
Angin yang berhembus di antara Vian dan Riana. Vian yang melihat Riana dengan tatapannya yang mengarahkan ke lautan lepas. Vian melihat tatapan Riana yang masih setia menunggu Rey.
Vian lalu memeluk Riana dengan posisi duduk menyandar dipohon. Riana yang merasakan pelukan Vian. Riana merasa sangat nyaman dengan pelukan Vian. Riana lalu menyandarkan badannya ke dada Vian.
Riana lalu mengarahkan mukanya ke muka Vian. Riana melihat Vian yang melihat kearah laut.
Vian. Apakah kamu sebenarnya Rey? aku merasa dirimu sangat mirip dengan Rey. Tempatmu duduk sekarang adalah tempat persis dimana Rey duduk. Gaya sandaranmu sama dengan Rey. Gayamu memperlakukanku sama dengan Rey. Apakah Vian adalah Rey?. Ucap Riana dalam batinnya yang memandang Vian.
"Vian," ucap Riana dengan manja ke Vian.
Vian yang mendengar Riana memanggilnya. Vian lalu memalingkan mukanya ke arah Riana. Vian hanya tersenyum sambil mengelus rambut Riana. Tentu saja Riana makin merasa nyaman.
"Vian. Apakah kita masih bisa merasakan seperti ini jika nantik Riana jarang bertemu dengan Vian lagi."
"Bisa. Tentu saja bisa. Jika David melarang. Aku akan membawakmu diam-diam," ucap Vian yang menyandarkan kepalanya ke kepala Riana.
Vian lalu memeluk erat Riana yang sedang bersandar di dadanya Vian. Suasana yang sangat tenang membuat mereka dalam lamunan mesra.
"Riana," Vian lalu mengarahkan tanganya ke dagu Riana, lalu mengangkat muka Riana ke hadapan mukanya.
"Iya Vian?" tanya Riana yang melihat mata Vian.
"Aku mencintaimu," ucap Vian dengan tatapan seriusnya.
Riana yang mendengar perkataan Vian. Terdiam sejenak dan tidak percaya, kalau Vian menyukainya.
"Aku juga mencintaimu Vian," ucap Riana dengan tersenyum manis ke Vian.
Disaat itu Vian lalu mendekatkan mukanya ke Riana. Mereka pun berciuman dan Riana menutup matanya, begitu juga dengan Vian yang menutup matanya.
"Vian," ucap Riana yang melepaskan bibirnya dari bibir Vian secara perlahan.
"Vian. Jangan tinggalkan aku seorang diri," dengan muka tertunduk.
"Tidak Riana. Aku ingin kamu yang terakhir dalam cintaku. Aku sayang kepadamu. Aku akan selalu berusaha membuatmu bahagia," Vian lalu mengangkat muka Riana yang tertunduk.
Riana yang mendengar perkataan Vian. Langsung saja Riana tersenyum dan memejamkan matanya dalam sandaran Vian.
Vian yang melihat Riana yang tertidur. Vian lalu memejamkan matanya juga. Suasana yang tenang dan nyaman, membuat kedua pasangan kekasih tersebut tertidur.
Kelvin yang melihat dari jauh yang bersembunyi dibalik pohon yang dari tadi memperhatikan Riana dan Vian. Segera meninggalkan tempat tersebut dengan perasaan sedih.
Hari pun mulai petang. Riana yang terbangun dari tidurnya. Riana membangunkan Vian. Vian lalu terjaga dari tidurnya. Vian melihat Riana berdiri di hadapannya. Vian pun ikut berdiri.
__ADS_1
"Udah petang rupanya," ucap Vian yang melihat langit yang berwarna merah muda yang dipancarkan oleh sinar matahari yang mulai tengelam.
Vian lalu yang memandang suasana matahari yang tengelam bersama Riana. Vian sangat kagum dengan pemandangan tersebut. Vian lalu memegang erat tangan Riana.
"Sekarang kamu adalah kekasihku. Riana."
"Iya Vian. Begitu juga denganmu Vian. Kamu adalah kekasihku."
Mereka pun menyaksikan matahari yang tengelam dengan burung camar yang terbang kesana kemari.
Riana mengambil sepeda dan saat mereka mau pulang. Vian lalu memalingkan mukanya ke belakang, menghadap ke laut.
"Ada apa Vian?" tanya Riana yang melihat keheranan ke Vian.
"Tidak ada apa-apa. Seakan aku merasakan sesuatu. Tapi apa," ucap Vian dengan perasaan ada yang aneh dalam dirinya.
Riana hanya heran ke Vian. Lalu mereka melanjutkan perjalanan menuju ke rumah. Setelah mereka sampai di rumah. Ibu Riana menunggu di depan teras rumah.
