KENANGAN SEDIH

KENANGAN SEDIH
BAGIAN 37 BROSUR AUDISI


__ADS_3

Di sang hari. Riana sedang membersihkan meja kedainya. Tiba-tiba Rentenir datang ke kedai intan.


"Maaf Pak. Mau pesan apa?" tanya Riana sambil mempersilahkan duduk.


"Kami tidak perlu basa basi. Kami mau memintak uang cicilan mingguannya..!!" jawab rentenir itu yang membuat Riana tidak mengerti.


"Uang apa Pak? Seingat saya, kami tidak ada hutang. Mungkin Bapak salah tempat."


Tiba-tiba rentenir itu melihatkan perjanjian hutang ke Riana. Riana pun kaget dengan surat itu. Ibu Riana meminjam uang tampa cerita ke Riana.


Ibu minjam uang sebanyak ini. Untuk apa. Apa jangam-jangan untuk pembiayaan kedai ini?. Gumam Riana dalam hatinya.


"Hoi..!! bengong saja kamu. Mana Ibumu?" rentenir itu membentak Riana yang membuat Riana terkejut.


"Ibu saya tidak di rumah. Dia tadi pergi berbelanja."


"Jangan bohong kamu, atau saya acak ni kedai?" sambil mengancam Riana.


"Saya tidak bohong," tubuh Riana pun mengigil ketakutan.


"Ya sudah kami beri kelongaran. Besok kami datang lagi. Ingat untuk kasih tau kalau kami alan datang besok."


Rentenir itu pun pergi meninggalkan kedai Riana. Namun tubuh Riana masih mengigil karena sedikit takut. Riana pun duduk menunggu ibunya pulang.


Tidak beberap lama, ibu Riana pulang. Ibunya melihat Riana duduk. Riana lalu berdiri dan mendekati ibunya.


"Bu jawab jujur? Ibu ada hutang ke rentenir. Dia tadi kesini dan menanyakan Ibu. Jadi karena ibu tidak ada. Dia besok akan datang lagi," jawab Riana yang seakan masih ketakutan.


"Maaf Riana. Ibu sebenarnya tidak ingin kamu tau. Tapi itu benar. Uang kita semakin menipis Riana. Jadi Ibu minjam untuk biaya kita dan untuk biaya kedai ini."


"Tapi Ibu bisakan ceritakan dulu. Jadi Riana bisa mencari kerja di kota," Riana yang mengucapkan dengan sedikit kesal.


"Tidak apa-apa. Nah ambil belanja ini dan masukkan ke kulkas," ibu Riana mengalihkan pembicaraan.


Riana pun menuruti kata ibunya dan memasukkan barang belanja. Riana cemas kalau ibunya berurusan dengan rentenir.


Saat Riana menghidupkan tv kecil di kedainya. Tiba-tiba sebuah iklan menayangkan sebuah lomba audisi dari perusahaan RMD. Riana pun dengan fokus melihat iklan tersebut. Tiba-tiba ibunya mematikan tv.


"Bu kenapa dimatikan?" tanya Riana sambil cemberut.


"Udah jangan berhayal yang tidak-tidak dengan nyanyian atau apalah yang berhubungan dengan nyanyian," cetus ibu Riana.

__ADS_1


Riana hanya sedikit kecewa karena belum sempat melihat iklan audisi tersebut.


Hari menjelang sore. Riana yang sedang siap-siap menup kedai dengan ibunya. Tiba-tiba Kevin datang dengan mengendarai sepedanya.


"Riana. Sudah mau tutupkah?" tanya Kevin sekalian turun dari sepedanya dan masuk kedalam kedai Riana.


"Iya Vin. Ada apa Vin?" Riana melihat ke arah Kevin.


Kevin yang melihat ibu Riana yang menyapu. Saat ibu Riana tidak memperhatikan Riana dan Kevin. Saat itu Kevin langsung diam-diam memasukkan sebuah brosur ke dalam saku celana Riana. Riana yang melihat Kevin. Mevin hanya mengisyaratkan untuk diam. Riana pun diam.


Setelah Memasukkan brosur. Kevin lalu pamit. Setelah selesai beres-beres dan menutup kedai. Riana dan Ibunya pulang.


Saat telah sampai di rumah. Riana segera ke kamar lalu menutup pintu kamar. Riana yang sudah merasa aman. Riana lalu membuka brosur yang dibagikan Kevin ke Riana.


Riana membaca brosur tersebut.


"Silahkan berpatisipasi dalam audisi mencari bakat suara baru untuk album seberkas cahaya. Tanggal pendaftaran 3 Maret dan gratis dan hadiahnya sangat besar," Riana terkejut dengan hadiah jika menang, lalu menuju kalender dan melihat tanggal 3.


