
"Icha bisa Doa sebelum makan nggak sayang"Diani bertanya dengan senyum lembut diwajahnya.
Icha mengangguk dan mengangkat tangannya berdoa "Bissmillahirohmanirrihim, Allohummabariklana fi maa rozakhtana wakina adza bannar,Amiin" Icha menutup doanya dengan mengusap wajahnya dan di ikuti oleh semuanya.
"Pintar sayang,ayo dimakan nak"Ucap Diani dan diangguki oleh Icha.
Setelah selesai makan mereka segera meninggalkan kantin menuju ruang tunggu dokter Abi untuk memeriksa penyakit nenek Ijah.
Tidak lama setelah mereka sampai nama nenek Ijah di panggil, Diani mengikuti nenek Ijah masuk ke dalam ruangan dokter Abi.
"Selamat siang dokter"Sapa Diani.
"Selamat Siang bu Diani,Senang bertemu dengan anda" Dokter Abi tersenyum ramah dan menjabat tangan Diani. Doktet Abi bisa dikatakan dokter pribadi keluarga Rian dan kebetulan Dokter Abi adalah saudara kandung dari Ayah Rian.
"Oh ia Dok, perkenalkan ini nenek Ijah, saya mau periksa beliau" Diani mempersilahkan nenek Ijah duduk.
"Ah, baik silahkan bu, kita periksa dulu" Dokter Abi menunjukkan ranjang pasien dan menyuruh Nenek Ijah berbaring.
Dokter Abi memeriksa detak jantung nenek Ijah, setelah selesai beliau duduk kembali dan meresepkan obat.
"Bagaimana dokter " Diani bertanya dengan dedikit cemas.
__ADS_1
"Tidak apa-apa bu, beliau hanya kecapean dan tensi agak tinggi" Ucap Dokter Abi sambil menyerahkan resep obat yang harus dibawa ke apoteker.
"Baiklah dokter, terima kasih" Ucap Diani sambil mengambil resep yang diberikan dokter Abi.
"Sama-sama, Oh ia Diani sampaikan salam saya kepada Rian "Kata Dokter Abi setelah menyampaikan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh nenek Ijah.
"Baik Om, Saya permisi Assalamulaikum"Ucap Diani sambil berlalu setelah dijawab oleh dokter Abi "Waalaikumsalam".
Diani dan nenek Ijah keluar ruangan kemudian menghampiri Icha dan Rian yang sedang bersenda gurau.
"Eh, sudah dek, ayok kita pulang Icha sudah ngantuk katanya" Rian dengan tersenyum menyambut istrinya dan nenek Ijah.
"Gimana nek, bagaiaman kaymta dokter"Tanya Rian kepada nenek Ijah.
"Alhamdulillah, kalau gitu sekarang kita pulang ya"Ucap Rian sambil menggamdeng Icha.
"Mas tadi om Abi titip salam"Diani menyampaikan amanat dokter Abi kepada Rian.
"Waalaikialaihissalam"Jawab Rian.
Tak terasa perjalanan 20 menit melewati jalan yang rindang, mereka sudah memasuki gerbang besar rumah bergaya eropa milik Rian dan Diani.
__ADS_1
"Ayo nek kita turun" Ujar Diani yang membuat nenek Ijah sedikit tersentak karena masih terpana menatap rumah indah di depannya.
"Masya Allah, rumahnya bagus sekali bu,pak ini beneran saya boleh tinggal disini"Ucap nenek Ijah tidak percaya.
"Ia nek, Mari kita turun, biar saya yang gendong Icha masuk" Rian menimpali nenek Ijah karena Icha telah tertidur 10 menit yang lalu.
Rian menggendong Icha masuk dan Diani menggandeng nenek Ijah "Subhanallah ya Allah, indah sekali pak, buk"Ucap nenek Ijah melongo melihat ruang tamu yang super megah.
Diani dan Rian hanya tersenyum melihat kekaguman nenek Ijah.
"Dek aku antar Icha kekamar dulu ya"Ucap Rian yang dari tadi menggendong Icha yang tertidur.
"Ya udah mas, sekarang tidurin di kamar tamu aja dulu besok biar Icha yang tentuin mau di lantai dua atau satu kamaranya"Ujar Diani dan dibalas anggukan oleh Rian.
"Oh ia nek, yuk mari saya antar ke kamar nenek" Diani membawa nenek ijah ke kamar lantai satu.
"Saya boleh tidur sama Icha aja bu"Ucap nenek ijah.
__ADS_1
"Ya sudah kalau nenek mau tidur sama Icha, mari saya antar"Diani pun membawa nenek Ijah ke kamar tamu dimana Rian menidurkan Icha.
Terlihat Icha sangat nyenyak tertidur di atas kasur, Dianipun tersenyum melihatnya.