"Maafkan kami Bu. Kami terlambat pulang. Kami menyaksikan matahari tengelam," ucap Vian dengan sopan.
"Ya udah, tidak apa-apa. Lagi pula Riana kan bersama Vian. Jadi Ibu tidak khawatir."
"Terima kasih Bu," jawab Vian.
Vian dan Riana masuk ke rumah. Ibu Riana lalu menyuruh Vian untuk mandi.
"Ini handuk almarhum ayahnya Riana. Pakai saja. Kamar mandi ada di belakang dekat dapur."
"Ya Bu. Terima kasih," lalu Vian mengarah ke kamar mandi.
Setelah Vian selesai mandi. Riana lalu gantian ke kamar mandi. Saat malam hari, Riana lalu menyuruh Vian untuk makan. Mereka bertiga pun makan bersama-sama.
Mereka mengobrol bertiga sambil makan. Riana membahas obrolannya dengan pertemuannya dengan Vian ke ibunya. Mereka bertiga sangat menikmati suasa makan malam.
Saat selesai makan. Vian permisi pamit ke ibu Riana. Riana lalu memintak izin ke ibunya untuk mengantar Vian karena Vian belum terbiasa dengan lokasi desa Teluk Bintang. Ibunya pun memberi izin ke Riana.
Saat mereka sedang jalan. Riana melihat Kevin. Riana lalu memanggil Kevin.
"Vin. Sedang apa kamu di sana?" Riana berteriak memanggil Kevin.
Kevin yang mendengar suara namanya dipanggil. Kevin lalu melihat Riana dengan Vian mendekati mereka.
"Mau ke mana Kevin?" tanya Riana.
__ADS_1
"Mau jalan-jalan saja."
"Oh iya. Perkenalkan ini Vian. Vian ini Kevin," ucap Riana yang memperkenalkan diantara mereka berdua.
"Salam kenal. Saya Vian," ucap Vian memperkenalkan dirinya.
"Saya Kevin. Kalian mau ke mana?" tanya Kevin memandang Vian.
"Riana mau mengantar Vian. Maklum Vin. Vian belum terbiasa daerah sini."
"Gitu. Ya udah yok aku temanin juga," pintak Kevin ke Riana.
"Ya deh Vin. Yok Vian. Kita lanjutkan perjalanannya."
Mereka pun segera melanjutkan perjalanan. Setelah mereka bertiga sampai di mobil Vian. Vian lalu mengucapkan terima kasih ke Riana dan Kevin yang sudah mau menemaninya dan Vian lalu pergi dengan mobilnya mengarah ke penginapan.
Riana melanjutkan pulang ke rumah dengan ditemankan oleh Kevin.
"Riana. Kamu terlihat senang bersama Vian. Ku perhatikan dari tadi," ucap Kevin sambil mengiringi Riana.
"Gak tau kenapa. Hanya saja, nyaman bersamanya."
"Jadi menurutmu dia nyaman. Kaliankan baru beberapa kali bertemu. Kok bisa nyaman?" tanya Kevin dengan penasaran.
"Aku juga bingung. Kadang Riana bertanya ke diri-sendiri. Kenapa dia bisa membuat Riana begitu nyaman," ucap Riana yang berjalan sambil dorong sepeda.
"Yakin kamu berkawan dengannya?" tanya Kevin dengan perasaan cemburu.
"Iya aku yakin dengannya. Aku merasa dia orang yang kucari untuk membuatku merasa bahagia. Kevin mendukung Riana kan?" tanya Riana sambik melihat ke arah Kevin.
"Riana. Gimana aku mau mendukung. Kalau aku juga mempunyai rasa suka ke kamu Riana."
Riana yang mendengarkan perkataan Vian, memberhentikan langkahnya dan memandang ke arah Kevin.
"Vin. Apa aku tidak salah dengar, apa yang baru saja kamu katakan?" tanya Riana dengan heran.
"Tidak. Aku hanya menyatakan perasaanku saja," ucap Kevin dengan memalingkan kepalanya dari pandangan Riana.
"Vin. Aku berterima kasih kamu menyukaiku. Tapi maaf. Selama ini aku hanya mengangapmu sebagai teman. Maaf Vin. hanya itu, tidak lebih," lalu Riana melanjutkan langkah kakinya.
Kevin tidak merespone perkataan Riana. Kevin hanya tertunduk kecewa. Kevin pun ikut melangkahkan kakinya, mengiringi Riana dari samping. Kevin dan Riana hanya dia membisu.
Setelah mereka sampai di rumah Riana. Riana lalu mengajak Kevin masuk, namun Kevin menolak dengan alasan masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Kevin pun pamit ke Riana. Melihat Kevin pergi, Riana pun masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1