KENANGAN SEDIH

KENANGAN SEDIH
BAGIAN 70 DAVID YANG DULU


__ADS_3

Dila melihat Vian yang bersedih. Dila lalu mendekatkan kursinya ke arah Vian.


"Kak Vian kenapa?" tanya Dila yang tidak sanggup melihat Vian bersedih.


"Kita ke belakang rumah saja dekat danau. Aku akan bercerita di sana."


Vian lalu pergi ke belakang rumahnya. Jarak rumah Vian dan Danau di rumahnya tidak begitu jauh. Di sana tempat ayahnya Vian memancing.


Setelah mereka sampai di tepi danau. Vian lalu duduk dan Dila juga ikut duduk di sampingnya.


"Dil. Ayah punya permintaan ke aku. Aku tidak bisa mengikuti saran Ayah sekali ini," ucap Vian sambil melempari batu ke arah danau.


"Permintaan apa Ayah ke Kak?" tanya Dila dengan rasa penasaran yang membuat Vian menangis.


"Ayah mau menjodohkan Aku dengan Lisa."


Dila yang mendengar perkataan Vian, Dila seakan tidak percaya.


"Serius Kak. Kenapa Ayah seperti itu. Terus Kak bilang apa ke Ayah?" tanya Dila sambil megang tangan Vian yang sedikit gemetaran.


Aku tidak pernah melihat Vian seperti ini. Orang yang selalu kuat di setiap masalahnya, namun sekali ini Vian terlihat ketakutan dan cemas. Ucap Dila dalam hatinya.


"Ayah dan ayahnya Lisa sudah lama ingin menjodohkan aku sama Lisa. Aku tidak tau, apakah Lisa tau soal ini atau tidak. Yang pasti aku tidak mau," ucap Vian yang masih melempari batu ke danau.


"Dila akan coba bilang ke Ayah, agar menghentikan niatnya dalam menjodohkan Kak sama Lisa."


"Tidak akan bisa. Dila tau sendiri ayah seperti apa. Setiap keinginan dia mesti dilaksanakan. Ayah sangat keras Dil," Vian lalu melihat ke arah Dila.


Dila memang sudah tau kalau ayahnya memang keras dan tidak bisa dibantah oleh siapapun.


"Terus Kak akan pasrah?" tanya Dila yang ikut sedih mendengar masalah Vian.


"Ya tidak Dil. Aku akan mencoba menghentikan perjodohan ini. Aku tidak mau kehilangan Riana," ucap Vian dengan muka sambil tertunduk.


"Tidak mau kehilangan Riana? maksudnya Kak seperti apa?" Dila pun menjadi heran.

__ADS_1


"Aku sama Riana sudah berpacaran. Maaf aku tidak kasih tau," Vian memalingkan mukanya.


"Kak pacaran sama Riana. Bagi Dila sih tidak masalah Kak. Dila juga setuju kalau Kak sama Riana. Jadi, apakah Kak akan bahas soal perjodohan ini ke Riana?" tanya Dila sambil ikut melempari batu ke danau.


"Tidak Dil. Aku tidak mau membuat beban ke dalam pikiran Riana. Dia sedang latihan dan itu butuh pikiran yang fresh. Tenang saja, aku akan berusaha mencari jalan keluar agar perhodohan ini batal."


"Ya Kak. Dila juga akan membantu."


"Terima kasih Dila. Kamu memang adekku yang terbaik," ucap Vian sambil melihat wajah Dila.


"Tapi maksud Ayah, untuk apa dia menjodohkan Kak sama Lisa?" tanya Dila.


"Kata ayah, agar perusahaan Ayah Lisa dan perusahaan RMD bisa memjadi satu."


"Jadi Kak seperti di jual gitu? maaf kak pertanyaan Dila seperti itu."


"Ya tidak apa-apa. Dila bilang seperti itu. Itu memang adalah kenyataannya. Memang seperti aku di jual," Vian mengeluarkan kata seakan marah.


"Jadi karena itu Kak cepat pulang. Dila menjadi mengerti soal kesedihan dan kenapa Kak cepat pulang."


"Ya ada sih Kak. Dia masih bersama David untuk latihan. Kenapa Kak? Kak cemburu ya?" tanya Dila sambil tertawa mencoba mendinginkan suasana.


"Hahaha...tidak Dila. Hanya sekedar bertanya. Kenapa cemburu sama David. Dia adalah temanku dari sekolah dulu," Vian menjadi semakin malu ke Dila.


