jangan berbuat ulah di sana. Kalau ada waktu luang. Kunjungi Ibu ya."
"Ya Bu. Ibu jaga diri baik-baik. Riana akan pulang kalau ada waktu luang Bu," Riana lalu memeluk ibunya.
"Ya udah. Berangkat lah kalian lagi. Udah kesiangan ini," pintak ibu Riana.
"Ya Bu. Vian yok," ucap Riana sambil menuju ke deoan teras rumahnya.
"Titip Riana ya Nak Vian," ucap ibu Riana sambil memandang Vian.
"Ya Bu. Serahkan sama Vian."
Vian dan Riana menyalami tangan ibu Riana dan Riana mengasih nomor kartu ponselnya ke ibunya. Lalu mereka pun menuju ke mobil. Vian dan Riana melambaikan tangan. Ibu Riana tersenyum melihat tingkah mereka berdua.
Vian dan Riana pergi. Di dalam perjalanan seperti biasa. Vian mencari supermarket terlebih dahulu. Saat Vian melihat supermarket. Vian memberhentikan mobilnya di depan teras supermarket.
Vian dan riana masuk ke supermarket dan memilih bahan makanan snack dan minuman. Setelah selesai memilih. Vian dan Riana membayar ke kasir dan segera menuju ke mobil.
Di saat perjalanan. Riana membahas soal audisi ke Vian.
"Vian. Bukankah banyak penyanyi berpotensi yang dimiliki oleh perusahaan RMD. Kenapa mesti cari penyanyi yang baru?" tanya Riana sambil mengemil makanan.
"Mereka sedang menjalani kontrak dengan perusahaan lain. Ya ada juga sedang mengalami masalah dalam dunia maya berbagai gosip, jadi perusahaan tidak bisa memakainya. Kalau juga dipakai, itu akan berdampak dalam album baru. Makanya perusahaan membutuhkan personil baru yang berpotensi dan tidak ada masalah dalam dunia maya. Seperti dirimu lah Riana. Berpotensi dan tidak ada masalah sedikit pun." ucap Vian yang menjelaskan ke Riana.
"Jadi begitu. Kalau direktur perusahaan RMD seperti apa orangnya?"
"Hmm menurut Riana, seperti apa?" tanya Vian sambil tertawa.
"Ya menurut Riana sih. Pasti direktur perusahaan RMD sudah tua, pelupa dan pemarah. Jalannya pasti pelan," ucap Riana sambil tertawa.
Vian yang mendengarkan perkataan Riana soal direktur perusahaan RMD menjadi tertawa. Riana yang melihat Vian tertawa, Riana pun ikut tertawa.
__ADS_1