"tiga hari lagi. Aku harus ikut audisi itu dan aku bisa membantu Ibu membayar hutang-hutangnya. Aku harus buktikan ke Ibu kalau nyanyi bukan khayalan. Tapi gimana caranya aku bisa kesana. waktu hanya tiga. Belum lagi alasan aku ke sana dan waktu ke sana juga memakan hari," Riana pun jadi bingung.


Hari pun berganti. Sisa audisi tinggal dua hari lagi. Riana semakin panik. Lalu Riana ingat kalau Vian pernah mengasih kartu nama. Riana mengambil kartu tersebut dalam laci meja kamarnya.


Setelah dapat. Riana pergi keluar. Saat itu hanya dirinya sendiri di rumah yang baru selesai beres-beres. Riana mengambil sepeda dan segera pergi.


***


Dalam suasana kantor Vian. Vian yang sedang duduk dengan clientnya, tiba-tiba ponselnya Vian berbunyi. Vian yang menghentikan pembicaraan dengan client dan melihat ponselnya. Awalnya Vian tidak mau mengangkat karena nomor yang tidak dikenal, tapi karena nomor tersebut menelvon dua kali. Akhirnya Vian mengangkatnya.


"Halo. Dengan siapa saya berbicara?" tanya Vian sedangkan clientnya hanya memperhatikan Vian berbicara di televon.


"Maaf menganggumu Vian. Ini saya Riana."


"Riana. Kamu menggunakan televon umum?" tanya dan segera keluar dari ruangan.


"Ada apa Riana."


"Mau nanya. Riana mau mengikuti audisi menyanyi di perusahaan tempatmu bekerja Vian."


"Benarkah itu Riana. Saya senang mendengarnya."


"Tapi.."

__ADS_1


"Tapi kenapa?" tanya Vian dengan heran.


"Tapi aku bisa pergi sore. Kalau sore bus tidak akan ada lagi."


"Hmm. sangka apa. Ya udah besok saya jemput."


"Tapi Vian bukan itu maksud Riana televon. Tapi mau menanyakan alamat perusahaan RMD dimana."


"Sudah tenang aja. Besok aku yang mengatur. Besok aku yang mejemputmu."


"Ngak Vian. Jangan macam-macam deh. Aku tidak akan datang kalau gitu," Riana beralasan begitu karena tidak mau menganggu pekerjaan Vian.


"Ok..Ok kalau begitu Riana. Besok aku suruh supirku untuk menjemputmu tepat di penginapan saat aku menunggumu."


"Baiklah Vian. Makasih ya," jawab Riana dengan senang.


Saat Riana mematikan televonnya. Vian kembali ke tempat clientnya dan melanjutkan pembicaraan mereka.


***


Dalam lokasi tempat Riana. Terlihat Riana begitu senang. Tapi Riana harus memikirkan cara bagaimana untuk bisa dapat alasan dari ibunya agar bisa pergi.


"Kalau bilang ikut lomba pasti Ibu akan memarahiku sejadi-jadinya," kata Riana berbicara sendiri.


"Hoi. bengong aja kalau lagi jalan."


Riana pun terkejut dan mengarahkan mukanya ke arah datangnya suara tersebut. Ternyata itu adalah Kevin.


"Kamu mengejutkanku Vin," kata Riana yang melihat Kevin.


"Haha. Habisnya dirimu melamun aja sambil jalan," Kevin menuju ke arah Riana.


"Kamu lagi mikirin apa sih Riana?" tanya Kevin.


"Ini. Aku mau ikut lomba nyanyi yang kamu kasih kemarin. Tapi apa alasanku ke Ibu. Sudah jelas Ibu tidak suka aku menyanyi. Oh iya, makasih ya Vin sudah memberikan brosur itu," jawab Riana sambil senyum.


"Soal Ibumu aku yang atur. Tidak usah cemas dengan hal gitu. Iya sama-sama Riana dan ngomong-ngomong kapan kamu berangkat?" tanya Kevin sambil memasukan kedua tangan ke saku celananya.


"Mungkin besok Vin."


"Ok Riana. Jadi besok mu siap-siap aja. Pasti mu bisa menang. Ok Riana?" tanya Kevin memberikan semangat.

__ADS_1


"Ok Kevin," jawab Riana sambil tersenyum.


Lalu mereka berdua pun pergi dari tempat itu mengarah ke rumah Riana sambil Kevin memboncengi Riana. Karena Sepeda Riana rusak.


__ADS_2