"Tapi Kak David itu banyak yang mengatakan kalau dia pendingin ke orang."


"Dia dulu tidak seperti itu. Waktu sekolah dia orang yang suka bercanda. Dia aktif dalam berbagai hal. Dulu ada orang dia cintai. Namun saat mereka tidak bersama lagi. David berubah. Dia menjadi pendiam. Dia asal dekat wanita, dia tidak suka. Aku bertanya ke David, soal mereka tidak bersama. Namun David diam dan tidak mau menceritakan. Sejak itulah David yang di kenal suka periang ke orang menjadi pendingin ke orang," ucap Vian yang menjelaskan ke Dila.


"Jadi karena itu. Bisa jadi David sangat menyayangi dan mencintai wanita tersebut tapi malah di khianati, makanya David berubah."


"Iya. Kamu benar Dila. Terkadang aku ingin melihat dia seperti dulu lagi. Aku sudah berusaha tapi asal bahas wanita itu. Aku melihat dia sedih dan marah. Sempat sih dia marah ke aku. Namun sejak dia marah, aku tidak pernah membahas soal itu lagi. Sampai sekarang aku masih tidak mempertanyakan."


"Memangnya siapa nama kekasih David dulu Kak?" tanya Dila dengan penasaran.


"Namanya adalah Sita. Aku masih ingat muka Sita. David dulu kalau bercerita soal Sita. Dia menjadi sangat semangat. Tapi sekarang marah jika aku cerita soal Sita. Aku masih penasaran. Ke mana Sita, kalau jumpa pasti aku akan menanyakan soal mereka berpisah."

__ADS_1


"Jangan terlalu ikut campur Kak soal mereka," Dila lalu tertawa.


"Bukan ikut campur atau penasaran. Tapi aku tidak mau David seperti itu terus. Aku mau David yang dulu aku kenal. Dila tidak tau kan, David yang sekarang juga seorang coverboy. Dulu dia hanya dari keluarga biasa-biasa. Kerjaanya hanya becak sepeda kayuh."


"Benarkah Kak?" tanya Dila sambil melihat Vian.


"Benar. Karena kegigihan dia dan dia mau melihatkan ke Sita kalau dia bisa meraih mimpinya. Dia ingin perjuangan bersama Sita bisa dirasakan bersama-sama dan menikahi Sita. Itu kata David saat terakhir kami bertemu, sebelum aku melanjutkan pendidikan ke luar negeri."


"Tragis juga kisah David ya Kak. Kasihan benar. Dibalik sifat yang dingin ternyata menyimpan sesuatu yang menyakitkan."


"Ya begitulah. Ya sudah, yok kita pulang ke rumah. Sudah mau petang," Vian lalu berdiri.


"Yok Kak," Dila pun juga berdiri.


Mereka berdua pun langsung menuju pulang ke rumah. Dila yang melihat Vian tidak lagi cemas dan terbeban pikiran. Dila menjadi tenang.


Saat mereka sampai ke dalam rumah. Vian mengambil kopernya dan membawak ke kamar tidur. Dirinya pun segera mandi.


Setelah mandi. Vian lalu menuju ke ruang dapur dan segera makan. Dila yang baru saja turun dari lantai dua menuju ke dapur. Dila melihat Vian makan.


"Kak sudah di sini ternyata," ucap Dila sambil duduk.


"Baru saja Kak di sini. Yok ikut makan. Sudah lama kita tidak makan berdua."


"Gayamu lagi Kak bilang gituan. Kalau makan di luar wajar. Ini cuma makan di rumah berdua, bilang seperti itu. Tidak etis," ucap Dila dengan raut muka yang mengejek Vian.


Vian yang mendengar perkataan Dila. Dirinya pun tertawa.


"Iya besok malam kita makan ke restoran berdua deh," ucap Vian sambil tersenyum.


"Beneran Kak?" Dila sangat semangat dengan pertanyaannya.


"Iya beneran. Ya sudah yok lanjut makan."


Dila lalu mengambil makanannya dan segera makan bersama dengan Vian.

__ADS_1


Mohon bantuan likenya kakak agar authors bisa lebih semangat untuk memperkarya novel ini dan agar authors juga bisa lebih memperpanjang alur kisah kenangan sedih. Mohon saling suportnya Kak 😁😁


__ADS_2